Pajak di Mata Gen Z: Kewajiban yang Masih Terasa Jauh

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ananda Miftahul Jannah Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar kata “pajak”, mungkin sebagian anak muda langsung membayangkan sesuatu yang rumit, penuh aturan, dan lebih dekat dengan dunia orang yang sudah bekerja. Bagi sebagian Gen Z, pajak masih terasa seperti hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, tanpa disadari, pajak sebenarnya cukup dekat dengan aktivitas kita.
Saat membeli makanan atau minuman, berbelanja barang, menggunakan jasa tertentu, hingga mendapatkan penghasilan, ada berbagai aktivitas yang berkaitan dengan perpajakan. Artinya, pajak bukan hanya persoalan yang harus dipikirkan ketika seseorang sudah memiliki pekerjaan tetap atau menjadi pengusaha.
Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa masih banyak anak muda yang belum terlalu tertarik untuk mempelajari pajak. Hal ini bukan selalu karena mereka tidak peduli, tetapi bisa jadi karena pajak sering dianggap sebagai sesuatu yang sulit dipahami. Istilah seperti PPh, PPN, NPWP, PKP, dan berbagai aturan perpajakan lainnya terkadang membuat pajak terasa semakin jauh dari kehidupan Gen Z.
Menurut saya, persoalannya bukan hanya tentang seberapa besar pengetahuan Gen Z mengenai pajak, tetapi juga bagaimana informasi mengenai pajak disampaikan kepada mereka.
Pajak sebenarnya dekat dengan kehidupan Gen Z
Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan ekonomi digital. Aktivitas seperti berbelanja melalui marketplace, menggunakan layanan transportasi online, membeli makanan melalui aplikasi, berlangganan layanan digital, hingga menjadi content creator sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Perkembangan tersebut secara tidak langsung membuat hubungan antara generasi muda dan pajak semakin dekat. Namun, kedekatan dalam aktivitas belum tentu diikuti dengan pemahaman mengenai pajak.
Misalnya, ketika membeli suatu barang, konsumen mungkin mengetahui bahwa harga yang dibayarkan sudah termasuk pajak. Namun, belum tentu konsumen memahami mengapa pajak tersebut dikenakan atau bagaimana mekanismenya. Hal sederhana seperti ini sebenarnya bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan literasi pajak di kalangan anak muda.
Menurut saya, edukasi perpajakan seharusnya tidak hanya membahas pasal dan peraturan. Gen Z juga perlu diberikan contoh yang berhubungan langsung dengan kehidupan mereka. Dengan begitu, pajak tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang hanya ada di buku pelajaran atau kantor pajak.
Literasi pajak menjadi hal penting
Di era digital, informasi mengenai apa pun dapat ditemukan dengan mudah. Namun, kemudahan mendapatkan informasi tidak selalu berarti seseorang memahami informasi tersebut dengan benar. Begitu juga dengan pajak.
Informasi perpajakan yang beredar di media sosial cukup beragam. Ada informasi yang benar dan bermanfaat, tetapi ada pula informasi yang kurang lengkap atau bahkan dapat menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, kemampuan untuk memahami dan menyaring informasi perpajakan menjadi semakin penting bagi generasi muda.
Bagi mahasiswa, khususnya yang mempelajari perpajakan, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan. Mahasiswa dapat berperan dalam menyampaikan informasi perpajakan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh teman sebaya.
Menurut saya, membangun kesadaran pajak tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kesadaran dapat dibangun melalui kebiasaan memahami kewajiban pajak, mencari informasi dari sumber yang terpercaya, dan tidak menganggap pajak sebagai sesuatu yang tidak berhubungan dengan kehidupan kita.
Jangan menunggu sampai menjadi wajib pajak
Salah satu alasan mengapa pajak terasa jauh bagi Gen Z mungkin karena banyak dari mereka belum memiliki penghasilan sendiri. Akibatnya, pajak dianggap sebagai urusan masa depan.
Padahal, pemahaman mengenai pajak justru dapat mulai dibangun sebelum seseorang memasuki dunia kerja. Ketika nantinya mendapatkan penghasilan, membuka usaha, atau menjalankan pekerjaan di bidang digital, seseorang sudah memiliki pengetahuan dasar mengenai kewajiban perpajakannya.
Bagi saya, belajar pajak sejak menjadi mahasiswa bukan berarti harus langsung memahami seluruh peraturan perpajakan. Hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap warga negara memiliki hubungan dengan sistem perpajakan dalam berbagai bentuk.
Dengan pemahaman tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi pihak yang mengetahui bahwa pajak harus dibayar, tetapi juga memahami mengapa pajak diperlukan dan bagaimana sistem perpajakan bekerja.
Membangun pandangan baru tentang pajak
Menurut saya, tantangan terbesar bukan sekadar membuat Gen Z mengetahui apa itu pajak, melainkan mengubah pandangan bahwa pajak adalah sesuatu yang rumit dan jauh dari kehidupan mereka.
Pendekatan edukasi pajak juga perlu mengikuti perkembangan zaman. Media sosial, konten video pendek, infografis, podcast, maupun kegiatan edukasi di lingkungan kampus dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan perpajakan dengan cara yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.
Ketika pajak dijelaskan melalui contoh yang mereka temui setiap hari, pembahasannya tentu akan terasa berbeda. Pajak tidak lagi hanya menjadi istilah dalam buku atau materi perkuliahan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu dipahami.
Pada akhirnya, kesadaran pajak tidak seharusnya muncul hanya ketika seseorang sudah memiliki kewajiban untuk membayar pajak. Kesadaran tersebut dapat dibangun sejak dini melalui pendidikan dan literasi yang mudah dipahami.
Bagi Gen Z, pajak mungkin masih terasa jauh. Namun, jika kita melihat lebih dekat, sebenarnya pajak sudah berada di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita mulai mengenal, memahami, dan melihat pajak bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.
