Konten dari Pengguna

Ekspedisi Patriot UGM Pulau Bacan Gali Potensi Komoditas dan Dorong Hilirisasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andarifka Daffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pulau Bacan, Maluku Utara — Tim Ekspedisi Patriot UGM menggali potensi hasil bumi dan komoditas lokal masyarakat di sejumlah desa penyangga rencana transmigrasi di Pulau Bacan. Kelapa, pala, dan cengkih menjadi komoditas yang dibahas, termasuk peluang pengembangannya untuk mendukung ekonomi masyarakat.

FGD Tim Ekspedisi Patriot UGM bersama masyarakat Desa Kusubibi.
zoom-in-whitePerbesar
FGD Tim Ekspedisi Patriot UGM bersama masyarakat Desa Kusubibi.

Hal ini menjadi salah satu fokus Ekspedisi Patriot Pulau Bacan UGM 2026. Untuk memahami potensi dan kondisi masyarakat secara langsung, Tim Ekspedisi Patriot Pulau Bacan UGM menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Desa Kusubibi dan Desa Jojame. Diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan setempat membahas potensi komoditas, kegiatan pertanian, kelembagaan masyarakat, serta tantangan dalam produksi dan pemasaran hasil bumi.

“Melalui FGD ini, kami ingin mendengar langsung kondisi masyarakat dan memahami potensi serta kebutuhan yang ada di masing-masing desa. Temuan di lapangan menjadi bahan bagi tim untuk menyusun rencana program yang sesuai dengan kondisi masyarakat,” ujar Pitaloka Ainun, selaku anggota Tim Ekspedisi Patriot Bacan UGM 2026.

Desa Kusubibi dan Potensi Kelapa

FGD di Desa Kusubibi pada 24 Agustus 2026 melibatkan perangkat desa, pelaku usaha, dan tokoh masyarakat. Diskusi membahas kondisi pertanian serta komoditas yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Pala dan cengkih menjadi beberapa komoditas dengan nilai jual yang relatif tinggi, sementara kelapa merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan. Bagi masyarakat Tobelo-Galela di Kusubibi, kelapa juga memiliki keterkaitan dengan sejarah dan identitas masyarakat, sehingga tetap dipertahankan sebagai tanaman utama.

Temuan tersebut menunjukkan adanya peluang untuk mengembangkan kelapa melalui pengolahan dan produk turunannya, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari hasil bumi yang sudah tersedia di masyarakat.

Desa Jojame: Potensi dan Tantangan di Lapangan

Tiga hari setelah FGD di Kusubibi, Tim Ekspedisi Patriot UGM melanjutkan kegiatan di Desa Jojame pada 27 Agustus 2026. Masyarakat Jojame mengelola berbagai komoditas seperti kelapa, cengkih, pala, dan damar.

FGD Tim Ekspedisi Patriot UGM bersama masyarakat Desa Jojame.

Kelapa menjadi salah satu komoditas yang berpotensi dikembangkan. Masyarakat juga telah melakukan pengolahan sederhana, salah satunya membuat santan dari kelapa yang diparut menggunakan mesin kemudian diperas. Praktik ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan hasil bumi yang sudah dilakukan di tingkat rumah tangga.

Mesin parut kelapa yang digunakan masyarakat Desa Jojame.

Di sisi lain, masyarakat menyampaikan adanya tantangan dalam budidaya pala dan cengkih, termasuk terkait kondisi tanaman dan hama. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam FGD bersama masyarakat. Temuan di lapangan kemudian menjadi bahan bagi tim untuk melihat peluang pengembangan komoditas dan pemberdayaan ekonomi yang sesuai dengan kondisi Jojame.

Mengolah Hasil Bumi, Mendorong Nilai Tambah

Petani Kelapa Desa Kusubibi. (Sumber: Andarifka)

Temuan di Kusubibi dan Jojame menunjukkan bahwa potensi ekonomi masyarakat telah tersedia melalui berbagai komoditas lokal. Namun, setiap desa memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Kusubibi memiliki kelapa yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan identitas masyarakat. Sementara Jojame memiliki kelapa, pala, cengkih, dan damar dengan tantangan masing-masing.

Perbedaan tersebut menjadi pertimbangan dalam menyusun program pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi setiap desa. Melalui FGD, Tim Ekspedisi Patriot Pulau Bacan UGM menggali informasi langsung dari masyarakat untuk memahami potensi dan kebutuhan di lapangan. Hasilnya menjadi bahan dalam merancang program, termasuk peluang pengolahan dan pengembangan produk turunan agar hasil bumi dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Kegiatan FGD dan riset ini turut berkontribusi pada beberapa target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).