Konten dari Pengguna

Ketika Hidup Menjadi Sebuah Pertunjukan di Era Media Sosial

Ana Marchella Septiani

Ana Marchella Septiani

Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ana Marchella Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto dibuat oleh Penulis (Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Foto dibuat oleh Penulis (Canva)

Sebelum tidur, banyak orang memeriksa siapa saja yang melihat story mereka. Hal sederhana itu sering dilakukan tanpa sadar, seolah sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Dari kebiasaan kecil tersebut, terlihat bahwa manusia ternyata senang ketika dirinya diperhatikan oleh orang lain.

Keinginan untuk diperhatikan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Sejak dulu manusia hidup berdampingan dengan manusia lain. Setiap orang ingin didengar ketika berbicara, ingin dipahami ketika sedih, dan ingin dihargai ketika berhasil melakukan sesuatu. Namun, di era media sosial seperti sekarang, keinginan tersebut terasa semakin besar. Media sosial membuat manusia bisa menunjukkan kehidupannya kepada banyak orang hanya dalam hitungan detik. Apa yang dimakan, tempat yang dikunjungi, suasana hati, bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari kini dapat dibagikan dengan mudah.

Tanpa disadari, media sosial membuat kehidupan manusia seperti sebuah pertunjukan. Setiap orang menjadi penonton sekaligus pemain di waktu yang bersamaan. Manusia melihat kehidupan orang lain setiap hari, lalu tanpa sadar juga ingin kehidupannya dilihat oleh orang lain.

1. Media Sosial Membuat Manusia Ingin Selalu Terlihat

Di zaman sekarang, banyak aktivitas sehari-hari yang akhirnya berakhir di media sosial. Ketika pergi ke tempat baru, banyak orang ingin mengunggah foto. Ketika berhasil menyelesaikan sesuatu, muncul keinginan untuk membagikannya kepada orang lain. Bahkan saat menemukan makanan enak atau menikmati suasana tertentu, ada dorongan untuk mendokumentasikan dan mengunggahnya.

Awalnya kebiasaan tersebut terlihat biasa saja. Akan tetapi, semakin lama media sosial perlahan mengubah cara manusia menikmati hidup. Banyak orang tidak lagi hanya melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk dilihat oleh orang lain. Tidak sedikit yang merasa sebuah momen kurang lengkap jika tidak diunggah ke media sosial. Padahal, sebuah kebahagiaan seharusnya tetap terasa nyata meskipun tidak diketahui banyak orang.

Media sosial akhirnya menjadi tempat di mana manusia berlomba-lomba menunjukkan sisi terbaik hidupnya. Ada yang mengunggah pencapaian, hubungan pertemanan, liburan, barang baru, hingga kebahagiaan yang sedang dirasakan. Hal tersebut sebenarnya tidak salah karena setiap orang tentu ingin berbagi cerita tentang hidupnya. Namun, tanpa disadari kebiasaan tersebut membuat banyak orang ingin selalu terlihat sempurna.

Hampir semua orang ingin terlihat bahagia, produktif, menarik, dan berhasil. Jarang sekali ada yang memperlihatkan rasa gagal, kecewa, atau lelah yang sebenarnya dirasakan. Akibatnya, media sosial sering dipenuhi oleh kehidupan yang tampak sempurna, meskipun kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Keadaan tersebut membuat banyak orang mulai terlalu memikirkan bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain. Ada yang ingin terlihat sibuk, terlihat kuat, dan terlihat selalu baik-baik saja. Ketika unggahan mendapat banyak respons, muncul rasa senang dan puas karena merasa diperhatikan. Sebaliknya, ketika respons yang didapat tidak sesuai harapan, muncul rasa kecewa tanpa alasan yang benar-benar jelas.

Dari situ terlihat bahwa tanpa disadari, penilaian orang lain perlahan mulai memengaruhi perasaan manusia.

2. Perhatian dari Orang Lain Perlahan Menjadi Kebutuhan

Pada dasarnya, kebutuhan untuk diperhatikan memang manusiawi. Tidak ada orang yang benar-benar ingin merasa sendirian atau tidak dianggap ada. Semua orang pasti ingin dihargai dan diterima oleh lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, masalah mulai muncul ketika perhatian dari orang lain menjadi sumber utama kebahagiaan.

Media sosial membuat banyak orang terbiasa mendapatkan validasi secara cepat. Dalam beberapa menit setelah mengunggah sesuatu, seseorang bisa langsung mengetahui berapa jumlah likes, komentar, viewers, atau respons yang diterima. Tanpa sadar, angka-angka tersebut mulai memengaruhi perasaan manusia.

