Pembelajaran Berdiferensiasi: 4 Aspek yang Harus Dikendalikan Guru

Mahasiswa S1 PGSD Universitas Muhammadiyah Surabaya
Tulisan dari Andas Nidaa'an Khofiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia saat ini sedang melakukan gebrakan baru untuk membentuk generasi penerus bangsa yang merdeka. Gebrakan ini diwujudkan dengan penggunaan kurikulum merdeka dalam penerapan pendidikan di lingkup sekolah. Adanya kurikulum merdeka diharapkan pendidik maupun peserta didik memiliki kebebasan diri dalam melakukan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan positif yang diharapkan. Siswa terlahir akan keunikan masing-masing. Keunikan tersebut menjadikan peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda, sehingga peserta didik satu dengan lainnya tidak dapat disamakan. Untuk itu dalam penerapan pembelajaran di kelas, pendidik dapat menerapkan pembelajaran diferensiasi dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik (Pitaloka dkk., 2022). Model pembelajaran berdiferensiasi merupakan upaya adaptasi di dalam kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik (Elviya & Sukartiningsih, 2023). Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran diferensiasi adalah pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Pembelajaran berdiferensiasi tidak dapat dilakukan secara “on the fly”, melainkan melalui proses yang terencana dan terarah, sebab pembelajaran berdiferensiasi tidak lepas dari persiapan masuk sekolah, persiapan pembelajaran, dan evaluasi setelahnya (Geel dkk., 2022). Terdapat 4 (empat) teori yang mendasari adanya pembelajaran berdiferesiensi yaitu:
Teori sistem ekologi merupakan pandangan sosiokultural Bronfenbrenner tentang perkembangan yang terdiri dari lima sistem lingkungan. Mulai dari pengaruh interaksi langsung pada individu hingga pengaruh kebudayaan yang berbasis luas. Kelima sistem ekologi tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem.
Teori multiple inteligence. Teori ini memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan yang nyata dan dalam situasi yang bermacam-macam. Dapat dikatakan juga bahwa setiap orang memiliki delapan jenis kecerdasan dalam tingkat yang berbeda-beda. Pada teori multiple intelligences ini disebutkan ada delapan bentuk kecerdasan.
Teori zone of proximal development (ZPD) adalah zona antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan anak menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri. Sedangakan tingkat perkembangan potensial adalah kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas-tugas dengan bantuan orang sekitar.
Learning modalities. Learning modalities ini biasa dikenal sebagai VAK atau Visual, Auditory, dan Kinestetik
Penerapan 4 teori yang mendasari pembelajaran berdiferensiasi, guru harus dapat mengontrol atau mengendalikan 4 (empat) aspek pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas yaitu konten, proses, produk, dan lingkungan serta iklim belajar di kelas (Khristiani dkk., 2021).
1. Konten
Artinya adalah materi yang akan dipelajari siswa atau yang diajarkan guru di kelas. Konten yang digunakan disini dapat diidentifikasi dengan kebutuhan peserta didik. Strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat mendiferensiasi konten yang akan dipelajari oleh adalah:
Menggunakan materi yang bervariasi
Menggunakan Kontrak Belajar
Menyediakan pembelajaran mini
Menyajikan materi dengan berbagai moda pembelajaran
Menyediakan berbagai sistem yang mendukung
Contoh dari aspek konten diantaranya adalah guru memberikan materi terkait pembelajaran matematika. Guru harus memperhatikan kebutuhan peserta didik di dalam kelas tersebut. Apakah dalam pembelajaran tersebut peserta didik masuk dalam kategori teori ZPD dalam tingkatan potensial atau aktual. Serta tipe peserta didik yang visual atau audio-visual.
2. Proses
Artinya adalah kegiatan yang dilakukan peserta didik di dalam kelas. Dimana kegiatan ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
Baik, yaitu kegiatan yang menggunakan keterampilan informasi yang dimiliki peserta didik. Informasi disini dapat dilakukan dengan adanya pemantauan kebutuhan siswa dan menyesuaikan komponen pelajaran dengan kebutuhan tersebut (Kahmann dkk., 2022).
Berbeda dalam hal tingkat kesulitan dan cara pencapaiannya.
