Pedang Bermata Dua, Ketika AI Mempermudah Segalanya

Konsultan Transformasi Digital dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang AI, Data Analytics, Digital Solutions, dan Smart City. Suka membaca, berdiskusi, dan berbagi solusi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Andi Riza Syafarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam sebuah percobaan bersama beberapa mahasiswa, saya menemukan sesuatu yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Mereka mampu melakukan instalasi VPS, konfigurasi server dan jaringan, memasang web server, menyiapkan lingkungan pemrograman, membuat aplikasi, melakukan pengujian, hingga menjalankan aplikasi yang siap digunakan. Padahal, mereka belum memiliki keterampilan pemrograman dan networking yang memadai. Dengan bantuan AI, mereka cukup memberikan instruksi, mengikuti alur kerja, dan menjalankan langkah-langkah yang diberikan.
Ini menunjukkan betapa besar perubahan yang dibawa AI. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan pengetahuan teknis dan pengalaman panjang kini dapat dilakukan oleh orang yang belum menguasai bidang tersebut. Namun, muncul pertanyaan mendasar. Apakah seseorang benar-benar memiliki kemampuan hanya karena ia mampu menghasilkan sesuatu dengan bantuan AI? Di sinilah letak makna pedang bermata dua tersebut. AI dapat memperbesar kemampuan manusia, tetapi juga memungkinkan seseorang melewati proses belajar yang seharusnya membentuk kemampuan itu sendiri.
Berhasil Mengerjakan, Belum Tentu Menguasai
Selama ini, hasil pekerjaan kerap menjadi salah satu indikator kemampuan seseorang. Orang yang mampu membuat aplikasi dianggap memiliki keterampilan pengembangan perangkat lunak, sedangkan orang yang mampu mengelola server dianggap memahami administrasi sistem. AI mulai mengubah hubungan tersebut karena hasil yang terlihat profesional kini dapat dihasilkan oleh orang yang belum tentu memahami proses di baliknya.
Tentu saja, menggunakan AI bukan berarti seseorang tidak memiliki kemampuan. Persoalannya adalah seberapa jauh ia memahami, menguji, dan mengendalikan hasil yang dihasilkan AI. Risiko muncul ketika keberhasilan menyelesaikan pekerjaan dianggap sama dengan penguasaan keterampilan, padahal keduanya tidak selalu sejalan. Seseorang bisa terlihat kompeten karena mampu mengoperasikan AI dengan baik, sementara kemampuan dasarnya belum cukup untuk menghadapi persoalan yang lebih kompleks.
Ketika Jalan Pintas Menggantikan Proses Belajar
Dalam dunia pendidikan, risiko ini menjadi lebih serius. Belajar bukan sekadar memperoleh jawaban yang benar atau menyelesaikan tugas, melainkan juga membangun kemampuan bernalar, mengidentifikasi masalah, mencoba solusi, memahami kesalahan, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan. Jika setiap kesulitan langsung diserahkan kepada AI, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut.
Ketika kode mengalami error, AI yang memperbaiki. Ketika program tidak berjalan, AI yang mencari penyebabnya. Ketika tugas terasa sulit, AI yang menyusun jawabannya. Semua terasa efisien. Tugas selesai, waktu hemat, hasil tersedia. Namun, jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus tanpa upaya memahami prosesnya, mahasiswa berisiko semakin terampil meminta solusi, tetapi tidak semakin terampil memecahkan masalah.
Yang mengkhawatirkan, keterbatasan tersebut tidak selalu terlihat. Selama AI masih mampu memberikan jawaban dan pekerjaan tetap selesai, mahasiswa mungkin merasa telah menguasai materi. Masalah baru muncul ketika mereka menghadapi persoalan yang berbeda, ketika solusi sebelumnya tidak lagi berlaku, atau ketika AI memberikan jawaban yang keliru.
