Konten dari Pengguna

Kecerdasan Artifisial dan Masa Depan Pekerja TI

Andi Riza Syafarani

Andi Riza Syafarani

Konsultan Transformasi Digital dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang AI, Data Analytics, Digital Solutions, dan Smart City. Suka membaca, berdiskusi, dan berbagi solusi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andi Riza Syafarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat menggunakan Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat menggunakan Gemini AI

Beberapa tahun lalu, saya sempat menyampaikan di beberapa forum—termasuk diskusi dengan BI Kalsel dan Dinas Pendidikan—bahwa lulusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan) berpotensi banyak yang menganggur.

Waktu itu banyak yang menganggap saya terlalu pesimis. Padahal bukan begitu. Saya tidak asal bicara; saya orang jaringan, saya paham betul bagaimana dunia kerja di bidang itu berjalan.

Pekerjaan networking itu mirip pembangunan jalan tol. Saat masih tahap konstruksi, ramai, ribut, dan butuh banyak tenaga. Tapi begitu jalan tol sudah jadi dan bisa dipakai, yang dibutuhkan tinggal beberapa petugas untuk jaga gardu, patroli, dan perawatan. Tidak mungkin jumlah pekerjanya tetap sebanyak saat pembangunan awal.

Makanya, di banyak perusahaan besar pun, tim jaringan biasanya kecil, stabil, dan jarang berganti-ganti orang. Bukan tipe bidang yang bisa menyerap tenaga kerja massal terus-menerus.

Beberapa tahun kemudian, kenyataan pun muncul. Banyak SMK TKJ mulai mengurangi jumlah kelasnya. Bukan karena sekolahnya tiba-tiba tidak suka TKJ, tapi karena pasar kerjanya memang berubah.

Sebelumnya, saya mengarahkan perhatian ke dua bidang yang tampak paling menjanjikan: Pemrograman dan Multimedia. Logikanya sederhana—dunia makin digital, aplikasi makin banyak, konten makin dibutuhkan.

Soal kebutuhan produknya, saya benar. Hari ini aplikasi ada di mana-mana, dan konten digital membanjiri hidup kita dari pagi sampai malam.

Tapi soal kebutuhan tenaga kerjanya? Di situlah saya agak keliru membaca masa depan. Bukan karena analisanya salah, tapi karena muncul satu “spesies baru” yang berkembang jauh lebih cepat dari dugaan: Artificial Intelligence.

ChatGPT baru ramai akhir 2022. Tahun 2023 mulai dipakai luas. Sekarang? AI atau Kecerdasan Artifisial, sudah masuk ke hampir semua pekerjaan berbasis digital. Bukan lagi mainan, tapi alat kerja sehari-hari.

Dan di sinilah paradoksnya: teknologi makin maju, tapi sebagian pekerja teknologi justru mulai terdesak.

GENERATIVE AI: Bantu atau Menggusur?

Gelombang pertama AI yang benar-benar dirasakan publik adalah Generative AI—AI yang bisa membuat teks, gambar, bahkan video.

Awalnya banyak yang main-main dengan ChatGPT, Gemini, Copilot, dan sejenisnya. Tapi sekarang kemampuan Gen AI sudah jauh lebih serius. Dari sekadar chatbot, berubah jadi mesin analisis dan produksi konten yang sangat kuat.

Banyak pekerja multimedia mulai memakainya. Ada yang pakai untuk editing lebih cepat, ada yang pakai untuk produksi konten instan. Bahkan ada yang nyaris “diselamatkan” oleh AI karena bisa bekerja jauh lebih efisien.

Tapi di sinilah masalahnya.

Gen AI justru mengancam pekerja multimedia yang tidak bisa beradaptasi. Saya perlu tegas membedakan antara pekerja multimedia dan seniman.

Bagi saya, seniman tidak terlalu terancam. Karya mereka punya ciri khas, jiwa, dan pasar tersendiri. Orang tetap mau membayar untuk karya yang punya identitas.

Tapi pekerja multimedia yang sekadar menjual jasa edit foto, video, atau desain generik? Mereka mulai terjepit. Karena sekarang orang awam pun bisa pakai AI untuk menghasilkan konten yang “cukup bagus” tanpa perlu membayar mahal.

Kalau Multimedia masih berada di level “terancam”, di bidang Pemrograman ancamannya sudah jauh lebih nyata.

Baru-baru ini ChatGPT merilis GPT 5.3 Codex, alat khusus untuk coding. Lalu muncul juga Claude Opus 4.6 dari Anthropic. Kedua tools ini sudah sangat canggih dalam menulis dan memperbaiki kode.

Saya melihat dampaknya langsung di perusahaan saya, Jawara Data Nusantara.

Lima tahun lalu, untuk mengerjakan satu aplikasi kompleks, kami bisa melibatkan sekitar delapan programmer plus beberapa freelancer. Tahun lalu, untuk aplikasi yang jauh lebih kompleks, kami cukup memakai dua programmer inti. Sisanya dikerjakan dengan bantuan AI.

Artinya bukan programmernya hilang. Tapi level yang dibutuhkan berubah.

Bukan lagi sekadar programmer junior yang disuruh menulis kode dasar, tapi programmer yang benar-benar paham analisis, arsitektur sistem, dan logika bisnis.

Pertanyaannya yang agak “nyelekit” adalah: kalau programmer junior makin tergantikan AI, lalu lulusan baru mau masuk pasar kerja lewat pintu mana?

AGENTIC AI: Dari Chat Jadi Tindakan

Ancaman berikutnya datang dari sesuatu yang lebih canggih lagi: Agentic AI.

Ini bukan sekadar AI yang menjawab pertanyaan. Ini AI yang bisa bertindak langsung di komputer, aplikasi, server, bahkan mesin. Kalau Anda pernah nonton Iron Man, bayangkan Jarvis. Kurang lebih ke arah itulah Agentic AI. Bedanya dengan Gen AI, Agentic AI tidak cuma memberi jawaban, tapi langsung mengerjakan perintah.

Disuruh bikin surat? Dia bisa buka Word, menulis, mengedit, menyimpan, lalu mengirim lewat email.

Ada email masuk? Dia bisa baca, rangkum, kasih notifikasi, bahkan balas sesuai instruksi pemiliknya.

Dipasang di server? Dia bisa memantau keamanan, mendeteksi error, memperbaiki masalah, dan menjaga sistem tetap berjalan.

Disambungkan ke tools pemrograman? Dia bisa bikin aplikasi, memperbaiki bug, menganalisis data penggunaan, lalu menyarankan pengembangan—yang bisa langsung dieksekusi setelah disetujui developer.

Ditanam di mesin? Dia bisa menggerakkan mesin, menganalisis efisiensi, mendeteksi kerusakan, bahkan memberi tahu kalau ada komponen yang perlu diganti.

Kalau mesinnya adalah robot atau humanoid, Agentic AI bisa belajar dari lingkungan, meningkatkan kemampuannya sendiri, dan bertindak lebih mandiri sesuai aturan yang diberikan.

Jadi pertanyaannya bukan lagi “Apakah AI akan mengubah dunia kerja?”, tapi:

Bidang pekerjaan apa yang tidak akan berubah oleh Agentic AI?Silakan pembaca menarik kesimpulan sendiri.