Konten dari Pengguna

Ekspedisi Tana Papua: Catatan Perjalanan dari Indonesia Timur

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andarifka Daffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Papua Barat — Andarifka Daffa Aryabima, seorang pegiat pemberdayaan masyarakat, mengikuti Ekspedisi Namatota yang diselenggarakan Yayasan Inspire Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengabdian dan pembelajaran langsung bersama masyarakat di wilayah pesisir Kaimana.

Inspire bersama Guru dan Peserta didik SD YPK Namatota. (Foto: Inspire)
zoom-in-whitePerbesar
Inspire bersama Guru dan Peserta didik SD YPK Namatota. (Foto: Inspire)

Ekspedisi tersebut diikuti oleh 30 peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang dan rentang usia yang beragam. Yayasan Inspire Indonesia, yang dikenal aktif menggelar kegiatan sosial dan edukatif di sejumlah wilayah Indonesia. Pada akhir 2025, Inspire membuka program ekspedisi terbuka untuk terlibat tanpa batasan usia.

Andarifka memiliki ketertarikan pada community development dan isu pendidikan. Minat tersebut mendorongnya terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian dan ekspedisi di sejumlah wilayah Indonesia. Ia menilai pendekatan inklusif menjadi salah satu kekuatan ekspedisi ini. Delegasi termuda berusia 14 tahun, sementara delegasi tertua 60 tahun. Keberagaman usia dan latar belakang tersebut menghadirkan ruang belajar lintas generasi.

“Dari kegiatan ini saya belajar bahwa usia bukan penghalang untuk terus belajar. Semua orang punya ruang untuk tetap berkontribusi” ungkapnya.

Delegasi Ekspedisi di Pelabuhan Kaimana. (Foto: Inspire)

Ekspedisi ini dibagi ke dalam tiga divisi, yakni pendidikan, kesehatan, serta ekowisata dan lingkungan. Perjalanan menuju Kaimana dimulai dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menggunakan jalur laut. Rombongan tiba di Kaimana setelah menempuh perjalanan selama enam hari tujuh malam.

Dari Kaimana, peserta melanjutkan perjalanan menuju Pulau Namatota menggunakan perahu nelayan dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Setibanya di pulau, kami disambut masyarakat melalui tradisi penyambutan berupa olesan pasir pantai di dahi sebagai simbol penerimaan tamu.

Sekolah Alam bersama Divisi Pendidikan. (Foto: Inspire)

Keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan di balai desa untuk perkenalan dan pemaparan program kerja kepada masyarakat. Selama beberapa minggu berada di Namatota, kami menjalankan berbagai aktivitas sesuai divisi masing-masing dengan melibatkan warga desa secara aktif.

Pelatihan bersama POKDARWIS Namatota. (Foto: Rizal)

Andarifka menyebut keterbukaan masyarakat menjadi pengalaman berharga selama kegiatan berlangsung. “Kami datang dengan membawa program, tetapi justru banyak belajar dari masyarakat tentang kebersamaan dan kehidupan lokal,” ujarnya.

Sekolah Dasar YPK Namatota. (Foto: Andarifka)

Dulu, Andarifka tahu tentang Papua hanya dari poster dan buku yang ia lihat di mading sekolah ketika duduk di bangku SD. Kini, ia tidak lagi sekedar mengenal Papua dari gambar atau cerita, tetapi berhasil menginjak tanahnya, merasakan hangatnya, dan berinteraksi langsung dengan masyarakatnya. Pengalaman mengikuti Ekspedisi Namatota semakin memperkuat pandangannya tentang pentingnya keterlibatan langsung di lapangan. Baginya, memahami Indonesia tidak cukup hanya melalui buku, internet, atau cerita dari kejauhan. Ia berharap pengalaman serupa dapat mendorong lebih banyak generasi muda untuk terjun langsung ke masyarakat, memperluas wawasan, serta melihat keberagaman Indonesia melalui pengalaman nyata.