Experiential Learning: Menemukan Makna Melalui Pengalaman

Mahasiswa S1 PGSD Universitas Muhammadiyah Surabaya
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Andas Nidaa'an Khofiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Experiential learning, atau pembelajaran berbasis pengalaman, merupakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pengalaman langsung para peserta didik. Experiential learning merupakan salah satu bentuk metode pembelajaran. Perbedaan metode ini dengan metode lainnya adalah metode ini peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi mereka secara aktif terlibat dalam proses belajar melalui berbagai aktivitas, seperti halnya sebagai berikut:
Melakukan eksperimen (percobaan dan praktikum) untuk memahami konsep ilmiah.
Melakukan simulasi (merumuskan solusi terhadap permasalahan dalam skenario yang dirancang).
Mengerjakan proyek atau tugas yang relevan dengan kehidupan nyata dan membutuhkan kolaborasi.
Melakukan diskusi dengan bertukar ide dan perspektif dengan teman sebaya dan instruktur.
Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, peserta didik diharapkan dapat membangun serta menemukan pengetahuan baru secara mandiri dalam melakukan pembelajaran secara langsung. David Kolb, seorang pakar di bidang pembelajaran eksperiensial, mengemukakan siklus belajar yang terdiri dari empat tahap:
Pengalaman konkrit, dimana peserta didik terlibat dalam aktivitas yang memungkinkan mereka mengalami konsep atau fenomena secara langsung.
Observasi reflektif, yakni peserta didik merenungkan pengalaman mereka, mengidentifikasi pola, dan mengajukan pertanyaan.
Abstraksi konseptual, artinya peserta didik menganalisis pengalaman mereka dan menarik kesimpulan umum yang dapat diaplikasikan dalam situasi lain.
Eksperimen aktif, dimana peserta didik menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam situasi baru dan mengevaluasi efektivitasnya.
Pembelajaran berbasis pengalaman (Experiential Learning) memiliki hubungan yang erat dengan Social-Emotional Learning (SEL), yaitu dalam pengembangan keterampilan sosial dan emosional. Melalui pengalaman belajar yang aktif dan kolaboratif, peserta didik berlatih untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut:
Empati (empathy), yakni memahami dan merasakan emosi orang lain (baik teman, guru, maupun masyarakat sekitar). Adanya rasa empati ini dapat membantu peserta didik memahami perspektif orang lain dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan teman sebaya.
Rasa kasih sayang (compassion) dengan menunjukkan kepedulian dan membantu orang lain.
Memiliki kesadaran penuh (mindfulness), dengan memperhatikan momen saat ini tanpa penilaian, sehingga hal ini mampu membantu peserta didik fokus pada proses belajar, mengelola stres, dan meningkatkan kesadaran diri.
Memiliki pemikiran yang kritis (critical inquiry), dapat dilihat dari cara mereka mengajukan pertanyaan, menganalisis informasi, dan membuat keputusan yang bijaksana.
Keterampilan-keterampilan ini penting untuk membangun hubungan yang positif dengan orang lain, menghadapi tantangan, dan berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa Experiential learning dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang menarik dan efektif untuk membantu peserta didik menemukan maknanya sendiri dan mengembangkan keterampilan penting. Dengan menggabungkan SEL dan Experiential Learning, pendidikan dapat menumbuhkan generasi pemimpin yang berpengetahuan yang berkualitas, cerdas, penuh kasih sayang, dan bertanggung jawab.
