Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Lebih Kenal Influencer daripada Tetangga Sendiri?

Anastasia Selan

Anastasia Selan

Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anastasia Selan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI

Dekat di Layar, Jauh di Kehidupan Nyata

Suatu sore, saya melihat sekelompok anak muda duduk bersama di sebuah kafe. Anehnya, suasana begitu sunyi. Masing-masing sibuk menatap layar ponselnya. Sesekali mereka tertawa, tetapi bukan karena percakapan di meja, melainkan karena video yang muncul di media sosial.

Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal biasa. Kita bisa mengetahui aktivitas seorang influencer yang tinggal ratusan kilometer dari tempat kita, tetapi belum tentu mengenal nama tetangga yang rumahnya hanya berjarak beberapa langkah. Tanpa disadari, media sosial telah mengubah cara kita membangun hubungan sosial.

Ketika Interaksi Bergeser ke Dunia Digital

Dalam Pendidikan Ilmu Sosial, manusia dipahami sebagai makhluk sosial yang tumbuh melalui interaksi dengan lingkungan. Namun, perkembangan teknologi membuat ruang interaksi tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar. Dunia digital menawarkan hubungan yang lebih luas, tetapi belum tentu lebih dekat.

Media sosial memang memudahkan komunikasi dan memperluas jaringan. Di sisi lain, jika digunakan tanpa keseimbangan, ia dapat mengurangi kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kita menjadi cepat mengetahui tren global, tetapi lambat memahami persoalan yang terjadi di sekitar kita.

Masyarakat yang Semakin Terhubung, tetapi Belum Tentu Semakin Peduli

Kemajuan teknologi sering dianggap sebagai tanda masyarakat yang berkembang. Namun, perkembangan sosial tidak hanya diukur dari cepatnya akses informasi. Yang lebih penting adalah apakah informasi tersebut mampu mendorong kepedulian, empati, dan partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Generasi muda memiliki akses informasi yang luar biasa. Tantangannya bukan lagi mencari informasi, melainkan memilih informasi yang bermanfaat dan tetap menjaga hubungan sosial di dunia nyata.

Saatnya Menyeimbangkan Dunia Digital dan Nyata

Media sosial bukanlah musuh. Ia adalah alat yang dapat membawa manfaat jika digunakan secara bijak. Namun, hubungan sosial yang kuat tetap membutuhkan interaksi langsung, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemauan untuk mengenal orang-orang di sekitar kita.

Barangkali, ukuran menjadi masyarakat yang maju bukan hanya seberapa banyak orang yang mengikuti kita di media sosial, tetapi juga seberapa besar kepedulian kita terhadap lingkungan tempat kita hidup. Pendidikan Ilmu Sosial mengajarkan bahwa perubahan sosial yang baik selalu dimulai dari hubungan antarmanusia yang saling menghargai dan peduli.