Konten dari Pengguna

Indonesia Jadi Pasar AI, Tapi Jangan Sampai Cuma Jadi Pengguna

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andhara Refa Yunia Utari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penggunaan AI dalam Pekerjaan by istockphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Penggunaan AI dalam Pekerjaan by istockphoto.com

Dulu, ketika orang membicarakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hal yang paling sering ditanyakan adalah “Apakah AI akan menggantikan manusia?” Sekarang, pertanyaannya mulai berubah. Bukan lagi hanya soal apakah AI akan mengambil pekerjaan manusia, tetapi juga siapa yang akan mendapatkan keuntungan paling besar dari perkembangan teknologi ini.

Pertanyaan itu semakin relevan di Indonesia. AI sudah masuk ke kehidupan sehari-hari, mulai dari mahasiswa yang menggunakan chatbot untuk mencari ide, pekerja yang memakainya untuk membuat laporan, sampai perusahaan yang mulai menggunakannya untuk mempercepat pekerjaan. Bahkan, menurut Microsoft Work Trend Index 2026, sebanyak 33% pekerja di Indonesia sudah masuk kategori Frontier Professionals, yaitu kelompok pekerja yang menggunakan AI secara lebih maju dalam pekerjaan mereka. Angka ini lebih dari dua kali rata-rata global sebesar 16%. Menariknya, 85% pengguna AI di Indonesia juga mengaku khawatir akan tertinggal apabila tidak cepat beradaptasi dengan perkembangan AI.

Artinya, AI bukan lagi teknologi yang hanya dibicarakan di konferensi teknologi. Ia sudah menjadi bagian dari persaingan di dunia kerja.

Di tengah perubahan tersebut, perusahaan teknologi multinasional juga semakin aktif masuk ke Indonesia. Salah satu contohnya adalah Microsoft. Pada September 2026, pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmen investasi Microsoft sebesar US$1,7 miliar untuk pengembangan infrastruktur cloud, AI, dan ekosistem digital Indonesia. Pemerintah bahkan menekankan bahwa investasi tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai pemasukan modal, tetapi juga menghasilkan transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan talenta, serta peningkatan kemampuan industri digital nasional.

Di satu sisi, tentu saja ini kabar baik.

Indonesia membutuhkan investasi, infrastruktur digital, dan kemampuan teknologi yang lebih kuat. Kehadiran perusahaan global juga dapat membuka akses terhadap teknologi yang sebelumnya sulit dikembangkan sendiri. Microsoft, misalnya, juga melaporkan bahwa lebih dari dua juta masyarakat Indonesia telah mengikuti pelatihan keterampilan AI melalui berbagai programnya.

Namun, ada satu pertanyaan yang menurut saya justru lebih penting, setelah perusahaan global datang membawa teknologi dan investasi, apa yang benar-benar tertinggal di Indonesia? Masalahnya bukan karena menggunakan teknologi asing adalah sesuatu yang buruk. Hampir semua negara saling bergantung dalam perkembangan teknologi. Masalah muncul ketika hubungan tersebut hanya membuat satu pihak menjadi pemilik teknologi dan pihak lainnya terus menjadi pasar.

AI membutuhkan banyak hal yang tidak terlihat oleh pengguna biasa. Ada pusat data, komputasi, cloud, chip, model AI, tenaga ahli, data, hingga infrastruktur pendukung. Semua itu membutuhkan modal dan penguasaan teknologi yang besar. Karena itu, persaingan AI sebenarnya bukan hanya tentang siapa yang memiliki chatbot paling pintar. Persaingannya juga tentang siapa yang menguasai infrastruktur dan kemampuan di belakang teknologi tersebut.

Pemerintah Indonesia sendiri tampaknya menyadari persoalan ini. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut penguasaan AI sebagai bagian dari posisi strategis negara dalam rantai pasok teknologi global. Pemerintah bahkan mulai mendorong konsep sovereign AI, yaitu upaya membangun kemampuan AI yang lebih mandiri, mulai dari model AI, infrastruktur komputasi, hingga talenta digital.

Ini penting karena Indonesia tidak bisa selamanya hanya bertanya, “AI apa yang bisa kita gunakan?” Kita juga harus mulai bertanya, “AI apa yang bisa kita bangun?”

Perubahan dunia kerja membuat pertanyaan tersebut semakin mendesak. Laporan PwC AI Jobs Barometer 2026 menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh sekitar 69%, hampir delapan kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang sebesar 9%. Pekerja dengan keterampilan AI juga memperoleh premi upah rata-rata sebesar 62%. Dengan kata lain, AI memang dapat menciptakan peluang. Tetapi peluang itu tidak otomatis akan dinikmati semua orang.

Pekerja yang memiliki kemampuan untuk menggunakan AI kemungkinan akan semakin dibutuhkan. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki akses terhadap teknologi dan kemampuan tersebut berisiko semakin tertinggal. Jadi, ketika perusahaan multinasional membawa AI ke Indonesia, persoalannya bukan sekadar berapa besar investasi yang masuk. Kita juga perlu melihat apakah investasi tersebut membuat pekerja Indonesia semakin mampu berdiri sendiri atau justru semakin bergantung pada teknologi yang mereka tidak kuasai.

Di sinilah pemerintah memiliki pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar menarik investasi. Investasi perusahaan global seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kemampuan nasional. Kalau perusahaan multinasional datang membawa pusat data, seharusnya ada peningkatan kapasitas tenaga ahli lokal. Kalau mereka membawa teknologi AI, seharusnya ada transfer pengetahuan. Kalau mereka membuka program pelatihan, seharusnya pelatihan tersebut tidak hanya membuat masyarakat semakin mahir menggunakan produk perusahaan, tetapi juga mendorong mereka menjadi pengembang, peneliti, insinyur, dan inovator. Sebab, ukuran keberhasilan investasi teknologi tidak seharusnya berhenti pada angka dolar yang masuk atau jumlah orang yang mengikuti pelatihan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah, berapa banyak kemampuan yang berhasil kita bangun setelah investasi itu masuk? Indonesia punya pasar yang sangat besar. Itu adalah kekuatan. Tetapi pasar yang besar juga bisa menjadi jebakan apabila kita hanya dilihat sebagai konsumen. Kita tentu tidak perlu menolak perusahaan teknologi global. Justru sebaliknya, Indonesia perlu memanfaatkan kehadiran mereka sebaik mungkin. Tetapi hubungan tersebut harus menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar semakin banyak orang yang menggunakan AI.

Indonesia harus memastikan bahwa ketika perusahaan global datang membawa teknologinya, mereka juga membantu menciptakan ekosistem yang membuat Indonesia semakin mampu mengembangkan teknologinya sendiri. Karena pada akhirnya, masa depan AI bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menggunakan teknologi. Masa depan AI juga ditentukan oleh siapa yang menguasainya. Dan Indonesia jangan sampai hanya menjadi pasar ketika negara lain menjadi pemilik masa depannya.