Obsesi dengan Karakter Fiksi: Kadar Toxic dari Parasocial Relatonship

Anandya Alexie Hafidzah Salamah
Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya.
Konten dari Pengguna
12 Desember 2023 13:45 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Anandya Alexie Hafidzah Salamah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kita menyaksikan suatu film pernahkah anda mendapatkan sebuah keterikatan dengan karakter dalam cerita tersebut?

ADVERTISEMENT
Belakangan ini ramai penggemar anime Jujutsu Kaisen yang berkabung karena karakter bernama Satoru Gojo kalah dalam pertarungan. Mereka yang menganggap Gojo sebagai ‘guru’ atau ‘pacar’ menyuarakan kesedihan melalui berbagai sosial media. Tidak sebatas penggemar anime saja, komunitas lainnya juga dapat mengalami hal yang sama. Mereka merasa memiliki ketertarikan hingga beberapa dari mereka menginginkan untuk mempunyai hubungan bersama idola mereka. Ketika kita menyukai suatu film atau bahkan game, kita cenderung menciptakan ikatan dengan karakter-karakter di dalamnya. Lho, lho, lho... Ga bahaya, tah?
ADVERTISEMENT
Ternyata ikatan ini bisa semakin mendalam baik dalam emosional maupun sosial. Hubungan yang tercipta dari ikatan sepihak ini disebut sebagai Parasocial Relationship (PSR).
Ilustrasi wanita sedang mengkhayal. Source: Freepik

Memang apa itu parasocial relationship?

Parasocial relationship diperkenalkan oleh Horton dan Wohl (1956) sebagai parasocial interaction (PSI) yang berarti bentuk interaksi satu arah antara audiens dan karakter di media. Kemudian peneliti memperluas PSI menjadi parasocial relationship karena telah melewati batas dari interaksi dan mencakup ke hubungan lintas situasi antara audiens dan idola.
Singkatnya, PSR adalah hubungan satu arah yaitu ketika satu individu memberikan emosi, ketertarikan, dan waktu kepada pihak lain. Namun pihak yang disukai semata-mata tidak tahu tentang keberadaan individu tersebut.
Dan ternyata PSR ini marak kasusnya di kalangan muda! Seperti ketertarikan yang mendalam dengan karakter anime, idola K-pop, dan tokoh-tokoh terkenal lainnya baik dalam virtual maupun dunia nyata.
Ilustrasi wanita sedang membaca buku. Source: Freepik

Apa saja faktor seseorang bisa menghadapi parasocial relationship?

PSR dapat terjadi karena banyak faktor, lho. Yuk, kita bahas lebih lanjut!
ADVERTISEMENT
1. Memenuhi sense of belonging dan kesepian
PSR menjadi alternatif dalam interaksi sosial ketika seseorang tersebut sedang mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman mereka di dunia nyata. PSR dirasa mampu membantu mereka merasakan inklusi yang tidak didapatkan di lingkungan sekitar. Mereka merasa bahwa telah didengar, terhubung dengan karakter dan merasakan afeksi juga perhatian walau tidak ada interaksi timbal balik.
Lalu, apa yang terjadi ketika koneksi perasaan PSR terputus? Hal ini dapat menyebabkan suatu perubahan emosional dari individu tersebut. Intensitas dampaknya pun beragam. Berdasarkan MacNeill dan DiTommaso, kebutuhan sang penggemar hanya dapat dipenuhi oleh seseorang yang spesifik dan tidak bisa tergantikan.
2. Mengasosiasikan karakter dengan orang di kehidupan nyata
Selain itu, PSR ternyata dapat dipengaruhi oleh orang di dunia nyata, lho. Semakin mirip karakter yang diagungkan dengan seseorang yang ia kenal di dunia nyata, semakin mudah pelaku tersebut untuk menjalin PSR. Hal ini berhubungan dengan kemiripan proses kognitif dan emosional yang terhubung dengan karakter favorit dan orang di kehidupan nyata (Eyal & Dailey, 2012).
ADVERTISEMENT
3. Kepuasan dengan karakter
Kepuasan dengan karakter tersebut ternyata menjadi faktor terbesar, lho, dalam PSR. Kepuasan yang diawali dari ketertarikan dengan penampilan, desain, kepribadian dan sifat karakter dapat menggugah perasaan yang mendalam terhadap sang penggemar. Hampir semua komentar mengenai karakter mengungkapkan kepuasan terhadap karakter yang sang penggemar gemari.
Ilustrasi teman yang sedang tertawa. Source: Freepik

