Konten dari Pengguna

Cognitive Offloading? Mungkin Sudah Waktunya Anak Kembali Menulis dengan Tangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari A Muh Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai dosen, saya mulai melihat perubahan yang cukup nyata dalam cara mahasiswa mengerjakan tugas. Banyak tulisan yang saya terima terlihat semakin rapi, dan menggunakan bahasa akademik yang baik. Namun, ketika saya meminta mahasiswa menjelaskan kembali isi tugasnya, tidak sedikit yang kesulitan menguraikan gagasannya sendiri. Saya kemudian mencoba mengubah pola pembelajaran dengan mengurangi ketergantungan pada tugas digital dan memberi ruang lebih banyak untuk ceramah singkat, diskusi, serta catatan tangan dalam bentuk portofolio. Hasilnya menarik. Mahasiswa menjadi lebih aktif mencatat, lebih banyak bertanya, dan lebih mudah mengingat kembali pembahasan ketika diskusi berlangsung. Dari pengalaman sederhana itu muncul pertanyaan: di tengah kemudahan AI, jangan-jangan kita sedang membuat proses belajar terlalu mudah?

Sumber gambar: Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (ChatGPT), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (ChatGPT), 2026.

Kecerdasan buatan memang telah mengubah cara kita belajar. Pelajar sekarang dapat meminta AI membuat kerangka tulisan, menjelaskan teori, menyusun paragraf, memperbaiki bahasa, hingga membuat kesimpulan. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Dari sisi efisiensi, ini jelas kemajuan.

Namun pendidikan tidak semata-mata bertujuan menghasilkan tugas yang selesai. Pendidikan juga bertujuan membentuk kemampuan seseorang untuk membaca, memahami, mengingat, menghubungkan informasi, menyusun argumen, dan mengambil keputusan. Semua kemampuan tersebut membutuhkan latihan. Ketika sebagian besar proses itu diserahkan kepada mesin, ada kemungkinan siswa memperoleh jawaban tanpa mengalami proses kognitif yang seharusnya menyertai pencarian jawaban tersebut.

Kekhawatiran semacam ini mulai mendapatkan perhatian dalam penelitian. Studi eksperimental yang diterbitkan pada 2025 terhadap mahasiswa menemukan bahwa kelompok yang menggunakan ChatGPT dalam proses belajar memperoleh skor retensi pengetahuan yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang belajar dengan metode tradisional setelah 45 hari. Peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan berkurangnya usaha kognitif ketika sebagian pekerjaan belajar dialihkan kepada AI.

Hal yang sama terlihat dalam penelitian lain terhadap 580 mahasiswa yang dipublikasikan dalam Acta Psychologica pada 2025. Penelitian tersebut menemukan hubungan antara ketergantungan yang lebih tinggi pada AI dan kemampuan berpikir kritis yang lebih rendah. Salah satu faktor yang dibahas adalah cognitive offloading, yaitu kecenderungan memindahkan sebagian pekerjaan mental kepada alat eksternal. Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kemampuan literasi informasi dapat memengaruhi hubungan tersebut.

Di sinilah kita perlu membedakan antara menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir dan menggunakan AI sebagai pengganti berpikir.

Seorang siswa yang meminta AI memberikan pertanyaan kritis terhadap tulisannya masih melakukan proses berpikir. Mahasiswa yang meminta AI menunjukkan kelemahan argumennya kemudian memperbaikinya juga sedang belajar. Tetapi ketika tugas diberikan, AI membuat seluruh jawaban, siswa hanya menyalin, sedikit mengubah kalimat, kemudian mengumpulkannya, proses belajarnya menjadi jauh lebih tipis.

Karena itu, di tengah pembicaraan tentang AI, saya justru tertarik pada sesuatu yang sangat sederhana dan mungkin dianggap kuno: menulis dengan tangan.

Penelitian Mueller dan Oppenheimer pada 2014 menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan menunjukkan keunggulan tertentu dalam menjawab pertanyaan konseptual dibandingkan mahasiswa yang mencatat menggunakan laptop. inti dari riset ini adalah pengguna laptop cenderung mencatat secara lebih verbatim, sedangkan tulisan tangan mendorong mahasiswa untuk memilih dan mengolah informasi dengan kata-kata sendiri.

Namun, penelitian tidak berhenti di sana. Studi replikasi pada 2021 tidak menemukan keunggulan langsung yang konsisten dari menulis tangan terhadap mengetik dalam hasil belajar segera.

Tetapi menurut saya, persoalannya memang bukan sekadar mana yang lebih unggul: kertas atau laptop. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan pikiran ketika seseorang menulis. Menulis tangan membuat proses belajar berjalan sedikit lebih lambat. Siswa harus memilih apa yang dianggap penting, merangkum, mengingat, menyusun kata, mencoret, memperbaiki, lalu melanjutkan. Kesalahan tetap ada. Tulisan mungkin tidak sempurna. Tetapi justru di dalam proses yang tidak sempurna itu terdapat latihan berpikir.

AI menghilangkan banyak hambatan tersebut. Dalam hitungan detik, sebuah halaman kosong dapat berubah menjadi tulisan yang rapi. Tetapi halaman kosong sebenarnya bukan musuh dalam pendidikan. Halaman kosong adalah ruang tempat gagasan pertama kali dipaksa muncul.

Karena itu, mungkin yang perlu kita lakukan bukan melarang AI, melainkan menciptakan kembali ruang belajar yang tidak selalu bergantung pada AI.

Kita bahkan mungkin perlu mengenalkan konsep sederhana: zona belajar tanpa AI. Bukan sepanjang waktu. Hanya pada bagian pembelajaran tertentu yang memang bertujuan melatih ingatan, pemahaman, argumentasi, kreativitas, dan refleksi pribadi.

Sebab di masa depan, anak-anak kita akan hidup berdampingan dengan AI. Mereka harus mampu menggunakan AI, tetapi juga harus mampu bekerja ketika AI tidak tersedia. Mereka harus mampu menilai jawaban mesin, bukan sekadar menerimanya. Mereka harus mampu memiliki pendapat sendiri, bukan hanya memilih jawaban yang paling meyakinkan dari layar.

UNESCO sendiri dalam panduannya mengenai generative AI dalam pendidikan menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia dan perlunya menjaga kemampuan kognitif serta keterlibatan manusia dalam proses pendidikan. Kekhawatiran terhadap penggunaan AI yang membuat aktivitas menulis menjadi semacam writing without thinking menjadi relevan dalam konteks ini.

Anak tetap perlu membaca dari buku. Perlu berdiskusi dengan teman. Perlu bertanya kepada guru. Perlu mengalami kebingungan ketika mencari jawaban. Perlu membuat kesalahan. Dan jika perlu duduk dengan selembar kertas kosong dan menulis apa yang benar-benar ada di dalam pikirannya.

Sebab ketika AI semakin pandai menghasilkan jawaban, nilai manusia justru semakin terletak pada kemampuan untuk memahami, mempertanyakan, menilai, dan menciptakan gagasan sendiri.