Proses atau kegiatan yang dilakukan peserta didik ini dapat juga dilakukan dengan menganalisis siswa menguji jawaban, menilai pekerjaan sehari-hari, mengamati siswa selama pelajaran dan (bila perlu) melakukan percakapan diagnostik. Kegiatan-kegiatan yang bermakna yang dilakukan oleh peserta didik di dalam kelas harus dibedakan juga berdasarkan kesiapan, minat, dan juga profil belajar peserta didik.
Contohnya adalah ketika di dalam kelas, peserta didik dilakukan tes diagnostik pada awal pembelajaran untuk mengetahui kemampuan peserta didik, kemudian peserta didik di kelompokkan berdasarkan kemampuannya agar bimbingan yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik sesuai akan porsi masing-masing siswa.
3. Produk
Artinya adalah hasil akhir dari pembelajaran untuk menunjukkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman peserta didik setelah menyelesaikan satu unit pelajaran atau bahkan setelah membahas materi pelajaran selama 1 semester. Hasil akhir ini dapat dibuat batasan oleh guru, produk apa yang akan dibuat, dengan memberikan kebebasan peserta didik untuk menentukan jalan yang mereka lewati dalam membuat sebuah produk. Sehingga di sini guru menuntun peserta didik sesuai dengan kodrat yang ada pada dirinya.
Contohya adalah ketika guru memerintahkan peserta didik untuk membuat karya puisi. Nah, dalam pembuatan produk puisi, peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih apakah Ia menulis dengan gambaran (kinestik), atau Ia membuat video membaca puisi dengan musik (kecerdasan musical) dan lain sebagainya.
4. Lingkungan Belajar
Lingkungan belajar yang dimaksud meliputi susunan kelas secara personal, sosial, dan fisik. Lingkungan belajar juga harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik dalam belajar, minat mereka, dan profil belajar mereka agar mereka memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Karena dengan lingkungan belajar yang ideal (bagi peserta didik) sesuai akan kenyamanannya, maka peserta didik juga akan melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik.
Contoh penerapan dalam lingkungan belajar adalah dengan mengatur posisi duduk siswa sesuai dengan kesepakatan kelas, baik menerapkan tempat duduk dengan model U, O, dan lain sebagainya.
Penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagian besar berfokus pada dampak positif terhadap siswa, akan tetapi di sisi lain, dampak terhadap guru agak diabaikan (Pozas dkk., 2023). Kesimpulannya, temuan penelitian ini menegaskan bahwa praktik pembelajaran berdiferensiasi oleh guru adalah “kepingan dua sisi” dalam hal fokus pada dampaknya terhadap guru, karena kurangnya waktu dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Untuk itu perlu adanya efesiensi waktu dari guru dalam menerapkan pembelajaran ini agar dalam penerapannya guru dan peserta didik masing-masing memiliki dampak yang baik (ANK).
Daftar Pustaka
Elviya, D. D., & Sukartiningsih, W. (2023). Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV Sekolah Dasar DI SDN Lakarsantri I/472 Surabaya. 11(08), 1780–1793.
Geel, M. Van, Keuning, C., & Ilen, S. (2022). Pengajaran dan Pendidikan Guru : Kepemimpinan dan Pengembangan profesional Faktor yang membantu dan menghambat. 1. https://doi.org/10.1016/j.tatelp.2022.100007
Kahmann, R., Droop, M., & Lazonder, A. W. (2022). Jurnal Internasional Penelitian Pendidikan. 116(September). https://doi.org/10.1016/j.ijer.2022.102072
Khristiani, H., Susan, E., Purnamasari, N., Purba, M., Anggraeni, & Saad, Y. (2021). Model Pengembangan Pembelajaran Berdiferensiasi Model Pengembangan Pembelajaran Berdiferensiasi. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran.
Pitaloka, H., Islam, U., & Agung, S. (2022). Pembelajaran Diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka. November, 2020–2023.
Pozas, M., Letzel-alt, V., & Schwab, S. (2023). Pengajaran dan Pendidikan Guru Pengaruh pengajaran yang berbeda terhadap stres guru dan kepuasan kerja *. 122. https://doi.org/10.1016/j.tate.2022.103962
