Konten dari Pengguna

Literasi Keuangan: Terlihat Kaya di Media Sosial, Benarkah Mapan?

Ananda Miftahul Jannah Ramadhani

Ananda Miftahul Jannah Ramadhani

Mahasiswa Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ananda Miftahul Jannah Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang perempuan melihat gaya hidup mewah di media sosial sambil memikirkan pentingnya mengatur keuangan dengan bijak. Foto : ShutterStock
zoom-in-whitePerbesar
Seorang perempuan melihat gaya hidup mewah di media sosial sambil memikirkan pentingnya mengatur keuangan dengan bijak. Foto : ShutterStock

Literasi keuangan menjadi hal penting di era media sosial. Setiap hari, kita melihat unggahan tentang liburan mewah, barang bermerek, dan gaya hidup yang terlihat sempurna. Namun, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi keuangan seseorang yang sebenarnya. Tanpa pemahaman literasi keuangan yang baik, keinginan mengikuti tren dapat mendorong gaya hidup konsumtif dan membuat pengeluaran sulit dikendalikan.

Melihat seseorang tampil dengan barang mahal atau sering bepergian mungkin membuat kita beranggapan bahwa kondisi keuangannya sangat baik. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keadaan keuangan seseorang secara keseluruhan. Kita hanya melihat bagian kehidupan yang dibagikan, bukan seluruh cerita di baliknya.

Gaya Hidup yang Terlihat Mewah Tidak Selalu Berarti Mapan

Salah satu hal yang menarik dari media sosial adalah kemampuannya membentuk persepsi tentang kesuksesan. Barang bermerek, kendaraan baru, tempat nongkrong populer, dan liburan ke luar negeri sering kali menjadi gambaran kehidupan yang dianggap ideal. Akibatnya, sebagian orang dapat merasa perlu mengikuti gaya hidup tersebut agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitarnya.

Keinginan untuk menikmati hal-hal menyenangkan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Setiap orang berhak menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginan. Namun, persoalan muncul ketika keputusan membeli sesuatu lebih didorong oleh keinginan untuk terlihat mampu daripada mempertimbangkan kondisi keuangan sendiri.

Misalnya, seseorang membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan karena sedang populer di media sosial. Ada pula yang tetap mengikuti tren nongkrong mahal meskipun anggaran bulanannya terbatas. Jika kebiasaan ini terus berulang, pengeluaran dapat meningkat tanpa disadari dan mengganggu kebutuhan yang lebih penting.

Kita juga perlu memahami bahwa penampilan bukan ukuran pasti kesejahteraan finansial. Seseorang yang jarang mengunggah barang mahal belum tentu memiliki kondisi keuangan yang buruk. Sebaliknya, seseorang yang sering menampilkan gaya hidup mewah belum tentu memiliki tabungan yang cukup atau terbebas dari kewajiban utang.

Ketika Keinginan Mengikuti Tren Mengalahkan Prioritas

Fenomena membandingkan diri dengan orang lain dapat memengaruhi cara kita menggunakan uang. Ketika melihat teman membeli ponsel baru atau mengunjungi tempat populer, muncul keinginan untuk melakukan hal serupa. Jika tidak mempertimbangkan kemampuan finansial, keputusan tersebut berisiko membuat pengeluaran melebihi anggaran.

Kemudahan pembayaran digital dan fasilitas kredit juga membuat transaksi terasa lebih praktis. Akan tetapi, kemudahan tersebut tidak menghilangkan kewajiban untuk membayar. Membeli barang menggunakan cicilan atau paylater tetap perlu diperhitungkan karena pembayaran pada masa mendatang dapat mengurangi uang yang tersedia untuk kebutuhan lainnya.

Menurut saya, tantangan terbesar bukan sekadar banyaknya tren yang muncul di media sosial, melainkan kemampuan kita menentukan prioritas di tengah berbagai pengaruh tersebut. Kita perlu membedakan kebutuhan dan keinginan, mengetahui batas pengeluaran, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum membeli sesuatu.

Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua barang yang dimiliki orang lain harus kita beli. Kondisi keuangan setiap orang berbeda, sehingga keputusan finansial yang tepat juga tidak bisa disamakan.

Mengatur Keuangan Lebih Penting daripada Terlihat Mampu

Literasi keuangan menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki, terutama oleh generasi muda yang semakin akrab dengan transaksi digital. Mengelola keuangan tidak harus dimulai dengan pendapatan besar. Kebiasaan sederhana, seperti mencatat pengeluaran, menyusun anggaran bulanan, menyisihkan uang untuk tabungan, dan menyiapkan dana darurat, dapat membantu kita memahami kondisi keuangan sendiri.

Selain itu, sebelum membeli sesuatu, kita dapat membiasakan diri bertanya apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah pembeliannya sesuai anggaran, dan apakah masih ada kewajiban lain yang harus dipenuhi. Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih bijak.

Media sosial juga sebaiknya digunakan sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai standar untuk menilai keberhasilan hidup. Kita boleh menikmati konten tentang perjalanan, fesyen, atau gaya hidup, tetapi tidak perlu memaksakan diri mengikuti semuanya. Keberhasilan finansial tidak harus selalu terlihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, kondisi keuangan yang sehat bukan hanya tentang seberapa mahal barang yang kita miliki atau seberapa sering kita bepergian. Hal yang lebih penting adalah kemampuan memenuhi kebutuhan, mengelola kewajiban, memiliki persiapan untuk keadaan tidak terduga, dan menggunakan uang sesuai kemampuan.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui keseluruhan kondisi keuangan seseorang hanya dari unggahannya. Karena itu, daripada sibuk membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang terlihat di layar, lebih baik kita mulai memperhatikan kondisi keuangan masing-masing. Sebab, terlihat kaya di media sosial dan benar-benar memiliki keuangan yang sehat adalah dua hal yang berbeda.