Memaknai Reuni, Memaknai Api

penyuka anggrek gratisan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari edhie prayitno ige tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada perhelatan yang digagas mereka yang berusia di rentang terendah 40 tahun. Memilih lokasi di Pusat Pastoral Sandjaja Muntilan, sebuah lokasi luas dan mampu menampung semua kegelisahan plural. Mereka adalah alumni SMA Katolik Pendowo Muntilan, sebuah SMA swasta di kota kecil. Ada yang saat berjalan dipandu dengan tongkat, ada yang mesti didampingi karena tak lagi tegap saat melangkah. "Nyuwun sewu, angkatan kelulusan pinten? (Maaf angkatan lulusan tahun berapa?)," ada sapaan akrab. "Saya tahun 1987, panjenengan?" suara perempuan menjawab sopan. "Wah, adik kelas jauh. Saya tahun 1976," katanya.

Dialog ini seperti mewakili orang-orang yang hadir untuk saling mengenal kembali. Merajut jaringan baru dengan lebih dewasa dan sangat sopan. Wajah-wajah yang hadir mayoritas sudah dilukis dengan kerutan, rambut sudah berubah warna, minimal campuran antara hitam dan putih. Memang ada pengelompokan secara natural berdasarkan kesamaan tahun lulus. yang membawa kami kembali ke tahun 90-an. Saat mereka bersekolah dulu, jangankan AC, kipas angin saja termasuk barang mewah. Jauh jika dibandingkan dengan fasilitas sekolah negeri. "Banyak hal lucu dan konyol. Sekadar jajan di warungnya Bu Man, ambil tahu susur dicocol sambel kecap, selalu saja ada yang ngempang," obrolan ringan yang jauh dari flexing, pamer kesuksesan, pamer kekayaan.
Tawa meledak dan menggema di sudut ruang. Kopi, teh dan juga galantine adalah makanan mewah saat itu. Sekadar imajinasi bagi yang tak punya uang saku. Pada masanya, mereka adalah remaja penuh mimpi, menyontek PR, rebutan lemper, dan membayangkan diri jadi bintang rock atau profesi terhormat lainnya. "Waktu adalah api yang membakar kita, tetapi juga memberikan cahaya,” kata Heraclitus, filsuf Yunani ketika menggambarkan manusia yang dimakan waktu. Di ruang utama, kursi-kursi berderet rapi. Di setiap kelompok selalu ada perbincangan tentang waktu. Tak ada pembicaraan tentang capaian karier, lebih banyak perbincangan tentang keluarga, dan kenangan saat sekolah.
Banyak di antara mereka saling mengerti. Kadang cerita gembira sebagai penghibur atas sejumlah kegagalan rencana dalam hidup. Tentang rumah tangga yang berantakan, tentang bisnis yang lumpuh, tentang karier yang terhambat orang dalam. "Ragilku sekarang semester lima. Doanya saja bisa menikmati jurusan yang dipilih," kata salah satu di sudut ruangan. Semua saling memahami. Ada cerita yang tak diucapkan. Malam-malam begadang menjaga anak atau suami atau istri di rumah sakit, ada juga kisah cekcok soal tagihan listrik.
Di antara para alumni sekolah swasta ini seakan saling sepakat bahwa hidup adalah seni menanggung beban dengan anggun. Ada mantan kepala sekolah, Agustinus Sutarjono. Ia saat menjabat kepala sekolah dianggap galak. Banyak yang menghindar saat itu. "Pak saya yang selalu rajin ke ruangan bapak karena telat bayar SPP. Matur nuwun sekali beberapa kali bapk dengan uang pribadi menanggung SPP saya. Dan baru belakangan saya tahu, saat itu gaji bapak amat kecil. Matur nuwun sanget, tanpa bantuan bapak saya nggak akan seperti ini," kata salah satunya, menyalami dan akhirnya memeluk pak Jon. Rambutnya yang makin banyak putih, langkahnya yang pelan karena lututnya rewel, tapi matanya ternyata masih menyala seperti dulu saat menegakkan aturan sekolah. Dia mengerutkan kening, lalu wajahnya melebar dengan senyum lebar. “Kamu! Si bandel yang selalu bikin repot tapi punya prestasi," katanya. Ia tertawa. Tapi di matanya yang menyala terlihat ada bendungan air yang hampir ambrol. Mereka kelihatan sangat ingin bercerita banyak hal. Tapi semua kata seperti tersangkut. “Kamu baik-baik aja sekarang, kan? Semua juga sehat? Itu cukup buat saya," kata Pak Jon.
Saat itulah ucapan Henry David Thoreau, seorang filsuf, penulis, dan naturalis Amerika abad ke-19 seperti membuktikan bahwa kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tak pernah gagal. Pak Jon adalah bukti nyata kalimat itu. Demikian pula dengan guru-guru lain, Laurentia Endang Aryantini, Enny Kristyowati, Indwari Jeanne d'Arch, Umi Sayekti, Iswati Wijaya, mbak Iik yang guru sejarah dan membumikan sejarah, serta deretan guru lain. Semua intens dalam obrolan tanpa jarak. Murid yang dulu takut dengan guru saat malas mengerjakan tugas, berubah menjadi kisah jenaka, diubah oleh waktu. "Saat ini justru lebih takut gagal diet," kata salah satu mantan muridnya. "Malah kalau mau makan, lebih menakutkan naiknya kadar gula," sahut yang lain.
Begitulah, ternyata ketakutan itu tetap ada namun berbeda wujud. Ini serupa dengan keyakinan bahwa manusia tidak pernah melihat dua kali hal yang sama. Bagi guru dan muridnya yang sama-sama menapak usia senja, reuni ini bukan cuma soal teman lama, tapi bertemu versi muda mereka yang penuh mimpi, dan penerimaan apapun saat ini. “Kebahagiaan sejati adalah ketika kita menerima diri kita sendiri,” kata Aristoteles, seorang filsuf Yunani. Sesi foto bersama jadi puncak emosi. Guru dan alumni berjejer seperti dulu saat upacara bendera. Kamera berkedip, dan untuk sesaat, kumpulan manusia yang tak muda itu, kembali menjadi remaja. Saat fotografer menghitung mundur, tak ada kerutan beban hidup, tak ada tunggakan cicilan, tak ada penyesalan. Selesai foto, mereka memasuki dunia nyata kembali. “Jangan lupa tag di grup WA, atau akun media sosial lainnya,” teriak seseorang, dan tawa pecah Reuni Akbar Alumni SMA Katolik Pendowo Muntilan seperti cermin tua. Menunjukkan siapa mereka dulu, siapa sekarang, dan apa yang dirindukan. “Hidup adalah misteri yang harus dijalani, bukan masalah yang diselesaikan,” kata Kierkegaard, filsuf eksistensialis Denmark. [][][]
