Konten dari Pengguna

Kuliah Online: Fleksibel, tetapi Kurang Efektif?

Ana Marchella Septiani

Ana Marchella Septiani

Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ana Marchella Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto dibuat oleh Penulis (Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Foto dibuat oleh Penulis (Canva)

Perkembangan teknologi membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Saat ini, proses belajar tidak lagi harus selalu dilakukan di ruang kelas. Mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dari rumah hanya dengan menggunakan laptop atau telepon genggam yang terhubung ke internet. Kehadiran sistem pembelajaran online membuat pendidikan menjadi lebih fleksibel dan mudah diakses oleh banyak orang.

Di Indonesia, penggunaan pembelajaran online semakin meningkat setelah pandemi COVID-19. Banyak perguruan tinggi mulai menggunakan platform digital untuk kegiatan belajar mengajar, mulai dari penyampaian materi, diskusi, hingga pengumpulan tugas. Bahkan beberapa universitas, seperti Universitas Terbuka, memang sejak awal menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh berbasis online.

Menurut UNESCO, pandemi membuat sistem pendidikan di berbagai negara mengalami perubahan besar menuju pembelajaran digital. Teknologi dianggap mampu membantu proses pendidikan tetap berjalan meskipun kegiatan tatap muka dibatasi. Akan tetapi, di balik berbagai kemudahan tersebut, pembelajaran online ternyata juga menimbulkan banyak tantangan bagi mahasiswa.

Meskipun terlihat praktis dan modern, pendidikan online belum sepenuhnya efektif bagi mahasiswa. Banyak mahasiswa merasa kesulitan memahami materi karena kurangnya interaksi langsung dengan dosen. Selain itu, sistem pembelajaran online juga membuat mahasiswa dituntut belajar secara mandiri tanpa pengawasan yang ketat. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang menjadi kurang disiplin dan cenderung menunda tugas.

Menurut pendapat penulis, pendidikan online memang memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa, tetapi sistem tersebut belum sepenuhnya efektif karena kurangnya interaksi pembelajaran, rendahnya motivasi belajar, serta penggunaan teknologi seperti artificial intelligence (AI) yang membuat mahasiswa semakin bergantung pada cara instan.

1. Pendidikan Online Memberikan Kemudahan bagi Mahasiswa

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan online memiliki banyak keuntungan. Salah satu keuntungan terbesar adalah fleksibilitas waktu dan tempat. Mahasiswa tidak perlu datang langsung ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Selama memiliki koneksi internet, proses belajar dapat dilakukan dari mana saja.

Sistem pembelajaran online juga membantu mahasiswa yang memiliki kesibukan lain, seperti bekerja atau mengikuti kegiatan di luar kampus. Dengan adanya kelas online, mahasiswa dapat mengatur jadwal belajar dengan lebih fleksibel. Selain itu, biaya transportasi dan pengeluaran sehari-hari juga menjadi lebih hemat dibandingkan kuliah secara tatap muka.

Kemudahan lain dari pembelajaran digital adalah akses materi yang lebih praktis. Materi perkuliahan biasanya tersedia dalam bentuk digital sehingga dapat dipelajari kembali kapan saja. Rekaman kelas, file presentasi, dan modul pembelajaran dapat diakses dengan mudah melalui platform pembelajaran online.

Menurut DataReportal Indonesia 2025, penggunaan internet dan teknologi digital di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan.

Akan tetapi, di balik berbagai kemudahan tersebut, pembelajaran online juga memiliki banyak kekurangan yang memengaruhi efektivitas belajar mahasiswa.

2. Kurangnya Interaksi Membuat Mahasiswa Sulit Memahami Materi

Salah satu masalah terbesar dalam pembelajaran online adalah kurangnya interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa. Dalam pembelajaran tatap muka, mahasiswa dapat langsung mendengarkan penjelasan dosen secara detail. Ketika ada materi yang sulit dipahami, mahasiswa juga bisa langsung bertanya saat itu juga.

Berbeda dengan pembelajaran online, banyak dosen hanya memberikan materi dan tugas tanpa penjelasan yang mendalam. Akibatnya, mahasiswa sering kali harus memahami materi sendiri. Tidak semua mahasiswa mampu belajar secara mandiri dengan baik. Ada mahasiswa yang membutuhkan penjelasan langsung agar lebih mudah memahami materi pembelajaran.

Kurangnya interaksi juga membuat suasana belajar terasa kurang hidup. Dalam kelas offline, mahasiswa biasanya lebih fokus karena berada di lingkungan belajar yang mendukung. Dosen juga dapat mengawasi mahasiswa secara langsung sehingga proses pembelajaran terasa lebih terarah.

Sementara itu, dalam pembelajaran online mahasiswa lebih mudah kehilangan fokus. Banyak gangguan yang dapat mengalihkan perhatian, seperti media sosial, game, atau lingkungan rumah yang kurang kondusif. Akibatnya, mahasiswa sering mengikuti kelas hanya sekadar hadir tanpa benar-benar memahami materi yang disampaikan.

Selain itu, komunikasi antara dosen dan mahasiswa menjadi lebih terbatas. Tidak semua mahasiswa merasa nyaman bertanya melalui chat atau forum online. Beberapa mahasiswa justru memilih diam ketika tidak memahami materi. Hal tersebut akhirnya membuat proses pembelajaran menjadi kurang efektif.

3. Pendidikan Online Membuat Mahasiswa Cenderung Menunda Tugas

Masalah lain dalam pembelajaran online adalah rendahnya disiplin belajar mahasiswa. Sistem pembelajaran online biasanya memberikan tenggat waktu tugas yang cukup panjang. Sekilas hal tersebut terlihat menguntungkan karena mahasiswa memiliki waktu yang lebih fleksibel. Namun kenyataannya, banyak mahasiswa justru menjadi terbiasa menunda pekerjaan.

Ketika tidak ada pengawasan langsung dari dosen, rasa malas sering muncul. Mahasiswa merasa masih memiliki banyak waktu sehingga tugas terus ditunda sampai mendekati deadline. Akibatnya, tugas dikerjakan secara terburu-buru tanpa benar-benar memahami isi materi pembelajaran.

Berbeda dengan kuliah offline, mahasiswa cenderung lebih disiplin karena harus datang ke kelas dan mendengarkan penjelasan dosen secara langsung. Kehadiran fisik di ruang kelas secara tidak langsung membuat mahasiswa lebih fokus terhadap proses belajar.

Dalam pembelajaran online, mahasiswa dituntut memiliki kesadaran belajar yang tinggi. Akan tetapi, tidak semua mahasiswa mampu menjaga konsistensi belajar secara mandiri. Banyak mahasiswa akhirnya hanya fokus menyelesaikan tugas tanpa benar-benar memahami tujuan pembelajaran.

Kondisi tersebut juga menyebabkan mahasiswa mudah merasa jenuh dan kehilangan motivasi belajar. Aktivitas belajar yang dilakukan terus-menerus melalui layar membuat proses pembelajaran terasa monoton dan melelahkan.

4. Penggunaan AI Membuat Mahasiswa Semakin Bergantung pada Cara Instan

Perkembangan teknologi saat ini juga membawa tantangan baru dalam dunia pendidikan, yaitu penggunaan artificial intelligence (AI). Kehadiran AI memang memberikan banyak manfaat karena dapat membantu mahasiswa mencari informasi, merangkum materi, bahkan menyusun jawaban tugas dengan cepat.

Namun, penggunaan AI yang berlebihan justru dapat membuat mahasiswa menjadi kurang berpikir kritis. Banyak mahasiswa mulai terbiasa mencari jawaban instan tanpa berusaha memahami materi terlebih dahulu. Akibatnya, tugas kuliah hanya dianggap sebagai formalitas untuk mendapatkan nilai, bukan sebagai proses belajar.

Dalam pembelajaran online, penggunaan AI menjadi lebih sulit diawasi karena dosen tidak dapat memantau proses pengerjaan tugas secara langsung. Hal tersebut membuat sebagian mahasiswa menjadi lebih bergantung pada teknologi dibandingkan kemampuan berpikirnya sendiri.

Jika kondisi ini terus terjadi, kualitas pembelajaran mahasiswa bisa menurun. Mahasiswa mungkin mampu menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi pemahaman terhadap materi justru semakin berkurang. Padahal tujuan utama pendidikan bukan hanya menyelesaikan tugas, melainkan membangun kemampuan berpikir, menganalisis, dan memecahkan masalah.

Karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan seharusnya hanya dijadikan sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir mahasiswa.

Pada akhirnya, pendidikan online memang memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa, terutama dalam hal fleksibilitas waktu dan akses pembelajaran. Akan tetapi, sistem pembelajaran tersebut belum sepenuhnya efektif karena masih memiliki banyak kekurangan, seperti kurangnya interaksi langsung, rendahnya disiplin belajar mahasiswa, serta ketergantungan terhadap teknologi dan AI.

Pembelajaran tatap muka tetap memiliki peran penting karena membuat mahasiswa lebih fokus dan aktif dalam memahami materi. Interaksi langsung dengan dosen juga membantu mahasiswa lebih mudah bertanya dan berdiskusi ketika mengalami kesulitan belajar.

Oleh karena itu, pendidikan online sebaiknya tidak sepenuhnya menggantikan pembelajaran offline. Sistem pembelajaran yang menggabungkan teknologi dengan interaksi langsung mungkin dapat menjadi solusi yang lebih efektif bagi mahasiswa di era digital saat ini. Dengan begitu, teknologi tetap dapat dimanfaatkan tanpa mengurangi kualitas proses belajar mahasiswa.