Manusia Indonesia bagi Saya: Penerapan di Sekolah

Mahasiswa S1 PGSD Universitas Muhammadiyah Surabaya
Tulisan dari Andas Nidaa'an Khofiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan merupakan tombak peradaban. Sekolah sebagai proses jalannya pendidikan dengan output yang diinginkan untuk mewujudkan manusia Indonesia terbaik bangsa. Menjadi manusia Indonesia merupakan nilai-nilai kemanusiaan khas Indonesia yang terbentuk secara relasional-diagonal-historis sejak sebelum adanya Negara Republik Indonesia sampai dengan kini dan masa depan.

Nilai kemanusiaan khas Indonesia mencakup 3 (tiga) hal yaitu:
1. Nilai kebhinekatunggalikaan
Pengalaman yang secara hakiki membentuk identitas keindonesiaaan sejak Indonesia belum diakui sebagai Negara. Kebhinekatunggalikaan menjadi kekuatan bangsa Indonesia memaknai keberagaman sosio-kultural dan nilai-nilai luhur yang ada pada setiap daerah.
2. Nilai-nilai pancasila
Identitas bangsa yang merangkum nilai-nilai, jiwa, dan semangat yang dihidupi oleh orang-orang Indonesia yang selalu menjunjung tinggi nilai gotong-royong.
3. Nilai religiusitas
Religiusitas (agama) merupakan dua sisi dari model kehidupan yang menyatukan aspek empiris dan meta empiris atau menyatukan dua sisi insani, yakni sisi jasmaniah dan rohaniah. Keberagaman agama yang ada di Indonesia, menjadikan manusia Indonesia memiliki karakter khas yang berpengaruh dalam hidup keluarga, masyarakat, serta pendidikan.
Kaitannya nilai kemanusiaan khas Indonesia dalam tanda dan simbol yang ada di ekosistem dapat diterapkan dengan lambang sekolah, tata letak dan desain ruang, papan pengumuman dan materi promosi, serta pemilihan bahasa. Proses pembelajaran tentang penghargaan terhadap kebhinekatunggalikaan dapat diterapkan dengan materi pembelajaran, konteks sejarah dan kebudayaan, penggunaan bahasa, inklusivitas dalam evaluasi. Sedangkan proses pembelajaran tentang penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan dapat diterapkan dengan upacara dan acara sekolah, pendidikan karakter, partisipasi komunitas, pelibatan orang tua.
Penghayatan nilai-nilai Pancasila yang ada di sekolah menguatkan identitas manusia Indonesia dengan mengimplementasi atau melakukan pembiasaan menyanyikan lagu Indonesia raya 3 stanza setiap hari di luar kelas sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung. Alasan implementasi penghayatan tersebut dilakukan karena pendidikan berperan penting untuk membangun paradigma berpikir, bersikap, dan berperilaku sebagai bangsa Indonesia. Paradigma pendidikan itu sendiri yang mestinya menyatukan semuanya. Dengan begitu pendidikan sebagai proses untuk melestarikan keragaman, dan melawan segala bentuk yang merongrong kesatuan.
