Tak Hanya Jadi Kopra, Masyarakat Desa Kusubibi Ubah Tempurung Kelapa Jadi Arang

Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Pulau Terluar - Barakati Indonesia. Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andarifka Daffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di Desa Kusubibi, Pulau Bacan, Halmahera Selatan, kelapa menjadi salah satu komoditas yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebagai salah satu desa penyangga perencanaan wilayah transmigrasi, Desa Kusubibi memiliki potensi sumber daya lokal yang dapat dikembangkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun, pemanfaatan kelapa di desa ini masih didominasi oleh pengolahan menjadi kopra. Kelapa dibelah dan dagingnya diolah menjadi kopra, sementara bagian lainnya seperti tempurung, serabut, dan air kelapa masih minim dimanfaatkan. Sebagian bahkan hanya dibuang begitu saja.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot Bacan 2026. Bersama Ketua Tim Ekspedisi Patriot Bacan 2026, Joko Nugroho Wahyu Karyadi, S.T.P., M.Eng. PhD. ikut serta membersamai masyarakat Kusubibi dalam pelatihan pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi arang menggunakan peralatan sederhana.
Tempurung yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diolah melalui proses karbonisasi hingga menjadi arang. Dengan peralatan sederhana, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pemanfaatan hasil samping kelapa yang berpotensi memiliki nilai jual.
Bagi masyarakat Kusubibi, pengolahan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk menambah nilai ekonomi dari komoditas yang selama ini telah mereka miliki. Pemanfaatan limbah juga menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan potensi lokal agar tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah.
Upaya tersebut sejalan dengan semangat hilirisasi yang menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman sebelumnya menekankan pentingnya sumber daya manusia yang mampu mengembangkan potensi lokal dan menciptakan nilai tambah.
“Kalau kita ingin hilirisasi berhasil, kawasan-kawasan ekonomi baru tumbuh, dan Indonesia menjadi negara maju, maka kita membutuhkan SDM unggul. Kuncinya adalah kedisiplinan yang berorientasi pada keberhasilan menuntaskan misi,” tegas Iftitah saat memberikan pembekalan kepada peserta Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Bogor, Jawa Barat, pada 27 Juli 2026.
Menurut Iftitah, disiplin dalam konteks pembangunan tidak hanya berkaitan dengan ketepatan waktu atau kepatuhan terhadap aturan. Disiplin juga berarti memastikan setiap persoalan dapat dituntaskan, setiap target tercapai, dan setiap pekerjaan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia juga menyebut kawasan transmigrasi membutuhkan SDM yang mampu mengidentifikasi persoalan, menghadirkan inovasi, mengembangkan potensi lokal, serta menciptakan nilai tambah.
Semangat tersebut menjadi relevan dengan apa yang coba dilakukan di Kusubibi. Pengolahan tempurung kelapa menjadi arang memang merupakan langkah sederhana, tetapi berangkat dari persoalan nyata yang ditemukan di masyarakat, masih banyak bagian dari komoditas kelapa yang belum dimanfaatkan.
Pelatihan juga tidak berhenti pada proses produksi. Tim Ekspedisi Patriot Bacan 2026 sebelumnya telah berkoordinasi dengan penjual arang tempurung kelapa di wilayah Babang. Langkah ini dilakukan agar masyarakat Kusubibi memiliki gambaran mengenai akses pemasaran dan tidak kebingungan ketika nantinya mulai menghasilkan arang secara mandiri.
Dengan adanya komunikasi tersebut, masyarakat diharapkan memiliki alternatif tujuan pemasaran sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi.
Antusiasme masyarakat terlihat selama kegiatan berlangsung. Kehadiran tim dan gagasan mengenai pemanfaatan tempurung kelapa mendapat respons positif dari masyarakat serta dukungan dari pemerintah Desa Kusubibi.
Bagi tim, dukungan masyarakat menjadi bagian penting karena keberlanjutan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh proses pelatihan, tetapi juga oleh kemauan masyarakat untuk melanjutkan dan mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh.
Sebagai desa penyangga perencanaan wilayah transmigrasi, Kusubibi memiliki peluang untuk mengembangkan ekonomi berbasis potensi lokal. Pengembangan tersebut tidak selalu harus dimulai dari komoditas atau teknologi baru, tetapi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang selama ini sudah tersedia di desa.
Jika selama ini pemanfaatan kelapa lebih banyak berhenti pada produksi kopra, pengolahan tempurung menjadi arang membuka kemungkinan untuk memperluas nilai tambah dari komoditas tersebut. Bagian yang sebelumnya dibuang perlahan dapat berubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Langkah sederhana ini memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak selalu harus dimulai dari industri berskala besar. Ia juga dapat dimulai dari desa, dari komoditas yang sudah tumbuh di sekitar masyarakat, dan bahkan dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
