Konten dari Pengguna

Ekonomi Syariah Makin Populer: Tapi Sudahkah Kita Paham Cara Kerjanya?

Andi Mulyono

Andi Mulyono

Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andi Mulyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi Syariah Lagi Populer di Tahun Sekarang

ChatGPT: Gambar Ilustrasi Ekonomi Syariah Semakin Populer
zoom-in-whitePerbesar
ChatGPT: Gambar Ilustrasi Ekonomi Syariah Semakin Populer

Beberapa waktu lalu, saya berpikir bahwa mengenal ekonomi syariah seharusnya bukan hal yang sulit. Kita bisa menemukannya dalam berbagai hal, mulai dari bank syariah, produk halal, sampai pembahasan tentang investasi yang sesuai dengan prinsip Islam. Istilahnya pun semakin sering terdengar, terutama di kalangan mahasiswa.

Namun, semakin sering sebuah istilah dibicarakan, belum tentu semakin banyak orang yang benar-benar memahaminya. Saya justru merasa ada hal yang menarik untuk dipertanyakan: jangan-jangan kita sudah akrab dengan nama ekonomi syariah, tetapi masih bingung ketika harus menjelaskan cara kerjanya.

Sebagai mahasiswa yang mempelajari ekonomi syariah, pertanyaan itu membuat saya berpikir kembali tentang apa yang selama ini dipelajari. Di kelas, kita mengenal berbagai istilah seperti riba, mudharabah, murabahah, dan wadiah. Semuanya memiliki pengertian dan ketentuan masing-masing. Akan tetapi, memahami istilah di atas kertas tentu berbeda dengan mengenal penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Memilih Produk, Apa yang Sebenarnya Kita Pertimbangkan?

Bayangkan seseorang ingin membuka rekening bank. Biasanya, ia akan mempertimbangkan kemudahan penggunaan aplikasi, biaya administrasi, lokasi ATM, atau layanan yang tersedia. Semua pertimbangan itu masuk akal karena rekening bank memang digunakan untuk membantu aktivitas keuangan sehari-hari.

Namun, pernahkah kita berpikir untuk memeriksa akad yang digunakan sebelum memilih produk perbankan syariah?

Pertanyaan ini bukan berarti kemudahan layanan tidak penting. Justru, menurut saya, kita bisa mempertimbangkan keduanya: layanan yang sesuai kebutuhan dan pemahaman terhadap prinsip yang mendasari produk tersebut.

Dalam bank syariah, misalnya, akad wadiah berkaitan dengan penitipan, sedangkan mudharabah merupakan kerja sama antara pemilik modal dan pengelola dengan pembagian hasil sesuai kesepakatan. Ketentuan dan karakteristik produk tetap perlu diperiksa karena penerapannya mengikuti akad serta aturan yang berlaku.

Dari sini saya menyadari bahwa memahami ekonomi syariah tidak cukup hanya dengan mengetahui nama akad. Kita juga perlu memahami bagaimana akad itu diterapkan, apa hak dan kewajiban masing-masing pihak, serta apa saja ketentuannya.

Jangan Sampai Hanya Mengenal Namanya

Hal serupa bisa kita temukan ketika berbicara tentang jual beli. Kita mungkin pernah melihat penjual menawarkan barang dengan harga tertentu, lalu pembeli memutuskan untuk membelinya. Transaksi seperti ini terlihat sederhana. Namun, kejujuran mengenai kondisi barang, kejelasan harga, dan kesepakatan antara penjual dengan pembeli tetap penting.

Dalam ekonomi Islam, mencari keuntungan bukanlah sesuatu yang dilarang. Seorang pedagang boleh mendapatkan keuntungan dari usahanya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keuntungan itu diperoleh dan apakah transaksi dilakukan sesuai dengan prinsip yang berlaku.

Menurut saya, bagian ini justru dekat dengan kehidupan kita. Kita tidak harus menjadi pemilik bank atau pengusaha besar untuk mempraktikkan nilai ekonomi Islam. Ketika berjualan secara daring, misalnya, kita bisa memulainya dengan memberikan informasi produk secara jujur, tidak melebih-lebihkan kualitas barang, dan menyepakati harga dengan jelas.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat biasa. Padahal, dari kebiasaan sehari-hari, kita bisa belajar bahwa ekonomi syariah bukan hanya pembahasan tentang lembaga keuangan, tetapi juga berkaitan dengan perilaku kita dalam melakukan transaksi.

Belajar Ekonomi Syariah Tidak Cukup dengan Menghafal

Saya merasa tantangan terbesar dalam mempelajari ekonomi syariah adalah menghubungkan teori dengan kenyataan. Menghafal pengertian riba atau membedakan mudharabah dengan murabahah memang penting. Namun, pengetahuan tersebut akan terasa lebih bermanfaat jika kita mampu menggunakannya untuk memahami persoalan yang benar-benar terjadi.

Ketika menemukan tawaran investasi, misalnya, kita sebaiknya tidak langsung percaya hanya karena terdapat kata “syariah” dalam promosinya. Kita perlu memeriksa mekanisme investasi, akad yang digunakan, risiko yang mungkin timbul, dan legalitas penyelenggaranya. Label atau istilah yang digunakan dalam promosi saja tidak cukup untuk memastikan bahwa suatu produk telah memenuhi prinsip syariah.

Begitu pula ketika ingin menggunakan layanan perbankan. Membaca informasi produk, bertanya kepada petugas, dan memahami ketentuan sebelum menyetujui transaksi merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja.

Bagi saya, sikap kritis seperti ini bukan berarti kita harus selalu curiga. Sebaliknya, kita sedang belajar agar keputusan yang diambil memiliki dasar yang jelas, bukan hanya mengikuti tren atau rekomendasi orang lain.

Popularitas Harus Diikuti Pemahaman

Saya senang ketika ekonomi syariah semakin banyak dibicarakan. Semakin luas masyarakat mengenalnya, semakin besar pula kesempatan untuk mempelajari dan menerapkannya dalam kegiatan ekonomi. Namun, popularitas saja tidak cukup untuk menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat sudah baik.

Kita membutuhkan edukasi yang mudah dipahami, informasi yang dapat dipercaya, serta praktik yang konsisten dengan prinsip syariah. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk ikut berkontribusi, bukan hanya dengan mempelajari teori, tetapi dengan menjelaskan konsep ekonomi syariah melalui contoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu pemikiran sederhana: kita tidak harus memahami semua hal tentang ekonomi syariah sekaligus. Kita bisa memulainya dari pertanyaan kecil sebelum membuka rekening, membeli produk keuangan, atau menjalankan usaha.

Bagi saya, ekonomi syariah akan terasa lebih bermakna ketika kita tidak hanya mengenal istilahnya, tetapi juga berusaha memahami alasan, aturan, dan tanggung jawab di balik setiap transaksi.

Jadi, jika hari ini ekonomi syariah semakin populer, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan sekadar seberapa sering kita mendengarnya, melainkan seberapa jauh kita sudah memahami dan menerapkannya.