kumparan
9 Juni 2018 12:12

Politik Bebas Aktif Indonesia Cacat karena Lebih Memihak Palestina

Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan lama. Tulisan ini sudah pernah ditulis dan dimuat pada masa yang lalu. Meskipun demikian, tulisan ini saya “olah” kembali karena keadaan yang “menggelitik.” Maklum, akhir-akhir ini gencar diberitakan bahwa pemerintah Israel melarang turis Indonesia masuk Israel per 9 Juni 2018.
ADVERTISEMENT
Konon kebijakan ini diterbitkan sebagai balasan atas pelarangan turis Israel masuk ke Indonesia. Karena itu, peristiwa ini mengajak saya mempertanyakan kembali politik luar negeri Indonesia yang “katanya bebas aktif.”
Sewaktu saya belajar di SD, sering saya dengar doktrin politik luar negeri bebas aktif. Bebas artinya tidak memihak suatu blok (tetapi setelah kejatuhan blok komunis, mungkin istilah ini bisa diaktualisasikan dengan “tidak memihak suatu negara tertentu”). Aktif artinya ikut menciptakan keamanan dunia.
Jadi saya kira, menjalankan konsep bebas aktif itu berarti menjadi seperti seorang wasit dalam pertandingan. Sebaliknya, tidak menjalankan berarti menjadi suporter.
ADVERTISEMENT
Sayang sekali, sejauh yang saya lihat dan saya alami, saya kira Indonesia telah menjadi suporter, bukan lagi wasit, karena tidak menjalankan konsep bebas aktif dengan konsekuen.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan