Konten dari Pengguna

FOMO Positif Jadi Pemicu Utama Tren Lari di Kalangan Gen Z

ANANDA AYU DIAH ASTUTI

ANANDA AYU DIAH ASTUTI

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ANANDA AYU DIAH ASTUTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto remaja perempuan berlari | Sumber: Ananda Ayu Diah Astuti
zoom-in-whitePerbesar
Foto remaja perempuan berlari | Sumber: Ananda Ayu Diah Astuti

Tren lari di kalangan Gen Z terus meningkat. Fenomena ini banyak dipicu oleh FOMO positif, yaitu dorongan untuk ikut berlari setelah melihat unggahan teman atau komunitas di media sosial. Meski berawal dari ikut tren, kebiasaan ini terbukti membawa dampak baik bagi kesehatan fisik dan mental remaja.

Data dari Indonesia Running Club menunjukkan bahwa pada 2023, 68% pelari di Jakarta dan Bandung mengaku mulai berlari karena tren media sosial yang menampilkan lari sebagai gaya hidup sehat dan modis. Temuan ini kembali disorot dalam laporan JawaPos.com pada 2025 yang menyoroti semakin masifnya pengaruh tren digital terhadap pilihan olahraga anak muda.

Fenomena ini juga dirasakan oleh Nisa (16), pelajar yang mulai berlari karena faktor lingkungan. “Fomo,” jawabnya singkat saat ditanya alasan memulai. Kini ia rutin berlari sekali seminggu dan merasakan tubuhnya menjadi lebih kuat. “Tambah kuat,” katanya.

Meski tren lari identik dengan berkelompok, Nisa memilih lari sendiri. “Kalau bareng teman pacenya kenceng, saya tidak kuat. Sendiri lebih bisa menyesuaikan daya tahan,” jelasnya. Ia juga menilai FOMO lari sebagai hal positif. “Bagus daripada FOMO pacaran,” candanya.

Sementara itu, Dianty Azahra (16) mengatakan ia mulai berlari karena olahraga ini terasa santai dan menyenangkan. Ia berlari 2–3 kali seminggu dan mengaku FOMO media sosial sangat memengaruhi keputusannya. “YESS! Banget!” ujarnya. Setelah rutin berlari, ia merasa tubuhnya lebih ringan dan napas lebih stabil.

Berbeda dengan Nisa, Dianty lebih suka lari bersama teman. “Lebih seru, ada teman ngobrol biar nggak kayak anak hilang,” katanya. Ia menilai FOMO lari adalah tren yang baik. “Makin banyak yang FOMO, makin banyak orang hidup sehat.”

Kisah keduanya menunjukkan bahwa FOMO tidak selalu berdampak negatif. Di tangan Gen Z, FOMO justru menjadi pemicu lahirnya gaya hidup sehat dan aktif. Dengan media sosial yang terus mendorong aktivitas olahraga, tren lari diprediksi tetap menjadi salah satu gaya hidup favorit anak muda.