Konten dari Pengguna

Menjadi Perempuan Indonesia, Bagaimana Rasanya?

Andien Destiani R

Andien Destiani R

Seorang mahasiswa jurnalistik Universitas Padjadjaran.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andien Destiani R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan karier. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan karier. Foto: Shutter Stock

Terlahir sebagai perempuan Indonesia bisa dikatakan sebagai sebuah anugerah karena begitu enaknya hidup sebagai perempuan di sini. Kita tak dituntut apa-apa selain menuruti apa kata dari orang tua dan juga sekitar. Tidak juga diemban beban untuk bekerja di sebuah perusahaan prestigious di mana gajinya harus dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, pasangan, dan anak.

Tak diemban tugas untuk lanjut ke pendidikan tinggi hingga banyak gelar yang tersemat agar dapat dipandang hormat oleh orang lain. Terlahir menjadi perempuan Indonesia hanya memerlukan kita untuk diam, sing dakep, dan smile! Se-simple itu. Enak, kan?

Rasanya aneh jika ada perempuan yang ingin bekerja. Bukan kah itu kodratnya laki-laki? Apalagi jika si perempuan memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan tinggi, juga tinggi sekali. Bagaimana bisa mereka mempunyai keinginan seperti itu? Bukan kodratnya! Tak dapat dibenarkan! Pandangan barat itu! Perempuan harus diam di rumah, tidak boleh terlalu banyak ke sana, kemari, cukup dengarkan orang tua, apa susahnya sih?

Tak boleh keluar malam-malam, tidak baik dan juga tidak aman bagi perempuan. Kalau laki-laki boleh, apalagi jika menggunakan kendaraan, aduh idaman sekali bagi calon mertuanya! Kalau perempuan tidak boleh. Sudah tidak usah sok-sokan menggunakan kendaraan ke mana-mana, tidak usah sok-sokan mandiri. Nanti saja kalau sudah punya pendamping, kan enak ke mana-mana ada yang antar kan?

Enak sekali bukan menjadi perempuan Indonesia? Di mana pakaian kita pun sudah ada standarnya, harus menutupi bagian tubuh yang dapat mengundang lirikan lelaki. Jangan sampai terbuka! Nilai barat itu, tidak baik! Tutupi tidak usah diumbar-umbar, agar terhindar dari pelecehan seksual yang tersebar di luar sana.

Kita perempuan hanyalah pengundang syahwat laki-laki. Kita yang mesti menutupi diri. Tak usah salahkan laki-laki, mereka tidak salah. Kan memang begitu kodratnya laki-laki, jika diundang mana bisa menolak? Perempuan yang mesti tahu diri, perempuan yang mesti menjaga diri.

Tak perlu sok-sokan my body my choice, untuk apa? Tubuhmu itu bukan cuma untukmu, tapi untuk suami kelak. Jadi pandai-pandailah menjaga! Keperawanan merupakan mahkota perempuan, maka perlu dijaga sebaik-baiknya sampai nanti mengucap janji suci. Tak boleh sembarangan diberikan, ingat, tidak boleh!

Inilah indahnya menjadi seorang perempuan yang lahir di Indonesia, hanya cukup bersikap nurut, tak perlu memberontak, maka hidupmu akan bersahaja. Setidaknya, itu yang dikatakan oleh seorang ibu pada anaknya. Anaknya yang hanya bertanya kenapa ia tidak dibolehkan pergi keluar rumah mengunjungi temannya yang sudah lama tak ia temui menggunakan kendaraannya sendiri.

Pertanyaan yang diajukan itu kemudian dibalas dengan berbagai macam argumen yang hampir semuanya tidak terlalu berkolerasi dengan pertanyaan itu. Si anak bingung, apa yang mesti dipetik dari ocehan ibunya itu? Maka ia hanya terdiam lalu memutuskan tidak jadi berangkat. Karena ia hanyalah perempuan, hanya perlu menuruti apa kehendak orang tua.

Sekarang, Ia perlu mengejar tugas yang tenggatnya hari ini, mana belum selesai pula dan ia sudah telanjur tidak mood mengerjakan. Kemudian ia berandai-andai, bagaimana ya jika ia adalah seorang laki-laki. Tentu ibunya akan dengan mudah memberikan izin kepada dirinya menggunakan motor di gelapnya malam karena menjadi laki-laki harus fearless, itu kata iklan minuman penambah energi.