Konten dari Pengguna

Menjemput Nilai Tambah: Jalan Panjang Transformasi Ekonomi Bengkulu

Andi Burhanuddin Sultan

Andi Burhanuddin Sultan

Pegawai di Bank Indonesia.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andi Burhanuddin Sultan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi / AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi / AI

Optimistis menuju Bengkulu sebagai motor baru pertumbuhan di Sumatera, Seperti kopi Bengkulu yang aromanya mampu menembus dunia, nilai tambah ekonomi pun harus kembali kepada rakyatnya

*Tulisan merupakan opini pribadi dan tidak mewakili lembaga tempat bekerja

Di kaki Bukit Kaba, seorang petani kopi memulai hari dengan memetik buah merah. Harapannya sederhana: hasil panen itu cukup untuk membayar kebutuhan harian. Tetapi ketika kopi hanya dijual dalam bentuk mentah, harga yang ia peroleh tidak sebanding dengan harga kopi seduh di sebuah coffee shop. Nilai tambah justru tercipta saat biji itu berubah menjadi minuman hangat di kafe-kafe kota besar, bahkan di mancanegara. Sebuah paradoks Bengkulu: kaya akan sumber daya, tapi masih terperangkap dalam rantai nilai yang pendek.

Ekonomi Satu Kaki

Masalah mendasar Bengkulu adalah “ekonomi satu kaki”. Industri pengolahan dan jasa modern belum menjadi tulang punggung. Padahal, di sinilah letak nilai tambah. Petani kopi misalnya, hanya menjual biji mentah, padahal harga bisa melonjak berkali lipat bila diolah dan dikemas dengan merek lokal. Nelayan Bengkulu pun masih menjual ikan segar, sementara potensi olahan laut dari fillet hingga produk ekspor beku justru diambil daerah lain.

Pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan II-2025 tercatat 4,99 % (yoy), dengan lonjakan signifikan di sektor jasa. Namun, struktur ekonomi Bengkulu masih rapuh karena terlalu bertumpu pada sektor primer: pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sektor ini memang menyerap tenaga kerja terbesar, tetapi produktivitasnya rendah dan sangat bergantung pada fluktuasi harga global. Jika harga sawit atau kopi jatuh, langsung terasa di dapur masyarakat.

Investasi, Hilirisasi dan Infrastruktur

Salah satu kunci pertumbuhan ekonomi jangka panjang terletak pada hilirisasi. Sektor perkebunan seperti kelapa sawit dan kopi, serta perikanan, memiliki peluang besar jika tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Hal ini sejalan dengan rekomendasi agar hilirisasi pertanian dan industri pengolahan didukung dengan investasi mekanisasi, orientasi ekspor, serta insentif khusus.

Selain itu, sektor perdagangan dan transportasi juga membutuhkan modernisasi. Pengembangan fasilitas logistik, dan pelabuhan yang lebih modern seperti revitalisasi Pulau Baai akan membuka akses pasar yang lebih luas. Dengan begitu, Bengkulu yang selama ini menjadi pemasok bahan mentah, dapat menjadi salah satu pusat distribusi dan perdagangan, setidaknya di regional.

Selain faktor hilirisasi dan infrastruktur, salah satu pendorong utama pertumbuhan adalah kemudahan investasi. Investor tentu mencari daerah yang menawarkan kepastian hukum, perizinan yang sederhana, dan biaya transaksi yang efisien. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus menciptakan iklim investasi yang ramah dan kompetitif.

Untuk mendorong masuknya investasi, Bengkulu perlu menghadirkan ekosistem yang ramah dan efisien, mulai dari digitalisasi layanan perizinan agar lebih cepat dan transparan, pemberian insentif fiskal bagi sektor prioritas seperti industri pengolahan, pariwisata, dan energi terbarukan, hingga pengembangan zona ekonomi khusus atau kawasan industri yang didukung infrastruktur memadai. Tidak kalah penting, konsistensi kebijakan daerah harus dijaga sehingga investor merasa yakin dengan stabilitas regulasi jangka panjang. Dengan kombinasi langkah ini, Bengkulu dapat menjadi destinasi investasi yang kompetitif, menarik minat baik investor domestik maupun asing, sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan percepatan penurunan angka kemiskinan.

