Konten dari Pengguna

Teknik Pruning Tingkatkan Hasil Panen Padi di Kulon Progo

Ananti Larasati

Ananti Larasati

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ananti Larasati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kulon Progo — Teknik pruning padi, yaitu pemangkasan daun pada usia awal pertumbuhan, mulai terbukti meningkatkan hasil panen di Kulon Progo. Informasi ini disampaikan oleh Edi Santosa, yang telah menerapkan metode tersebut sejak tahun 2022 di lahan sawah yang ia kelola.

Menurut Edi Santosa, pruning dilakukan pada usia 25–30 hari setelah tanam (HST). Pada tahap ini, bagian bubus atau tunas paling atas dipotong menggunakan alat potong rumput dengan pisau tajam. Pemangkasan dilakukan untuk merangsang pertumbuhan anakan baru yang lebih kuat dan sehat.

“Kalau lewat 30 hari takutnya mulai bunting, jadi tidak ideal untuk dipangkas. Usia 25 sampai 30 hari itu yang paling bagus,” ujar Edi saat ditemui di lahan miliknya yang terletak di daerah utara Bandara YIA, Kulon Progo. Lahan tersebut berada di kawasan persawahan tanah liat dengan pengairan dari pegunungan.

Dokumentasi Pribadi : Proses Pruning Tanaman Padi di Kulon Progo

Edi yang telah mengelola sawah sejak 2010-an menjelaskan bahwa setelah dilakukan pruning, daun padi tumbuh lebih ramping, anakan menjadi lebih banyak, dan tanaman lebih kuat sehingga tidak mudah roboh saat terkena angin atau hujan lebat. Ia juga merasakan bahwa serangan penyakit menurun selama masa tanam.

Selain itu, pemangkasan pada usia 25 hari juga membantu mengurangi serangan ulat. Daun yang dipotong membuat ulat yang menempel ikut terbuang sehingga hama tidak sempat berkembang.

Meski membutuhkan tambahan biaya untuk tenaga pemotongan dan bensin mesin, Edi menilai keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan cara biasa. Beberapa pengelola sawah di sekitarnya mulai mengikuti metode ini, baik menggunakan mesin potong maupun alat manual seperti arit.