Konten dari Pengguna

Jejak QRIS Mendunia

Andi Burhanuddin Sultan

Andi Burhanuddin Sultan

Pegawai di Bank Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andi Burhanuddin Sultan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi QRIS Indonesia-Tiongkok, gambar dari generative AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi QRIS Indonesia-Tiongkok, gambar dari generative AI

Dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia menyampaikan target peluncuran konektivitas pembayaran QRIS Indonesia–Tiongkok pada 30 April 2026. Momentum ini menarik bukan semata karena menambah cakupan penggunaan QRIS lintas negara, tetapi juga karena menandai langkah maju dalam penguatan konektivitas pembayaran digital kawasan.

QRIS Cross -Border terus diperluas

Implementasi konektivitas pembayaran QRIS Indonesia–Tiongkok sejatinya merupakan kelanjutan dari perjalanan QRIS cross-border yang telah lebih dulu terbangun dengan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang, serta diperluas ke Korea Selatan, sementara Arab Saudi juga tengah dipersiapkan terutama untuk mendukung ekosistem pembayaran jemaah haji dan umrah. Sejak diluncurkan, kerja sama ini menunjukkan bahwa interoperabilitas pembayaran lintas negara bukan sekadar konsep, tetapi telah menghadirkan kemudahan nyata bagi wisatawan dan pelaku usaha melalui transaksi yang lebih seamless, efisien, dan inklusif. Pengalaman implementasi tersebut juga memberi pembelajaran penting mengenai efisiensi transaksi lintas batas, penguatan ekosistem pembayaran regional, hingga pemanfaatan mata uang lokal dalam mendukung integrasi ekonomi.

Di tengah percepatan transformasi ekonomi digital global, inisiatif ini dapat dipandang lebih dari sekadar inovasi teknis. Ia merefleksikan bagaimana sistem pembayaran kini semakin menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi modern yang menopang integrasi lintas batas. Jika sebelumnya sistem pembayaran lebih banyak dipahami sebagai alat efisiensi domestik, kini perannya berkembang menjadi enabler konektivitas ekonomi regional.

Ada simbolisme kuat ketika QRIS hadir di Tiongkok. Ini bukan sekadar interoperabilitas antar sistem pembayaran, tetapi pengakuan bahwa standar yang lahir di Indonesia punya kredibilitas untuk terkoneksi di salah satu ekosistem digital paling maju di dunia. QRIS yang lahir untuk menyederhanakan pembayaran domestik tumbuh melampaui fungsi awalnya. Ia berkembang menjadi infrastruktur strategis yang menopang konektivitas kawasan. Jika dulu Indonesia banyak membuka ruang bagi inovasi global, kini Indonesia mulai ikut menawarkan inovasinya ke panggung internasional. Momentum ini menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti arus transformasi digital, tetapi ikut membentuk arus itu.

Yang menarik, kemajuan seperti ini sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Hanya melalui satu kode QR, tercipta jembatan transaksi yang menghubungkan pelaku ekonomi lintas negara. Di balik kesederhanaannya, terdapat fondasi besar berupa standardisasi, tata kelola, kepercayaan sistem, dan koordinasi antarotoritas. Inovasi besar memang sering bekerja dalam diam.

Potensi Ekonomi QRIS Cross-Border

Dalam perspektif ekonomi, potensi manfaatnya cukup luas. Bagi wisatawan, konektivitas pembayaran membuka pengalaman transaksi yang lebih seamless, efisien, dan nyaman. Hambatan seperti penukaran tunai atau biaya transaksi tertentu dapat semakin berkurang. Bagi sektor usaha, khususnya UMKM yang terhubung dengan ekosistem pariwisata, hal ini dapat membuka peluang spillover ekonomi melalui akses transaksi yang lebih luas.

Ketika Sistem Pembayaran Menjadi Instrumen Diplomasi Di titik ini, QRIS lintas negara tidak lagi sekadar cerita teknologi. Ia sudah masuk ke ranah diplomasi ekonomi. Jika dulu konektivitas antarnegara dibangun lewat pelabuhan, jalur dagang, dan perjanjian perdagangan, hari ini sebagian dibangun melalui payment connectivity dan standard setting. Ini wajah baru diplomasi. QRIS telah menjadi bentuk soft power Indonesia—bukan lewat budaya atau politik, melainkan lewat infrastruktur sistem pembayaran. Dan justru di situlah kekuatannya. Indonesia sedang menunjukkan bahwa kontribusi pada integrasi kawasan bisa datang melalui sistem pembayaran yang inklusif, efisien, dan saling terkoneksi.

Mungkin karena hanya berupa QR code, banyak yang melihat ini sebagai langkah teknis biasa. Padahal mungkin ini penanda perubahan yang lebih besar. Di balik satu scan, ada cerita tentang Indonesia yang bukan lagi sekadar menerima standar global, tetapi mulai mengirim standar ke luar negeri. Ada cerita tentang kedaulatan digital yang menguat. Ada cerita tentang diplomasi ekonomi yang kini bisa dipindai. 30 April nanti, mungkin bukan hanya tanggal implementasi konektivitas pembayaran. Bisa jadi itu adalah penanda bahwa Indonesia sedang naik kelas dalam arsitektur ekonomi digital kawasan. Karena kadang sebuah lompatan besar memang dimulai dari hal yang sederhana— bukan dari perjanjian besar, tetapi dari satu kode QR.