Konten dari Pengguna

Kebijakan Transisi PAUD-SD: Anak Dipaksa Siap, Guru Justru Belum Disiapkan

A Muh Ali

A Muh Ali

Dosen tetap Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Makassar yang aktif mengajar, meneliti, dan menulis tentang pendidikan dasar, pembelajaran, teknologi pendidikan, serta isu-isu sosial dalam dunia anak dan sekolah.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari A Muh Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menggambarkan tekanan yang dialami anak dan guru dalam transisi PAUD ke SD. Anak dituntut cepat menguasai calistung, sementara guru kelas awal menghadapi beban adaptasi, target akademik, dan kesiapan pedagogik yang belum sepenuhnya didukung sistem pendidikan. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menggambarkan tekanan yang dialami anak dan guru dalam transisi PAUD ke SD. Anak dituntut cepat menguasai calistung, sementara guru kelas awal menghadapi beban adaptasi, target akademik, dan kesiapan pedagogik yang belum sepenuhnya didukung sistem pendidikan. Foto: Generated by AI

Hari pertama masuk SD sering dianggap sebagai tahap biasa dalam kehidupan anak. Seragam baru, tas baru, sepatu baru, dan ruang kelas baru menjadi simbol dimulainya pendidikan formal. Bagi anak usia dini, momen ini sesungguhnya jauh lebih besar maknanya daripada sekadar pergantian jenjang sekolah.

Anak memasuki lingkungan sosial baru dengan aturan, ritme belajar, dan tuntutan yang berbeda dibanding saat berada di PAUD. Mereka akan mulai belajar duduk lebih lama, mengikuti instruksi yang sedikit lebih formal, berinteraksi dengan teman baru, serta menyesuaikan diri dengan budaya sekolah dasar.

Sayangnya, transisi PAUD ke SD di Indonesia masih sering dipahami sebatas kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Anak yang belum lancar calistung kerap dianggap belum siap sekolah. Orang tua akhirnya berlomba memasukkan anak ke les akademik sejak usia dini.

Pemerintah sebenarnya mulai mengubah cara pandang tersebut melalui program transisi PAUD ke SD yang menyenangkan. Program ini menekankan bahwa kesiapan sekolah mencakup kemampuan sosial, emosional, bahasa, motorik, kemandirian, dan karakter anak. Anak yang mampu beradaptasi, percaya diri, dan nyaman berada di lingkungan baru, juga termasuk anak yang siap masuk SD.

Ilustrasi anak Sekolah Dasar. Foto: Shutterstock

Persoalannya, kesiapan transisi bukan hanya tentang anak. Sekolah dan guru juga menghadapi tantangan besar, terutama guru kelas awal SD.

Mengajar kelas 1 dan 2 SD membutuhkan pendekatan yang berbeda dibanding kelas tinggi. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendampingi proses adaptasi anak terhadap dunia sekolah. Mereka menghadapi siswa yang masih mudah menangis, sulit fokus, belum mandiri, bahkan belum terbiasa mengikuti aturan kelas. Situasi ini membuat tidak semua guru merasa nyaman mengajar di kelas awal.

Di banyak sekolah, terdapat anggapan bahwa mengajar kelas tinggi lebih mudah dibanding kelas rendah. Siswa kelas 4, 5, dan 6 dinilai lebih mandiri, lebih tenang, dan lebih siap mengikuti pembelajaran akademik. Sebaliknya, kelas awal membutuhkan kesabaran tinggi, kemampuan komunikasi yang hangat, dan pemahaman perkembangan anak usia dini.

Sejumlah penelitian menunjukkan persoalan tersebut.

Riset mengenai kesiapan guru kelas rendah menemukan bahwa pembelajaran di fase awal sekolah membutuhkan kompetensi pedagogik dan psikologis yang kuat, terutama dalam mendampingi perkembangan literasi anak.

Ilustrasi guru. Foto: Ardiansyah/ANTARA FOTO

Penelitian lain tentang kesulitan guru dalam pembelajaran membaca permulaan menunjukkan bahwa banyak guru mengalami tantangan ketika menghadapi kemampuan siswa yang sangat beragam di kelas awal.

Masalah ini semakin terasa ketika sekolah tetap menuntut capaian akademik tinggi sejak awal masuk SD. Guru kelas awal harus membantu anak beradaptasi secara emosional, sambil mengejar target agar siswa cepat membaca dan menulis.

Akibatnya, ruang kelas sering berubah menjadi tempat yang menegangkan, bukan ruang belajar yang ramah bagi anak usia dini.

Pemerintah sebenarnya telah menekankan pentingnya pembelajaran yang menyenangkan pada masa transisi PAUD-SD. Dalam kebijakan target perubahan gerakan transisi PAUD-SD, sekolah didorong menghadirkan masa pengenalan lingkungan belajar dan penguatan enam kemampuan fondasi anak. Pendekatan ini mencoba menggeser orientasi pendidikan dasar dari sekadar target akademik menuju kesiapan belajar yang lebih manusiawi.

Ilustrasi anak-anak PAUD. Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan

Namun, perubahan kebijakan tidak selalu langsung mengubah budaya sekolah. Banyak orang tua masih menganggap anak pintar adalah anak yang cepat membaca.

Sebagian sekolah juga tetap menjadikan kemampuan akademik sebagai ukuran utama keberhasilan siswa baru. PAUD akhirnya berubah menjadi tempat latihan masuk SD. Anak-anak kehilangan ruang bermain dan eksplorasi yang seharusnya menjadi bagian penting masa perkembangan mereka.

Transisi PAUD ke SD seharusnya dipahami sebagai proses sosial, bukan sekadar perpindahan administrasi pendidikan. Anak sedang belajar mengenali lingkungan baru, membangun rasa aman, dan membentuk kepercayaan dirinya sebagai pelajar.

Sekolah dasar tidak cukup hanya meminta anak siap belajar. Sistem sekolah juga perlu siap menerima karakteristik anak usia dini secara utuh. Sebab, masuk SD bukan perlombaan siapa paling cepat membaca, melainkan anak bisa mengenal dunia belajar dan kehidupan sosial yang lebih luas.