Konten dari Pengguna

Saat Dunia Tak Lagi Bergantung pada Dolar: Tren De-dolarisasi Menguat

Andika Nafis Pratama

Andika Nafis Pratama

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional 2024 Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andika Nafis Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dari Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dari Unsplash.com

Sejak Perang Dunia II berakhir, dolar Amerika Serikat (USD) telah menjadi mata uang dunia. Dolar digunakan untuk membeli minyak, membayar impor, melunasi utang antarnegara, bahkan disimpan oleh bank sentral sebagai cadangan devisa. Tak heran jika posisi Amerika Serikat dalam ekonomi global menjadi sangat kuat karena di balik setiap transaksi internasional, selalu ada bayang-bayang dolar.

Namun, belakangan ini, semakin banyak negara mulai bertanya: haruskah kita selalu bergantung pada dolar? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar munculnya fenomena de-dolarisasi, yaitu upaya negara-negara untuk mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan dan keuangan global.

Mengapa Dunia Mulai Bergerak Menjauh dari Dolar?

Fenomena dedolarisasi sebenarnya bukan hal baru. Namun sejak 2022, gaungnya terdengar jauh lebih kuat. Semakin banyak negara mulai mengambil langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat. Lalu apa yang mendorong perubahan arah ini?

Salah satu titik balik terbesar adalah sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat terhadap Rusia. Ketika Rusia memutuskan menginvasi Ukraina, respons cepat datang dari Barat dengan membekukan aset asing Rusia senilai ratusan miliar dolar. Bagi banyak negara, langkah ini menjadi alarm yang membangunkan mereka dari tidur panjang.

Jika cadangan devisa milik negara besar seperti Rusia bisa diblokir secara sepihak, siapa yang bisa merasa aman. Kekhawatiran ini tidak hanya muncul di negara-negara yang bersikap kritis terhadap Amerika seperti Tiongkok dan Iran, tetapi juga diam-diam dirasakan oleh negara-negara sekutu yang mulai mempertanyakan risiko serupa.

Faktor lain yang mendorong dedolarisasi datang dari kebijakan moneter agresif Amerika sendiri, khususnya langkah Federal Reserve. Untuk menekan inflasi yang tinggi, bank sentral tersebut menaikkan suku bunga secara signifikan. Dampaknya, nilai dolar melonjak tajam.

Bagi negara-negara berkembang yang memiliki utang dalam denominasi dolar, ini menjadi kabar buruk. Beban utang mereka otomatis membengkak. Selain itu, harga barang-barang impor juga ikut naik dan memicu gelombang inflasi global yang menghantam ekonomi rakyat kecil di berbagai belahan dunia.

Di tengah kekhawatiran ini, sejumlah negara mulai melangkah mengambil inisiatif. Kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil Rusia India Tiongkok dan Afrika Selatan secara terbuka menyerukan pengurangan dominasi dolar dalam perdagangan internasional. Mereka mulai mendorong penggunaan mata uang lokal dan bahkan tengah menjajaki kemungkinan membentuk mata uang bersama.

Semangat serupa juga terlihat di kawasan Asia Tenggara. Negara-negara seperti Indonesia Malaysia dan Thailand kini telah menerapkan sistem Local Currency Settlement atau LCS yang memungkinkan transaksi lintas negara dilakukan dengan mata uang masing-masing tanpa harus melalui dolar terlebih dahulu.

Data terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) juga memberi sinyal yang jelas. Pada 2024, porsi dolar dalam cadangan devisa global menurun menjadi sekitar 58,4 persen, terendah dalam seperempat abad terakhir.

Ini menunjukkan bahwa dunia mulai mencari alternatif, bukan untuk sepenuhnya membuang dolar, tetapi untuk mengurangi ketergantungan yang selama ini terlalu besar pada satu mata uang saja. Perlahan tapi pasti, sistem moneter global mulai bergerak menuju arah yang lebih multipolar di mana lebih dari satu mata uang punya peran dominan.

Namun, perlu diingat bahwa menggeser dominasi dolar bukan hal yang mudah. Sampai hari ini, lebih dari 80 persen perdagangan internasional masih menggunakan dolar. Pasar keuangan Amerika masih dianggap paling stabil dan transparan. Obligasi pemerintah AS tetap menjadi pilihan utama investor saat dunia dilanda krisis. Artinya, meski dunia ingin mengurangi ketergantungan, kenyataannya masih banyak alasan kuat mengapa dolar tetap digunakan.

De-dolarisasi juga punya tantangan besar. Tidak semua mata uang nasional cukup stabil untuk digunakan dalam perdagangan internasional. Banyak negara berkembang memiliki mata uang yang nilainya fluktuatif.

Di sisi lain, infrastruktur keuangan untuk mendukung transaksi lintas negara tanpa dolar masih dalam tahap awal pengembangan. Yang tak kalah penting, kepercayaan internasional terhadap lembaga-lembaga keuangan non-Barat masih belum sekuat terhadap sistem yang dibangun Amerika dan sekutunya selama puluhan tahun terakhir.

Lalu, apa artinya semua ini bagi masa depan? Mungkin dunia tidak akan benar-benar lepas dari dolar dalam waktu dekat. Namun, arah pergerakan jelas. Sistem keuangan global sedang berubah. Dolar mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya pusat gravitasi melainkan berbagi panggung dengan yuan, euro, atau bahkan mata uang regional lainnya. De-dolarisasi bukan tentang menjatuhkan dolar, tetapi tentang membangun sistem yang lebih seimbang, lebih adil, dan lebih tahan terhadap tekanan politik dan krisis global.