Ancaman Terhadap Keseimbangan Well-being

PSR dapat mengganggu keseimbangan kesejahteraan karena dapat menimbulkan adiksi dan gangguan perilaku lainnya. Hmm… Memang sebaiknya kita dapat menahan diri dari ketertarikan berlebih yang dimiliki terhadap karakter fiksi. Lagipula, hal yang lebih dari batas wajar tidak akan berakhir dengan baik. Obsesi terhadap PSR dengan karakter yang dicintai dikhawatirkan menimbulkan perilaku materialistis, konsumtif, dan lepas dari realita.
PSR semakin populer karena intensitas dan frekuensi waktu dalam berinteraksi dengan karakter serta aktivitas media sosial beberapa tahun ini meningkat. Ditambah dengan keharusan diam di rumah saat pandemi Covid-19 yang membuat banyak individu merasa terisolasi dan terdorong untuk menjalin PSR. Menurut teori psikologi mengenai deprivasi stimulus, isolasi dianggap sebagai hukuman sehingga individu tersebut mencari pelarian agar tidak merasa terisolasi.
ADVERTISEMENT
PSR sebagai pelarian dalam jumlah kecil bisa dilakukan setiap orang untuk menghilangkan stres dan mengalihkan pikiran mereka. Namun ketika pelarian menjadi sarana yang sering digunakan, orang-orang akan lebih memilih dunia fantasi yang mereka bangun di kepala dari pada realita mereka,
Karena PSR bersifat fiksi, hubungan terasa tidak memuaskan dan membawa mereka kembali ke ikatan parasosial. Kebutuhan rasa memiliki yang tidak terpenuhi menyebabkan penggemar berpindah dari satu karakter ke karakter lainnya, yang kemudian berkembang menjadi adiksi.
Namun, ketika kebutuhan akan rasa memiliki dipenuhi dengan hubungan parasosial yang sehat, dampak positif dari hubungan parasosial akan lebih besar daripada dampak negatifnya.
PSR dalam intensitas wajar dapat membantu mengembangkan diri kita untuk berpikir terbuka. Bahkan, PSR dapat menjadi sarana untuk menuangkan emosi dan perasaan terhadap karakter yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional serta kreativitas.
ADVERTISEMENT
Banyak dari penulis novel romansa yang sukses karena menuangkan perasaan yang mereka miliki secara kreatif melalui tulisan.
Maka, interaksi PSR dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi kita. Dengan intensitas yang cukup, PSR dapat membantu kita untuk mengembangkan dan lebih mengenal diri kita. Namun patut diingat bahwa dalam intensitas yang berlebihan, PSR dapat memberikan efek candu dan membuat semakin terjebak dengan hubungan parasosial tersebut.
Terdapat berbagai alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengembangkan diri dari pada larut dalam ketertarikan yang dimiliki untuk karakter di media sekaligus kembali menyeimbangkan kesejahteraan diri. Contohnya olahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kadar dopamin, mendalami hobi baru, serta benar-benar bersosialisasi dengan orang di sekitar. Manusia tidak seburuk itu, kok. Ganti obsesi terhadap karakter fiksi dengan kegiatan yang bermanfaat yang tetap dapat memberikan hormon rasa senang dan bahagia untuk keseimbangan kesejahteraan diri kita.
ADVERTISEMENT

Referensi

Rain, M., & Mar, R. A. (2021). Adult attachment and engagement with fictional characters. Journal of Social and Personal Relationships, 38(9), 2792-2813. https://doi.org/10.1177/02654075211018513
Trisha M Nguyen, Mohammed Khadadeh, and David C Jeong. 2023. Shippers and Kinnies: Re-conceptualizing Parasocial Relationships with Fictional Characters in Contemporary Fandom. In Proceedings of the 18th International Conference on the Foundations of Digital Games (FDG '23). Association for Computing Machinery, New York, NY, USA, Article 32, 1–12. https://doi.org/10.1145/3582437.3582476
Liebers, N. and Schramm, H. (2019) Parasocial interactions and relationships with media characters – an inventory of 60 years of research, Communication Research Trends. https://www.academia.edu/48924972/Parasocial_Interactions_and_Relationships_with_Media_Characters_An_Inventory_of_60_Years_of_Research
Hoffner, C. A. et al. (2022) Parasocial Relationships, social media, & well-being, Current Opinion in Psychology. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2352250X22000082
ADVERTISEMENT
Arora, T.R. (2022) Finding friends in fiction: Fan writing, Parasocial Relationships and social belongingness. Laurentian University. Canada. https://zone.biblio.laurentian.ca/handle/10219/3950
Weru, J. (2023) You don’t know me, but I love you: Parasocial relationships and their impacts. Kennesaw State University. https://digitalcommons.kennesaw.edu/emergingwriters/vol6/iss1/10/