Geopolitik Dunia Mulai Jinakkan Makro Ekonomi dan Pasar Saham Domestik

Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anam Abhilianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Situasi geopolitik saat ini sangat memprihatinkan apabila kita melihat dari sudut pandang ekonomi nasional. Situasi geopolitik saat ini yang cenderung panas menjadi sebab utama hambatan ekonomi dan peningkatan kekayaan nasional. Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, kini sedang berada dalam bayang-bayang krisis moneter seperti yang pernah dialami tahun 1998.
Perang yang terus terjadi di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu sebab terpuruknya suatu ekonomi negara. Perang antara Iran dan Israel serta Amerika Serikat yang ikut campur dengan berpihak secara langsung kepada Israel membuat harga emas dan minyak mentah dunia meningkat secara drastis. Hal ini mengakibatkan pasokan energi dunia terhambat dan meruginya suatu negara akibat berkurangnya pasokan energi yang dimiliki.
Ketahanan Makroekonomi dan Ancaman Dibaliknya
Kondisi makroekonomi Indonesia menurut Badan Pusat StatistiK (BPS) menunjukan resiliensi yang kuat dengan pertumbuhan impresif sebesar 5,61% (yoy) pada Triwulan I-2026. Didorong oleh solidnya konsumsi rumah tangga dan intervensi fiskal, perekonomian nasional tetap stabil, terkendali dari inflasi, serta diproyeksikan tumbuh kuat di kisaran 4,9% hingga 5,7% sepanjang tahun 2026.
Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61% pada Q1-2026 menjadi sinyal baik bagi perekonomian nasional, sebagaian besar perekonomian yang terjadi ditopang oleh sektor Akomodasi dan rumah tangga. Inflasi yang tetap terkendali dan berada di rentang target yang sehat, tercatat di angka 2,42% (y-on-y) per April 2026, didukung oleh ketahanan pasokan pangan domestik.
Tetapi ketahanan suatu ekonomi negara memiliki ancaman nyata, konflik global yang terjadi memaksa indikator ekonomi makro suatu negara melambat. Dampaknya pertumbuhan ekonomi (PDB) melambat, inflasi naik karena rantai pasok global terganggu, dan nilai tukar Rupiah semakin melemah. Ekonomi yang sebelumnya bergerak "liar" (tumbuh positif) terpaksa tunduk dan melambat akibat tekanan eksternal. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar pada masyarakat, "Akan sampai kapan ketahanan ekonomi ini terus berlangsung?". Sayangnya tidak ada data pasti yang bisa digunakan sebagai acuan untuk mengetahui kepastian ketahanan ekonomi.
Terpuruknya Pasar Saham Indonesia
Pasar modal Indonesia kini tengah menghadapi ujian terberatnya tahun ini. Fenomena geopolitik global dan pengetatan likuiditas asing memicu aksi jual masaal (panic selling) yang melumpukan IHSG. Penuruan yang terjadi di berbagai sektor bukan lagi sekedar dinamika pasar biasa, melainkan cerminan dari rapuhnya sentimen investor domestik terhadap hantaman eksternal.
IHSG yang dibuka menguat pada awal tahun dan berada pada posisi tertingginya di angka 9.134,70 mulai membuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indoneia meningkat. IHSG mulai mengalami penuruan akibat kebijakan rebalancing indeks MSCI. Hal ini menimbulkan aksi ambil untung (profit taking) investor yang mengakibatkan turunnya nilai IHSG secara berkala. Koreksi berkelanjutan mulai terjadi sepanjang bulan Maret sampai dengan Mei yang diakibatkan geopolitik dunia yang semakin memanas.
Penuruan IHSG terus terjadi akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Pelemahan Rupiah tercatat mencapai angka 18.095,70 pada Minggu, 8 Juni 2026. Sampai dengan Juni 2026 nilai tukar Rupiah turun sebanyak 9,40%. Angka ini jelas melebihi penuruan pada tahun 2025 sebanyak 9,38% sepanjang tahun. Penurunan Rupiah pada tahun 2026 terjadi akibat konflik global dan tensi politik dunia yang membuat investor cenderung mengamankan aset mereka ke dalam bentuk mata uang yang dianggap paling aman (safe haven).
Penurunan juga terjadi akibat sentiman pasar dan defisit anggaran. Dimana asing menarik dana atau modal investasi mereka dari dalam negeri akibat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global. Perbedaan tingkat inflasi antara Indonesia dan negara mitra dagang, serta defisit fiskal yang dapat mengurangi kepercayaan pasar terhadap mata uang Rupiah.
Pada akhirnya, masyarakat Indonesia hanya bisa berharap jika nilai tukar rupiah tidak terus menurun. Hal ini didasari oleh respon Bank Indonesia (BI) secara resmi menaikan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kenaikan yang diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur ini bertujuan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah gejolak global dan menekan risiko lonjakan inflasi (imported inflation).
