Konten dari Pengguna

Paylater: Kemudahan Finansial atau Kebiasaan yang Perlu Dikendalikan?

Ananda Miftahul Jannah Ramadhani

Ananda Miftahul Jannah Ramadhani

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ananda Miftahul Jannah Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

penggunaan Paylater melalui smartphone, menggambarkan kemudahan transaksi sekaligus perlunya mengendalikan penggunaannya agar tidak menjadi kebiasaan konsumtif. Foto : AI Source
zoom-in-whitePerbesar
penggunaan Paylater melalui smartphone, menggambarkan kemudahan transaksi sekaligus perlunya mengendalikan penggunaannya agar tidak menjadi kebiasaan konsumtif. Foto : AI Source

Dulu, ketika ingin membeli sesuatu tetapi uang belum cukup, kita harus menunggu sampai memiliki dana yang sesuai. Sekarang, hadirnya PayLater membuat kita bisa membeli barang terlebih dahulu dan membayarnya kemudian. Prosesnya pun semakin mudah karena dapat dilakukan langsung melalui aplikasi. Dari sisi finansial, kemudahan ini dapat membantu mengatur arus keuangan dalam jangka pendek, tetapi juga perlu digunakan secara bijak agar cicilan dan kewajiban pembayaran tidak mengganggu kondisi keuangan di kemudian hari.

Kemudahan ini tentu memberikan manfaat. Namun, menurut saya, kemudahan dalam melakukan transaksi juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengatur keuangan. Sebab, paylater bukanlah uang tambahan, melainkan fasilitas pembiayaan yang tetap harus dibayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Ketika Cicilan Terlihat Kecil

Salah satu hal yang sering membuat paylater terasa menarik adalah jumlah cicilan yang terlihat ringan. Sebuah barang mungkin terasa lebih terjangkau ketika harganya dibagi menjadi beberapa kali pembayaran.

Namun, masalahnya dapat muncul ketika seseorang menggunakan paylater untuk beberapa transaksi sekaligus. Cicilan yang masing-masing terlihat kecil dapat menumpuk dan akhirnya menjadi beban pengeluaran setiap bulan.

Karena itu, sebelum menggunakan paylater, menurut saya pertanyaan yang perlu dipikirkan bukan hanya “Bisa membeli atau tidak?”, tetapi juga “Mampu membayar sampai lunas atau tidak?”

Kita juga perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Membeli laptop untuk menunjang pekerjaan tentu memiliki pertimbangan yang berbeda dengan membeli barang hanya karena sedang ada promo.

Paylater Bukan Pengganti Penghasilan

Hal lain yang perlu dipahami adalah limit paylater bukan berarti uang yang kita miliki. Limit tersebut merupakan fasilitas pembiayaan yang penggunaannya menimbulkan kewajiban pembayaran.

Oleh karena itu, sebelum melakukan transaksi, penting untuk melihat kondisi keuangan secara keseluruhan. Jangan hanya memperhatikan cicilan dari satu transaksi, tetapi hitung juga cicilan atau kewajiban lain yang sedang berjalan.

OJK melalui POJK Nomor 32 Tahun 2025 mengatur penyelenggaraan Buy Now Pay Later (BNPL), termasuk mengenai perlindungan konsumen, keterbukaan informasi, penagihan, dan manajemen risiko. Pengaturan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan BNPL juga memiliki aspek risiko yang perlu dipahami oleh konsumen.

Bijak Sebelum Menekan Tombol “Bayar”

Menurut saya, paylater tidak harus selalu dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Fasilitas ini dapat memberikan kemudahan ketika digunakan untuk kebutuhan yang memang diperlukan dan sesuai dengan kemampuan membayar.

Yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan menggunakan paylater tanpa memperhitungkan kondisi keuangan. Sebelum melakukan transaksi, kita dapat melihat jumlah cicilan, biaya yang dikenakan, jangka waktu pembayaran, serta tanggal jatuh tempo.

Langkah sederhana tersebut dapat membantu kita menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada keinginan sesaat.

Pada akhirnya, paylater hanyalah alat pembayaran. Manfaat atau risikonya juga bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.

Kemudahan membeli sekarang memang menarik, tetapi kemampuan membayar di kemudian hari tetap perlu menjadi pertimbangan.

Sebelum membeli sekarang dan membayar nanti, pastikan kondisi keuangan kita juga siap untuk menghadapi “nanti”.