Konten dari Pengguna

Kenapa Selalu Jawa? Menimbang Bisnis di Balik Horor Nusantara

Andhika Septian Ardyasena

Andhika Septian Ardyasena

Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andhika Septian Ardyasena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

iIlustrasi budaya Jawa dalam representasi film horor Indonesia. (Sumber Foto: AI)
zoom-in-whitePerbesar
iIlustrasi budaya Jawa dalam representasi film horor Indonesia. (Sumber Foto: AI)

Nyaris setiap tahun layar bioskop indonesia dipenuhi horor berlatar Jawa. Ada kemenyan, tembang tengah malam, dukun, santet, dan malam Satu Suro. Pola ini sudah begitu lazim sampai muncul anggapan bahwa film horor Indonesia akan laris kalau memakai atribut Jawa. Resepnya seakan sudah baku: judul berkosakata Jawa, tokoh berkostum dukun, adegan kesurupan dengan mantra, tembang Jawa sebagai musik latar, lalu kembang dan dupa sebagai pelengkap.

Masalahnya, budaya Jawa tidak sesempit itu. Ia menyimpan filosofi tentang keselarasan manusia dengan alam, sesama, dan Yang Ilahi. Sayangnya, yang sampai ke penonton sering kali hanya sisi gelapnya. Pertanyaannya: kenapa selalu Jawa, dan kenapa selalu seram?

Pertama, soal bisnis. Produksi film berlatar Jawa tampaknya lebih praktis. Pusat industri film berada di Jawa, sehingga kru, lokasi, dan perizinan lebih mudah dijangkau dibanding syuting di daerah lain yang butuh biaya dan logistik lebih besar. Dengan kata lain, budaya Jawa mungkin dipilih bukan semata karena paling "angker", tetapi karena paling efisien dan paling aman secara pasar.

Kedua, soal komersial. Ketika satu formula terbukti laris, industri cenderung mengulangnya. KKN di Desa Penari menjadi salah satu film horor terlaris sepanjang masa, dan banyak judul sesudahnya diadaptasi dari kisah viral yang sudah punya basis penggemar. Hasilnya adalah lingkaran: laris, diproduksi lagi, makin lekat dengan citra seram.

Ketiga, soal penonton. Apakah penonton horor Indonesia kebanyakan orang Jawa? Sejauh ini belum ada data demografi etnis penonton yang bisa dijadikan pegangan, jadi klaim itu sebaiknya tidak dianggap fakta. Yang bisa dikatakan, mitos Jawa akrab bagi banyak orang Indonesia karena Jawa adalah pusat penduduk sekaligus pusat industri film. Kedekatan itulah yang membuat rasa takutnya terasa nyata.

Lalu apa salahnya? Dampaknya terasa pada cara kita memandang budaya itu sendiri. Ketika penonton terus disuguhi gambaran yang sama, tembang Jawa dianggap pemanggil makhluk halus, malam Satu Suro dianggap malam teror, dan dukun dianggap selalu jahat. Padahal banyak tradisi punya makna yang jauh lebih luas, bahkan sebagian berakar pada pengetahuan masyarakat tentang alam. Generasi muda yang tidak pernah diperkenalkan pada sisi lain budaya ini bisa tumbuh dengan kesan bahwa Jawa identik dengan klenik.

Jadi, siapa yang salah? Bukan genre horornya. Horor sah dan sehat sebagai hiburan. Yang perlu dikritik adalah kemalasan menggali konteks: budaya dipakai sebagai kostum, bukan sebagai sumber cerita. Penonton pun perlu lebih kritis dan bertanya, "Apakah ini benar mencerminkan budayanya?"

Industri film punya pilihan. Horor bisa tetap menakutkan sekaligus memberi ruang bagi makna, misalnya dengan melibatkan budayawan sebagai konsultan, menjelaskan konteks tembang atau ritual, atau menjadikan tokoh penjaga adat sebagai pahlawan, bukan penjahat. Menurutku, rasa takut dan rasa hormat tidak harus saling meniadakan.