Pendanaan Kreatif dan Momentum Hijau

Salah satu isu klasik dalam pembangunan daerah adalah keterbatasan fiskal. APBD dan transfer pusat sering kali tidak cukup untuk membiayai kebutuhan infrastruktur besar. Karena itu, alternatif pendanaan kreatif menjadi sangat penting. Instrumen seperti obligasi daerah, skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), dana umat, hingga corporate social responsibility (CSR) bisa menjadi sumber tambahan.

Tentu saja, ada tantangan yang perlu diatasi, seperti regulasi, keterbatasan kapasitas teknis, dan kepercayaan investor. Namun, di balik tantangan tersebut terdapat peluang besar: diversifikasi sumber dana akan membuat daerah lebih fleksibel dalam membiayai pembangunan. Dukungan pusat dalam bentuk regulasi yang lebih adaptif serta penguatan kapasitas pemerintah daerah menjadi kunci agar skema pendanaan kreatif bisa berjalan optimal.

Menariknya, tren global juga semakin mengarah pada pembiayaan hijau atau reen financing. Dengan potensi energi terbarukan dan kesadaran masyarakat terhadap green lifestyle atau gaya hidup berbasih hijau, Bengkulu dapat memanfaatkan peluang ini untuk mendanai proyek ramah lingkungan, seperti energi mikrohidro, ekowisata, hingga industri pengolahan berbasis teknologi hijau.

SDM dan Diversifikasi

Transformasi ekonomi tidak bisa berjalan tanpa manusia yang siap berubah. Pendidikan vokasi yang terhubung dengan kebutuhan industri mutlak dibangun. Balai latihan kerja yang melatih tenaga di bidang pengolahan pangan, kesehatan, pariwisata, hingga logistik akan memastikan tenaga kerja lokal mendapat ruang di industri baru.

Selain itu, Bengkulu harus memperluas basis ekonominya ke sektor jasa modern. Promosi kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), ekonomi digital, dan pariwisata budaya berbasis historical dapat menjadi mesin baru pertumbuhan.

Strategi Jitu Akselerasi Bengkulu

Saat ini Bengkulu sedang menuju ke sana, dengan beberapa hal yang dapat dijalankan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Bengkulu. Pertama, perkuat hilirisasi sektor unggulan seperti sawit, kopi, dan perikanan dengan mendorong investasi industri pengolahan dan memberikan insentif ekspor. Kedua, akselerasi pembangunan infrastruktur strategis (JTTS, kereta batubara, Pelabuhan) agar tercipta konektivitas yang menurunkan biaya logistik.

Ketiga, dorong skema pendanaan kreatif melalui KPBU, obligasi daerah, CSR, dan green financing dengan dukungan regulasi serta peningkatan kapasitas teknis pemerintah daerah. Keempat, Integrasikan pendidikan vokasi dengan industri agar SDM lokal lebih siap menghadapi kebutuhan pasar kerja yang semakin kompetitif. Last but not least, diversifikasi ekonomi berbasis digitalisasi dan jasa seperti perdagangan online, pariwisata, kesehatan, dan MICE, sehingga struktur ekonomi Bengkulu lebih seimbang dan tahan terhadap guncangan.

Bengkulu tidak miskin potensi, yang miskin adalah nilai tambah. Jika langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten, bukan hal mustahil Bengkulu dapat berubah menjadi motor pertumbuhan baru di Sumatera. Seperti kopi Bengkulu yang aromanya mampu menembus dunia, nilai tambah ekonomi pun harus kembali kepada rakyatnya.