Sedikit demi sedikit, perhatian dari orang lain terasa seperti ukuran nilai diri seseorang. Banyak orang merasa lebih percaya diri ketika mendapat banyak respons di media sosial. Sebaliknya, ada juga yang merasa kecewa ketika unggahannya tidak mendapatkan perhatian seperti yang diharapkan. Padahal sebenarnya tidak ada yang berubah dari diri mereka.

Hal seperti itu akhirnya membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat menarik agar tetap diperhatikan. Ada yang merasa harus selalu produktif, harus selalu tampil bahagia, atau harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal. Padahal kenyataannya, manusia tidak mungkin selalu berada dalam kondisi baik setiap saat.

Salah satu hal yang paling melelahkan dari media sosial adalah kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hampir setiap hari manusia melihat kehidupan orang lain melalui layar ponsel. Ada teman yang terlihat lebih sukses, lebih aktif, lebih cantik, atau lebih bahagia. Tanpa sadar, hal tersebut membuat banyak orang merasa hidupnya kurang menarik dibandingkan hidup orang lain.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan sebenarnya. Banyak orang hanya memperlihatkan bagian hidup yang ingin dilihat orang lain. Kesedihan, rasa takut, kegagalan, dan rasa lelah sering kali disembunyikan karena dianggap tidak menarik untuk diperlihatkan.

Namun tetap saja, sulit untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Media sosial membuat manusia terus melihat kehidupan orang lain setiap hari sampai akhirnya lupa menghargai hidupnya sendiri.

Banyak orang akhirnya merasa takut dianggap gagal, takut dianggap tidak menarik, dan takut tidak diperhatikan lagi. Akibatnya, manusia menjadi lelah karena terus berusaha memenuhi ekspektasi orang lain.

Tidak sedikit orang yang terlihat sangat bahagia di media sosial, selalu tersenyum dan aktif membagikan kehidupannya. Akan tetapi, kenyataannya mereka juga bisa memiliki banyak masalah yang tidak diketahui orang lain. Dari situ terlihat bahwa media sosial memang tidak selalu menunjukkan kenyataan yang sebenarnya.

3. Tidak Semua Hal Harus Dibagikan kepada Orang Lain

Semakin lama, semakin banyak orang mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus diumumkan kepada banyak orang. Ada beberapa momen yang justru terasa lebih tenang ketika dinikmati sendiri tanpa harus diunggah ke media sosial.

Di era sekarang, manusia sudah terlalu terbiasa membagikan banyak hal. Ketika pergi ke suatu tempat, keinginan pertama yang muncul sering kali adalah mengambil foto. Ketika menikmati sesuatu yang menyenangkan, muncul dorongan untuk segera mengunggahnya. Padahal, tidak semua momen harus selalu diperlihatkan kepada orang lain.

Ada perasaan tenang yang berbeda ketika menikmati sesuatu tanpa perlu mendapatkan perhatian dari banyak orang. Sebuah momen tetap berharga meskipun tidak dilihat banyak orang. Sebuah kebahagiaan tetap terasa nyata meskipun tidak mendapatkan likes atau komentar.

Perlahan, semakin banyak orang mulai memahami bahwa nilai diri seseorang sebenarnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak perhatian yang didapat di media sosial. Seseorang tidak menjadi lebih berharga hanya karena memiliki banyak pengikut atau mendapat banyak pujian. Begitu juga sebaliknya, seseorang tidak menjadi gagal hanya karena hidupnya tidak selalu diperhatikan orang lain.

Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Media sosial tetap memiliki banyak manfaat. Manusia bisa mencari informasi, menemukan hiburan, berbagi cerita, bahkan mendapatkan dukungan dari orang lain. Akan tetapi, media sosial tetap hanyalah bagian kecil dari kehidupan manusia, bukan seluruh kehidupan itu sendiri.

Pada akhirnya, manusia memang akan selalu memiliki keinginan untuk dilihat dan diperhatikan. Itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, manusia juga perlu belajar agar tidak sepenuhnya menggantungkan kebahagiaan pada penilaian orang lain. Sebab jika hidup hanya dijalani untuk mencari perhatian, maka rasa kurang dan tidak puas akan terus muncul.

Tidak apa-apa jika sesekali ingin diperhatikan, didengar, dan dipahami. Akan tetapi, manusia juga perlu belajar merasa cukup meskipun tidak selalu menjadi pusat perhatian. Karena kebahagiaan yang sebenarnya bukan berasal dari banyaknya orang yang melihat kehidupan seseorang, melainkan dari kemampuan untuk merasa tenang dengan diri sendiri.

Mungkin manusia memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari keinginan untuk dilihat. Namun setidaknya, manusia masih bisa memilih untuk tidak kehilangan dirinya sendiri hanya demi mendapatkan perhatian dari orang lain. Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang menjadi pusat perhatian semua orang, melainkan tentang bagaimana seseorang bisa hidup dengan jujur dan nyaman sebagai dirinya sendiri.