Tantowi Akui Posisinya sebagai Dubes Jadi Jatah Golkar

Siang tadi baru saja Presiden Joko Widodo melantik 17 duta besar untuk negara sahabat. Salah satu yang dilantik adalah politikus Golkar, Tantowi Yahya. Tantowi merupakan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar.
Tantowi mengakui bahwa pemilihannya sebagai Dubes ada kaitannya dengan masuknya Golkar ke dalam pemerintahan. Menurut dia, wajar saja jika sebagai pendukung pemerintah Golkar mendapat jatah menteri atau dubes.
"Karena sudah menjadi partai pendukung pemerintah, Golkar memiliki hak yang sama dengan parpol-parpol lain yang sudah lebih dulu bergabung. Termasuk Partai Golkar mendapatkan jatah seorang menteri, Menteri Perindustrian, Golkar dapat jatah juga sebagai dubes," kata Tantowi seusai dilantik di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (13/3).
Tantowi menyebut bahwa awalnya Golkar berada di koalisi Merah Putih, di luar pemerintahan sebagai penyeimbang. Namun, dengan adanya dinamika politik yang ada, Golkar keluar dari Koalisi Merah Putih dan mendukung pemerintah. Maka, tidak aneh jika kemudian Golkar mendapatkan jatah dari pemerintah karena sudah mendukung.
Ia juga dengan bangga mengatakan bahwa ia merupakan anggota Golkar pertama yang jadi dubes di era Presiden Jokowi. Menurut Tantowi juga, penunjukkan dirinya sebagai dubes merupakan andil dari partai. Ia menyebut Novanto yang mengajukannya sebagai dubes kepada Presiden.
"Dari partai, Pak Setnov, disetujui presiden dan dikirim ke DPR untuk uji kepatutan dan kelayakan," katanya.
Namun, kata dia, andil dari partai tidak akan berarti tanpa restu Presiden Jokowi.
"Bahkan UUD mengamanatkan lebih besar lagi dari itu, dubes itu representasi presiden, negara, dan rakyat Indonesia. Tapi tetap harus seizin presiden. Bergabung di pemerintah sekalipun kalau presiden enggak mau, ya enggak mau, tidak terjadi," imbuh Tantowi.
