Konten dari Pengguna

KKN UNAIR Hadirkan Nomor Rumah Desa di Sidomulyo

Ananda Alvin Bernerdian Hartono

Ananda Alvin Bernerdian Hartono

Mahasiswa Universitas Airlangga 2022 prodi Teknologi Sains Data

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ananda Alvin Bernerdian Hartono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gresik – Di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, puluhan rumah warga kini memiliki wajah baru. Bukan karena renovasi atau pengecatan, tapi karena sebuah pelat kecil yang menempel rapi di dinding depan rumah mereka: nomor rumah resmi, lengkap dengan RT/RW dan alamat administrasi lainnya.

Pemasangan nomor rumah di Desa Sidomulyo, Sidayu, Gresik , Jawa Timur, Selasa (22/7/2025). Foto: KKN BBK 6 Universitas Airlangga
zoom-in-whitePerbesar
Pemasangan nomor rumah di Desa Sidomulyo, Sidayu, Gresik , Jawa Timur, Selasa (22/7/2025). Foto: KKN BBK 6 Universitas Airlangga

Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat sepele. Tapi bagi warga dan pemerintah desa, ini adalah lompatan besar. Pasalnya, selama bertahun-tahun, banyak rumah di Sidomulyo belum memiliki nomor rumah tetap. Akibatnya, pengiriman barang sering tersesat, tamu kebingungan, bahkan pendataan kependudukan pun tidak maksimal.

Kondisi ini jadi perhatian serius bagi Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) BBK 6 Universitas Airlangga. Melihat adanya celah yang belum mampu dijangkau pemerintah desa—karena terbentur regulasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes)—mahasiswa hadir dengan solusi mandiri: program “Nomor Kehidupan”.

“Penomoran rumah sebenarnya penting, tapi tidak bisa dianggarkan lewat APBDes karena tidak masuk skema prioritas penggunaan dana desa,” ujar Mohammad Habib, perwakilan perangkat desa.

Program “Nomor Kehidupan” dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Tim KKN melakukan pendataan rumah-rumah tanpa nomor, berkoordinasi dengan perangkat desa, hingga membuat pelat nomor secara swadaya. Pelatnya terbuat dari triplek ukuran 20x15 cm, dicat putih, lalu ditempeli stiker berisi informasi lengkap: nomor rumah, RT/RW, nama jalan, nama desa hingga kecamatan dan kabupaten.

Menariknya, pelat itu juga mencantumkan imbauan bagi setiap tamu untuk melapor dalam waktu 1x24 jam kepada Ketua RT atau RW setempat. Sebuah langkah kecil yang punya implikasi besar dalam memperkuat kontrol sosial dan keamanan lingkungan.

Dari sisi warga, responnya sangat positif. Tak sedikit yang merasa lebih dihargai karena kini rumah mereka punya identitas jelas. Selain memudahkan kurir dan tamu, nomor rumah ini juga jadi dasar penting untuk keperluan administrasi, bantuan sosial, dan validasi data kependudukan.

“Nomor rumah ini bukan cuma soal estetika, tapi tentang bagaimana sistem administrasi desa bisa lebih tertata. Kalau semua rumah jelas, data warga pun jadi lebih akurat,” kata salah satu anggota tim KKN BBK 6.

Program ini diharapkan tak berhenti sebagai proyek musiman KKN semata. Justru sebaliknya, “Nomor Kehidupan” menjadi prototipe sistem yang bisa direplikasi oleh desa-desa lain yang mengalami kendala serupa. Dengan pendekatan kolaboratif dan swadaya, warga desa bisa ikut ambil bagian dalam membangun sistem yang mereka butuhkan sendiri.

Pada akhirnya, identitas rumah bukan hanya sekadar angka di pelat kecil. Ia adalah representasi dari hak atas pelayanan publik, keteraturan administratif, dan kemajuan desa yang dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar.