Menghadapi Krisis Iklim melalui Investasi Ekonomi Hijau Berkelanjutan

Awardee Beasiswa Kominfo - Bekerja sebagai PSM Ahli Muda Kemendesa PDTT, saat ini menempuh pendidikan Program Minat Master of Arts in Digital Transformation and Competitiveness di Hubungan Internasional UGM. Pendidikan S1 di Ilmu Komputer FMIPA Unud
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ancelmus Andi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“If we don't prepare now, we will panic and fail. Last time I checked there were no other planets for sale”. Sebuah kalimat acak yang saya dapatkan ketika tengah berselancar di dunia maya, namun cukup membawa pada permenungan mengenai perbuatan kita dan dampaknya pada bumi kita.

Jika kita melihat pada kondisi saat ini, terutama dimana manusia membangun peradabannya. Interkonesi antara bumi, lautan dan atmosfer telah menjaga keimbangannya dan menjaga kondisi planet bumi ini sehingga nyaman ditinggali.
Masalahnya perkembangan peradaban seringkali dilakukan dengan mengorbankan bumi. Investasi besar-besaran dalam rangka memperebutkan keuntungan ekonomi dalam rupa eksploitasi sumber daya secara berlebihan dan masifnya perusakan lingkungan tanpa memikirkan aspek berkeberlanjutan kian mengikis keseimbangan tersebut. Adalah perubahan iklim (climate change) sebagai salah satu dampak dari rusaknya keseimbangan bumi dan menyebabkan berbagai anomali iklim dan musim sehingga berdampak pada munculnya banyak kejadian cuaca ekstrim.
Berbagai upaya internasional telah diupayakan untuk mengatasi permasalahan lingkungan maupun perubahan iklim, salah satunya melalui The Paris Agreement. Dalam perspektif perubahan iklim Paris Agreement memiliki peranan sentral karena merupakan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum mengenai perubahan iklim. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga agar kenaikan suhu rata-rata global tetap terkendali di bawah 2°C dari tingkat pra-industri" dan berupaya "untuk membatasi kenaikan suhu menjadi 1,5°C di atas tingkat pra-industri.
Gambaran kondisi suhu pemanasan global di tanah air, diilustrasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Gambar 2. Anomali suhu udara tahunan merujuk pada perbedaan suhu udara pada suatu tahun tertentu dibandingkan dengan rata-rata suhu udara selama 30 tahun (disebut periode normal tahun 1991-2020). Data dari 116 stasiun pengamatan BMKG menunjukkan bahwa suhu udara rata-rata di Indonesia selama periode 1991-2020 adalah 26,7°C. Pada tahun 2023, suhu udara rata-rata naik menjadi 27.2°C. Oleh karena itu, anomali suhu udara rata-rata tahun 2023 adalah 0,5°C. Secara umum suhu udara di Indonesia pada tahun 2023 masih berada pada batas aman dari The Paris Agreement. Namun demikian pada siaran pers BMKG (10/02/2024), Dwikorita selaku kepala BMKG menyatakan bahwa Badan Meteorologi Dunia (WMO) baru-baru ini mengumumkan bahwa tahun 2023 merupakan tahun dengan suhu terpanas sepanjang sejarah pengamatan instrumental. Anomali suhu rata-rata global mencapai 1,4°C di atas periode pra-industri. Angka ini hampir mencapai batas yang disepakati dalam Paris Agreement tahun 2015. Pada tahun 2023, tercatat adanya rekor suhu harian global baru serta terjadi gelombang panas ekstrim yang melanda berbagai wilayah di Asia dan Eropa.
Dalam Frontiers Forum, Johan Rockstrom - seorang ilmuwan yang diakui internasional dalam isu keberlanjutan global dan salah satu inisiator Planetary Boundary memaparkan perihal krisis bumi. Dalam paparan yang mengutip penelitian dari Willeit et al, (2019) disampaikan grafik yang diilustrasikan pada Gambar 3 berikut :
Grafik yang diperoleh dari melalui perhitungan fisika dan matematika yang mereproduksi perjalanan planet bumi selama tiga juta tahun terakhir, menegaskan bahwa tidak dalam satu waktu, sejauh yang kita pahami saat ini bahwa kita melebihi kenaikan suhu 2°C. Menurut Rockstorm, peradaban saat ini tengah berada pada zona goldilocks - tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, dan kondisi inilah yang terjadi selama 10.000 tahun sejak kita meninggalkan zaman es terakhir. Dapat dikatakan bumi telah mengatur dirinya sendiri dalam kisaran yang sempit yaitu plus 2°C, dan pada zaman es dalam interglasial yang hangat, minus 4°C. Namun Rockstorm memproyeksikan bahwa kita akan mengikuti jalan yang akan membawa kita ke kenaikan 3°C sampai 4°C, hanya dalam tiga generasi (Gambar 4)
Planetary Boundary
Kondisi diatas mendorong kebutuhan mendesak dan paradigma baru dalam mengintegrasikan kelanjutan pengembangan masyarakat dan pemeliharaan sistem Bumi yang tangguh dan akomodatif. Dalam hal ini, Planetary Boundaries berkontribusi (Steffen et al. 2015).
Planetary Boundaries merupakan konsep yang diajukan oleh sejumlah ilmuwan, seperti Johan Rockstrom dan Will Steffen, yang mengkaji batasan kuantitatif bagi planet kita. Konsep ini menunjukkan bahwa manusia dapat terus berkembang selama tetap berada dalam batas yang ditetapkan; namun, jika batas tersebut terlampaui, dampak kerusakan pada bumi akan semakin besar.
Aspek yang ada pada planetary boundaries meliputi :
• Perubahan iklim (climate change)
• Polusi kimia dan pelepasan entitas baru (novel entities)
• Penipisan lapisan ozon di Stratosfer (stratospheric ozone depletion)
• Pemuatan aerosol atmosfer (atmospheric aerosol loading)
• Pengasaman laut (ocean acidification)
• Perubahan sistem pertanahan (biochemical flows)
• Konsumsi air tawar dan sklus hidrologi global (freshwater use)
• Perubahan sistem lahan (land-system change)
• Hilangnya integritas keanekaragaman hayati (biosphere integrity)
Batas-batas planet menjaga kondisi planet agar manusia bisa hidup sejahtera. Ketika batas itu dilanggar, risikonya menjadi berlipat. Semua batasan planet saling terkait, tetapi iklim dan keanekaragaman hayati adalah yang paling penting dan mempengaruhi batasan lainnya. Kita sudah jauh melebihi batasan-batas ini, sehingga saat ini iklim telah mencapai titik krisis global.
Selamatkan Bumi melalui Pola Ekonomi Berwawasan Lingkungan
Sustainability Development telah menarik banyak perhatian di bidang akademik, tata kelola perencanaan dan intervensi pembangunan. Sustainability Development dianggap sebagai paradigma pembangunan yang dapat mengatasi perubahan iklim, penipisan lapisan ozone, kelangkaan air, hilangnya vegetasi, kesenjangan, ketidakamanan, kelaparan, dan kekurangan. Maka dari itu Sustainability Development tidak dapat ditempuh melalui inisiatif yang terisolasi melainkan terpadu yang meliputi aspek sosial, lingkungan hidup dan ekonomi (Mensah 2019)
Sustainability Development melalui gerakan penyelamatan Bumi melalui pola ekonomi berwawasan lingkungan, dapat diakses melalui :
Environmental, Social dan Governance (ESG). ESG merupakan faktor penting dalam bisnis dan investasi karena membantu perusahaan mengelola risiko, membangun reputasi, dan menciptakan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat. Pemahaman lebih dalam tentang konsep ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa perusahaan dan investor dapat berkontribusi pada dunia yang lebih berkelanjutan. Sebagai contoh Sustainability Report dari Pertamina. Pada report ini Pertamina dapat memberikan gambar upaya yang dilakukan oleh pertamina dalam mendukung ESG dan kerenanya investor dapat lebih mudah memetakan arah perusahaan dan potensi dari investasi. Disamping itu, Pertamina juga mengeluarkan sustainability insight. Pertamina menyadari bahwa sektor bahan bakar fosil memberikan dampak yang signifikan terhadap lingkungan dan karenanya mengambil inisiatif komprehensi untuk memitigasi hal tersebut melalui inovasi pengelolaan air limbah yang mengurangi dampak lingkungan serta memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, selain itu pertamina secara aktif mengupayakan pengembangan bahan bakar rendah karbon dengan memasukkan 35% biomassa ke dalam campuran biodisel.
Taksonomi Hijau,. Dalam prolog Buku Taksonomi Hijau Edisi 1.0 (2022), Wimboh Santoso menyatakan komitmen Indonesia untuk penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagai tindak lanjut dari Ratifikasi Paris Agreement, melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016, dimana Indonesia telah berkomitmen dalam pengurangan GRK sebesar 41% dengan bantuan internasional atau 29% dengan business as usual. Kerusakan fisik serta dampak finansial akibat perubahan iklim tak terelakkan, dan menjadi tantangan, Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim OJK berperan dalam perubahan pola bisnis konvensional menuju berkelanjutan. Dukungan green ekonomi melalui roadmap keuangan berkelanjutan, yang memuat Taksonomi Hijau Indonesia. Klasifikasi aktivitas ekonomi yang mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Maka daripada itu, Taksonomi hijau dapat digunakan sebagai pedoman bersama dalam hal : Dasar dalam kebijakan insentif atau disinsentif dari berbagai kementerian atau lembaga lainnya; Keterbukaan informasi dan manajemen resiko dan Dasar pengembangan produk/jasa keuangan berkelanjutan.
Perkembangan investasi sektor-sektor prioritas untuk mencapai ekonomi hijau
Buku dari Kementerian Investasi/BKPM yang berjudul “Kajian Upaya Pemerintah Indonesia Dalam Mendorong Investasi Global Dan Ekonomi Hijau” menyatakan sebagai berikut : Dalam mencapai ekonomi hijau pemerintah Indonesia melalui Indonesia Green Growth Programme (IGGP) telah meluncurkan peta jalan pertumbuhan ekonomi hijau nasional yang memuat kebijakan, perencanaan dan investasi. Setidaknya 4 kategori sektor yang dapat berpeluang menjadi sektor prioritas untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hijau antara lain, energi dan sektor ekstraktif, manufaktur, konektivitas dan sumber daya alam terbarukan. Ilustrasi total realisasi investasi dari semua sektor yang diprioritaskan untuk pertumbuhan ekonomi hijau (Gambar 6), menunjukkan bahwa tren realisasi investasi total di Indonesia secara terus menerus mengalami kenaikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. (Nurprabowo dan Laraswati 2023)
Penutup
Melalui pola sustainability development para investor, termasuk generasi muda dapat memanfaatkan peluang yang terus bertumbuh ini. Bentuk analisa melalui instrumen yang dilandasi oleh ESG dan Taksonomi Hijau, dapat menjadi alternatif yang menarik dan informatif. Disamping itu melihat demikian besarnya dorongan pemerintah Indonesia mengenai ekonomi hijau, agaknya sektor usaha-usaha yang bergerak dalam bidang ekonomi hijau menjadi layak dipertimbangkan untuk target investasi. Melalui tulisan ini terlihat bagaimana arah global terhadap sektor-sektor yang dalam perspektif planetary boundaries didefinisikan sebagai sektor yang merusak planet akan semakin ditinggalkan dan ketat diregulasi, karenanya diproyeksikan akan terjadi pergeseran arah investasi menuju kearah investasi berkelanjutan dan berbasiskan lingkungan.
