Konten dari Pengguna

Cegah DBD, Mahasiswa KKN-BBK 8 UNAIR Edukasi Warga Tanah Kali Kedinding

Anastasya Diva

Anastasya Diva

College Student - Airlangga University

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anastasya Diva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cegah DBD, Mahasiswa KKN-BBK 8 UNAIR Edukasi Warga Tanah Kali Kedinding
zoom-in-whitePerbesar

KKN-BBK NEWS – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) ke-8 Universitas Airlangga di Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya, menggelar penyuluhan bertajuk "Kenali, Cegah, dan Lawan DBD" pada Sabtu (25/7/2026) di Balai RW 10. Kegiatan ini diikuti warga dari RW 09, RW 10, RW 11, dan RW 12 guna meningkatkan kewaspadaan terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyuluhan dihadiri Ketua RW 10, H. Yoyok Gatot Saputro, S.E., S.H., M.M., M.H., M.Kn., dan Dosen Pembimbing Lapangan KKN-BBK 8 UNAIR, Sri Musta'ina, Dra., M.Kes. Materi yang semula akan disampaikan Firman Setiawan, dr., Sp.MK., Ph.D., diwakilkan kepada Silvia Nurin, mahasiswa KKN-BBK 8 UNAIR, karena narasumber berhalangan hadir.

Kasus Masih Tinggi, Fase Kritis Kerap Disalahpahami

Silvia menjelaskan bahwa kasus DBD di Indonesia masih tergolong tinggi. Hingga tahun 2025, tercatat 131.393 kasus dengan 544 kematian, sementara di Surabaya terdapat sekitar 231–281 kasus sepanjang 2024 hingga awal 2025. Kondisi ini dipengaruhi perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penular.

Ia juga menekankan pentingnya mewaspadai fase kritis DBD, yakni "fase pelana kuda". "Banyak masyarakat mengira ketika demam turun berarti sudah sembuh, padahal itu fase

paling berbahaya karena berisiko terjadi kebocoran pembuluh darah dan penurunan trombosit," tuturnya.

Warga diimbau segera ke fasilitas kesehatan bila muncul nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, atau tubuh lemas dan dingin. Untuk perawatan awal, disarankan istirahat cukup, cairan tercukupi, kompres hangat, dan paracetamol tanpa aspirin atau ibuprofen.

Dorong Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik

Peserta diajak menerapkan 3M Plus serta membentuk Jumantik Rumah yang rutin memeriksa titik rawan jentik seperti bak mandi, ember, dan talang air setiap minggu, melalui konsep Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J). Kegiatan juga dilengkapi pre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terkait gejala, tanda bahaya, dan pencegahan DBD.

Sri Musta'ina menegaskan keberhasilan pencegahan DBD bergantung pada peran aktif masyarakat. "Melalui gerakan ini, masyarakat didorong menjadi subjek utama dalam menjaga kesehatan lingkungannya secara berkelanjutan," ujarnya.

Mahasiswa KKN-BBK 8 UNAIR berharap warga semakin sigap mengenali gejala DBD sejak dini, sejalan dengan semangat "Satu Rumah Satu Jumantik, Rumahku Bebas Jentik, Keluargaku Cerdik."

Penulis:

Anastasya Diva Renata

Silvia Nurin Aprilia