Ketergantungan yang Tidak Selalu Terlihat
Ketergantungan pada AI tidak selalu berarti seseorang sama sekali tidak bisa bekerja tanpanya. Bentuk yang lebih halus muncul ketika seseorang mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak dapat menjelaskan alasan di balik keputusan yang diambilnya. Ia bisa menjalankan instruksi tanpa memahami konsekuensinya, menerima solusi tanpa mampu menilai ketepatannya, atau menghasilkan sesuatu tetapi kesulitan memperbaikinya ketika keadaan berubah.
Dalam pekerjaan teknis, kondisi ini dapat menimbulkan risiko nyata. Kesalahan konfigurasi server, kelemahan keamanan, atau kode yang bermasalah bisa luput dari perhatian apabila pengguna tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memeriksanya. AI sendiri tidak menjamin kebenaran. Jawabannya dapat keliru, tidak sesuai konteks, atau bahkan menimbulkan masalah baru. Tanpa pemahaman dasar, seseorang dapat menjalankan solusi yang salah tanpa menyadari risikonya.
Persoalan mendasarnya adalah kemudahan AI menghasilkan jawaban dapat membuat keterbatasan pengetahuan manusia tersembunyi di balik hasil yang tampak meyakinkan. Seseorang mungkin terlihat mampu di hadapan orang lain, bahkan di hadapan dirinya sendiri, sampai keadaan menuntut pemahaman yang sesungguhnya.
Pendidikan Tidak Bisa Hanya Mengejar Hasil
Karena itu, sekolah dan kampus perlu meninjau kembali cara mengukur keberhasilan belajar. Jika penilaian hanya berfokus pada hasil akhir, akan semakin sulit membedakan pekerjaan yang benar-benar mencerminkan kemampuan siswa atau mahasiswa dari pekerjaan yang sebagian besar diselesaikan AI. Namun, jawabannya bukan melarang penggunaan AI, sebab teknologi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan dan dunia kerja.
Yang diperlukan adalah pembelajaran yang memastikan mahasiswa tetap memahami konsep dasar, mampu menjelaskan proses, menguji hasil, menemukan kesalahan, dan mengambil keputusan secara mandiri ketika diperlukan. Guru dan dosen perlu membedakan keterampilan yang wajib dikuasai secara mendalam dari pekerjaan yang dapat dibantu atau didelegasikan kepada AI. Perbedaan tersebut harus tercermin dalam materi pembelajaran, bentuk tugas, dan metode evaluasi.
Tujuannya bukan menghasilkan lulusan yang harus bekerja tanpa AI, melainkan lulusan yang tetap kompeten ketika bekerja bersama AI. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memiliki pengetahuan yang cukup untuk menilai, mengoreksi, dan mengambil alih ketika diperlukan.
Pedang Bermata Dua
Perkembangan AI, terutama agentic AI yang mampu menjalankan serangkaian tindakan secara langsung, akan semakin memperluas kemampuan manusia untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa harus menguasai seluruh aspek teknisnya. Ini membuka kesempatan besar bagi siapa pun untuk berkarya, bereksperimen, dan meningkatkan produktivitas. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko ketika kemampuan menghasilkan sesuatu berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan memahami sesuatu.
Dalam jangka pendek, hasilnya mungkin terlihat baik. Tugas terselesaikan, aplikasi berfungsi, dan pekerjaan menjadi lebih cepat. Namun, apabila proses tersebut tidak disertai pembentukan pengetahuan dan keterampilan, keberhasilan itu dapat menyembunyikan kelemahan yang baru terasa ketika persoalan menjadi lebih sulit. Inilah dua sisi dari teknologi yang sama. AI dapat memperbesar kemampuan manusia, tetapi juga dapat membuat manusia merasa mampu tanpa benar-benar menguasai apa yang dikerjakannya.
Karena itu, semakin canggih AI, semakin penting pendidikan memastikan bahwa kemudahan tidak disalahartikan sebagai penguasaan. Bahaya terbesar bukanlah ketika AI mampu mengerjakan pekerjaan manusia, melainkan ketika manusia merasa telah menguasai sesuatu hanya karena AI berhasil mengerjakannya.
