Gabriel Boric dan Milenial Indonesia

Penyusun Bahan Kebijakan pada Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden. Alumnus Program Sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Indonesia. Meminati isu-isu pemikiran dan kebijakan publik. Saat ini tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor.
Konten dari Pengguna
10 Januari 2022 17:05
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Andhika Beriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gabriel Boric, Presiden Cile terpilih di usia 35 tahun. Sumber foto: AP Photo/Luis Hidalgo
zoom-in-whitePerbesar
Gabriel Boric, Presiden Cile terpilih di usia 35 tahun. Sumber foto: AP Photo/Luis Hidalgo
ADVERTISEMENT
Media internasional geger dengan berita terbaru atas terpilihnya Gabriel Boric sebagai presiden terpilih Cile. Setidaknya ada dual hal menarik yang dapat dicatat dari peristiwa ini, pertama adalah usia Boric yang masih sangat muda saat terpilih (generasi milenial yang berusia 35 tahun), yang kedua adalah profil Boric yang merupakan aktivis mahasiswa aliran kiri yang dianggap menjadi pembela kebijakan protektif.
ADVERTISEMENT
Boric sebelumnya memiliki karier politik sebagai anggota parlemen Cile tahun 2013 dan tidak menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Boric menjanjikan kepemimpinan yang pro terhadap desentralisasi, pelayanan publik yang lebih baik, pluralitas masyarakat, dan memproteksi ekonomi Cile dari pasar bebas. Boric berjanji bahwa Cile yang merupakan tempat lahirnya neoliberalisme, juga akan menjadi kuburan dari kapitalisme.
Boric berhasil terpilih pada pemilu Cile yang diselenggarakan pada 19 Desember 2021 setelah mengalahkan kandidat lain, Jose Antonio Kast dengan selisih suara hingga 12 persen, Kast merupakan perbandingan terbalik dari Boric. Jika Boric identik dengan usia muda dan kelompok progresif, Kast berasal dari kelompok konservatif yang dianggap sebagai penerus kebijakan Pinochet di Cile, ditambah lagi statusnya sebagai generasi X (Kast lahir pada tahun 1966) yang kerap dilabel pro terhadap stabilitas dan sangat berorientasi pada kesuksesan karir.
ADVERTISEMENT
Fairy tale sepak terjang politik kaum muda, atau lebih tepatnya generasi milenial, memang mendapat cukup sorotan belakangan ini. Diawali dengan terpilihnya Jacinda Ardern sebagai Perdana Menteri Selandia Baru dari Partai Buruh pada tahun 2017. Ardern mendapatkan apresiasi global setelah keberhasilannya mengendalikan pandemi Covid-19 di negerinya dan, sebelumnya, menunjukkan respons empatik dalam tragedi teror yang terjadi di Masjid Al Noor, Christchurch.
Selain Ardern, seorang perempuan Nordik generasi milenial bernama Sanna Marin juga mencuri perhatian. Berselang dua tahun sejak terpilihnya Ardern, Marin juga terpilih di menjadi Perdana Menteri Finlandia, negeri yag menjadi kampiun model pendidikan anak. Marin menjadi Perdana Menteri Finlandia di usia yang lebih muda dari Boric, yakni 34 tahun.
Marin juga mendapatkan apresiasi di awal pandemi karena dianggap berhasil mengendalikan Covid-19 di negerinya. Marin bahkan mendapatkan kepercayaan sebesar 85% dari masyarakat Finlandia atas upaya pengendalian Covid-19. Sayangnya cerita positif ini harus sedikit tercoreng dengan sandungan kecil terkait etika isolasi mandiri Covid-19 yang dilanggar Marin pada sekitar awal Desember 2021.
ADVERTISEMENT

Milenial dan Bonus Demografi Indonesia

Keberhasilan generasi muda milenial dalam menyambut pergantian era di luar negeri, harapannya dapat menjalar pada generasi muda milenial di Indonesia. Sebuah takdir sejarah bahwa generasi muda milenial Indonesia dihadapkan pada dua tantangan besar dengan masa yang berdekatan.
Pertama adalah momen bonus demografi yang diperkirakan akan terjadi pada 2030. Bonus demografi ini tercipta saat komposisi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia non-produktif. Sedangkan yang kedua adalah pada tahun 2045 momen spesial 100 tahun kemerdekaan Indonesia atau biasa di-branding dengan sebutan Indonesia Emas.
Momen yang akan dilewati pada kurun 10 sampai 35 tahun lagi tersebut akan menempatkan generasi milenial Indonesia tampil sebagai pemimpin pada level elite baik tingkat nasional maupun daerah. Permasalahannya adalah bagaimana generasi milenial Indonesia siap menghadapi tantangan tersebut.
ADVERTISEMENT
Di tengah pandemi Covid-19, saat ini kondisi generasi muda sangat mengkhawatirkan. Indonesia tercatat menjadi negara ASEAN dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi mencapai 43,7% dari total TPT nasional.
Benar bahwa terjadi perubahan mindset di kalangan generasi muda untuk mendorong pembangunan dengan menjalankan wirausaha, misalnya dalam bentuk bisnis rintisan atau start-up. Namun jumlahnya tidak signifikan jika dibandingkan populasi generasi milenial. Ketimpangan ini justru menjadi potensi laten terawatnya kesenjangan di Indonesia. Sedangkan kesenjangan di belahan dunia mana pun, selalu menjadi penyebab instabilitas.
Kehadiran Boric di pentas kepemimpinan Cile, sebagaimana yang dapat dirangkum dari media, adalah wujud keberanian generasi muda dalam upaya menghadirkan alternatif baru kepemimpinan dan haluan pengelolaan negara. Boric adalah generasi muda yang lahir dari keberanian bersikap kritis pada kebijakan, hal yang dewasa ini justru dilihat secara skeptis oleh banyak generasi muda Indonesia.
ADVERTISEMENT
Seorang pemuda dan aktivis yang melegenda, Soe Hok Gie, dalam catatan hariannya yang fenomenal mengatakan bahwa makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi. Maka sikap idealisme dan heroisme generasi muda pada kebijakan dan kekuasaan tetap perlu dirawat dalam banyak forum dan media yang bisa menyalurkan hal tersebut, sebagai upaya kaderisasi calon pemimpin di masa depan dan mewariskan ingatan kolektif bangsa dari masa ke masa.
Sumber:
https://www.theguardian.com/world/2021/dec/20/gabriel-boric-vows-to-fight-privileges-of-the-few-as-chiles-premier
https://www.bbc.com/news/world-latin-america-59694056
https://www.theguardian.com/world/2019/mar/28/with-respect-how-jacinda-ardern-showed-the-world-what-a-leader-should-be
https://www.bbc.com/news/world-asia-53274085
https://www.bbc.com/news/world-europe-59577371
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/06/24/duh-tingkat-pengguran-terbuka-anak-muda-tertinggi
Gie, Soe Hok. 1983. Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES.
editor-avatar-0
editor-avatar-1
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020