Konten dari Pengguna

Mengawal Guru-guru di Papua Memperoleh Hak Kesejahteraan yang Sama

A Muh Ali

A Muh Ali

Dosen tetap Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Makassar yang aktif mengajar, meneliti, dan menulis tentang pendidikan dasar, pembelajaran, teknologi pendidikan, serta isu-isu sosial dalam dunia anak dan sekolah.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari A Muh Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi Pembukaan pendampingan guru daerah khusus terkendala internet di Aula SMP Waren Papua
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi Pembukaan pendampingan guru daerah khusus terkendala internet di Aula SMP Waren Papua

terus diperkuat melalui berbagai kebijakan strategis, salah satunya program sertifikasi guru yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dalam menjalankan program tersebut, Direktorat PPG menggandeng berbagai LPTK pelaksana di seluruh Indonesia, termasuk LPTK PPG Universitas Negeri Makassar (UNM) yang ditugaskan mendampingi guru-guru di daerah khusus (DASUS) yakni daerah tertinggal tanpa jaringan internet.

Dalam penugasan inilah, penulis hadir langsung ke lapangan tetapnya di Kabupaten Waropen (PAPUA) untuk memastikan proses pendampingan berjalan secara optimal. Pendampingan ini bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi sebuah misi kemanusiaan, pengabdian profesi, dan bentuk nyata kontribusi akademik untuk daerah 3T. Medan yang berat, jaringan internet yang tidak tersedia, serta keterbatasan sarana pembelajaran menggambarkan betapa uniknya tantangan pendidikan di wilayah Papua.

Meski demikian, semangat para guru Papua tetap luar biasa. Banyak di antara mereka harus berjalan kaki, menyeberangi sungai kecil, atau menggunakan perahu sederhana hanya untuk mengikuti kegiatan pendampingan. Mereka datang dengan niat kuat untuk meningkatkan kompetensi profesional, meski mengajar di kelas sederhana dengan fasilitas yang serba terbatas.

Dalam proses pendampingan, penulis membantu guru-guru memahami materi tentang profesi guru, menyusun dokumen yang diperlukan, hingga melakukan validasi berkas secara manual. Proses yang biasanya dilakukan secara daring terpaksa dialihkan menjadi serba luring karena tidak adanya akses internet. Diskusi tatap muka, lembar kerja fisik, dan penjelasan sederhana menjadi metode utama.

Kehadiran penulis di lapangan memperlihatkan bagaimana implementasi kebijakan pemerintah benar-benar menyentuh daerah yang paling membutuhkan. Kolaborasi antara Direktorat PPG dan LPTK PPG UNM menjadi bukti bahwa peningkatan kualitas guru tidak hanya dilakukan di ruang rapat atau forum seminar, tetapi melalui kehadiran nyata di lapangan—di tempat di mana guru-guru membutuhkan dukungan langsung.

Pengalaman ini juga menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan bukan hanya tentang pemerataan fasilitas, melainkan juga pemerataan kesempatan untuk berkembang. Program sertifikasi ini memastikan bahwa setiap guru, tanpa memandang lokasi, tetap memiliki akses yang sama terhadap peningkatan profesionalitas.

Pada akhirnya, mendampingi guru Papua untuk mengikuti sertifikasi nasional membuka kesadaran bahwa kualitas pendidikan Indonesia dibangun oleh orang-orang yang bekerja dalam diam, di pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Semangat para guru Papua, komitmen pemerintah melalui Direktorat PPG, serta keterlibatan LPTK PPG UNM adalah bukti bahwa negara hadir hingga ke ujung negeri.

Di daerah tanpa sinyal, justru terasa kuat sinyal perjuangan untuk memajukan pendidikan. Dan dari sanalah harapan itu tumbuh.