Sistem Zonasi: Semangat Belajar Menurun

Mahasiswa S1 PGSD Universitas Muhammadiyah Surabaya
Tulisan dari Andas Nidaa'an Khofiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sistem zonasi merupakan seleksi penerimaan siswa yang ditentukan sesuai jarak lokasi antara tempat tinggal siswa dan sekolah yang dituju. Diterapkannya sistem ini karena pemerintah memiliki pandangan untuk meratakan hasil belajar siswa sehingga tidak terjadi kesenjangan belajar-mengajar antara sekolah satu dengan lainnya. Sistem zonasi ini juga memiliki upaya dalam memudahkan peserta didik dalam menempuh jarak dari rumah ke sekolah yang cukup terjangkau sehingga kemungkinkan terjadinya hal negatif akan tampak berkurang.
Penerapan sistem ini membawa berbagai macam pertanyaan yang bermunculan. Salah satunya adalah “Pernahkah terasa dengan adanya sistem ini semangat belajar siswa makin menurun?”. Jika pengukuran itu menggunakan nilai hasil belajar, tidaklah pasti hal tersebut tertulis secara nyata. Karena hasil belajar siswa sendiri bersifat dinamis. Dapat diikatakan begitu, karena dapat ditemui beberapa siswa yang memiliki hasil belajar dengan nilai tinggi belum tentu kemampuan yang dimilikinya sesuai dengan nilai tersebut. Terlebih setelah pandemi covid-19 ini terjadi. Banyak ditemui siswa yang memiliki nilai tinggi dalam ujian akan tetapi, ketika dilontarkan pertanyaan yang sesuai dengan ujian tersebut dia tidak mampu untum menjawabanya.
Di sisi lain, dari segi karakteristik siswa dalam semangat belajar-mengajar di sekolah mulai menurun. Banyak ditemui siswa yang rumahnya dekat justru sering terlambat ketika tiba di Sekolah yang berakibat pada hasil belajar mereka. Padahal sebelum sistem zonasi ini diterapkan banyak dari siswa yang berlomba-lomba mencapai hasil belajar yang tinggi agar masuk dalam jajaran sekolah negeri favorit. Akan tetapi, setelah sistem ini diterapkan muncul berbagai macam persepsi siswa salah satunya adalah mereka beranggapan bahwa dengan nilai yang pas-pasan pastinya akan mudah untuk masuk di sekolah negeri, terlebih jika jaran rumah dan sekolah itu berdekatan. Hal ini berdampak pula pada sekolah-sekolah negeri yang berlebel favorit.
Dahulu sebelum diterapkannya sistem ini, para siswa-siswi akan terpancing untuk berlomba-lomba masuk sekolah favorit dengan berabagai macam bentuk prestasi mereka. Entah dari segi akademik maupun non-akademik. Memang belajar bukan hanya untuk masuk dalam jajaran sekolah favorit. Namun, dengan adanya sekolah favorit dapat menumbuhkan semnagat belajar-mengajar yang hal tersebut akan memancing semangat belajar setiap siswa. Jika sudah begini, apakah sistem zonasi masih diterapkan? (ANK)
