Konten dari Pengguna

Paradigma NFT, Sebuah Kesempatan yang Dirusak Orang Awam

Andi Alfabiano Davalah

Andi Alfabiano Davalah

An undergraduate Digital Business student at Parahyangan Catholic University.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andi Alfabiano Davalah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi NFT (Sumber : iStockphoto/Vertigo3d)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi NFT (Sumber : iStockphoto/Vertigo3d)

Pendidikan soal NFT seharusnya bisa lebih dioptimalkan lagi, supaya orang awam bisa lebih melek finansial secara digital.

Trend melek finansial secara digital kini makin marak terjadi di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa. Banyak konten-konten menarik dari berbagai platform yang memberikan kajian soal mencapai profit melalui bidang digital. Entah dari Tik Tok, Instagram, YouTube dan lain-lain.

Para konten kreator berlomba-lomba memberi edukasi soal kemelekan finansial secara digital. Salah satu trend bidang finansial secara digital saat ini adalah NFT. NFT atau Non-Fungible Token, adalah dalam istilah yang paling sederhana, NFT mengubah karya seni digital dan barang koleksi lainnya menjadi satu-satunya, aset yang dapat diverifikasi yang mudah diperdagangkan di blockchain.

Tetapi makin kesini NFT menjadi lahan untuk mencapai keuntungan saja sehingga menghilangkan esensi “karya seni digital” nya. Banyak orang awam yang menggunakan NFT dengan salah dan malah merusak ekosistem dari blockchain itu sendiri.

Pengelolaan uang adalah hal yang paling sulit untuk mencapai kebebasan finansial, investasi menjadi salah satu aspek terbaik untuk mengelola uang. Dahulu orang investasi di lembar saham, emas, atau obligasi. Tetapi di dunia digital saat ini investasi membuat inovasinya sendiri melalui kripto.

Kripto adalah aset digital yang dirancang untuk bekerja sebagai media pertukaran. Ini adalah kesempatan yang baik bagi anak muda terutama mahasiswa yang ingin memulai investasi tetapi tidak tau mau ke mana. Zaman sudah berubah, maka dari itu adaptasi diperlukan agar bisa mengikuti perkembangan yang ada.

Salah satu aset digital yang sedang hangat diperbincangkan saat ini adalah NFT. NFT bisa dibuat dengan berbagai bentuk, entah desain elektronik, video motion graphic, atau foto. Selama hal yang diciptakan itu memiliki value, sudah dipastikan itu adalah NFT yang memiliki harga jual.

Hal ini cocok sekali dengan ambisi mahasiswa yang mempunyai ide-ide segar untuk dijadikan aset digital. Apalagi dengan kabar bahwa uang yang dihasilkan dari NFT cukup menjanjikan, tentu saja ini adalah bahan investasi terbaik yang bisa dilakukan mahasiswa.

Rusaknya Ekosistem NFT

Tetapi di mana ada kesempatan di sana ada kesempitan, ekosistem NFT tidak sepenuhnya bersih. Ada saja orang awam yang salah kaprah dalam menggunakan NFT. Mereka melupakan esensi NFT yang asalnya mengubah karya seni/koleksi barang yang memiliki value dan dijadikan aset digital, menjadi lahan untuk meraup keuntungan.

NFT adalah bentuk apresiasi kepada value barang yang dibuat oleh kreator, bukan pasar untuk jualan. Inilah mengapa pentingnya pendidikan untuk mengolah informasi supaya kita tidak mengkonsumsi mentah-mentah apa yang ada di dunia digital. Bukan berarti kita tidak boleh meraup keuntungan dari NFT, tetapi ini bisa merusak ekosistem NFT menjadi tidak ada bedanya dengan marketplace atau stock tempat berjualan foto.

Di zaman yang semakin mudah mendapatkan informasi, mudah juga mendapat konsekuensi. Ekosistem dunia digital sangat luas, mencakup seluruh dunia, maka dari itu kita harus berpikir sebagaimana dunia bekerja.

Memahami informasi bukan hanya dari satu sudut pandang, mengolah ilmu menjadi manfaat, dan mengubah manfaat jadi pengaruh positif. Itu seharusnya bagaimana orang bisa menggunakan dunia digital dengan baik. NFT jadi salah satu contoh kesempatan yang baik untuk memulai pengajaran finansial secara digital. Sisanya tinggal pada kualitas diri untuk mengelola kesempatan tersebut.