Apakah Berpikir Kritis Harus Muncul Karena Paksaan?

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah -Nothing but, stick on curiosity to what we perceive as the most common thing. Like how language construct our mind and perspective in this world
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Andika Dwi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki gerbang perguruan tinggi sering kali menjadi common shock bagi kebanyakan mahasiswa tahun pertama. Bagaimana tidak? format soal yang dulunya sering dimanjakan dengan pilihan ganda, soal uraian dan pancingan pertanyaan yang simple, kini mereka harus dihadapkan pada gebrakan akademis yang jauh melampaui perkiraan. Sebagaimana yang kita peroleh waktu sekolah, segala materi dari berbagai pelajaran dipaksa masuk ke otak tanpa pertimbangan proses kognitif yang matang. Sementara, di perguruan tinggi mahasiswa harus meninggalkan kebiasaan belajar pasif yang mereka bawa dari sekolah menengah dan beralih menuju metode kognitif yang kompleks yang biasa kita kenal sebagai berpikir kritis.
Transisi ini menjadi krusial karena kemampuan berpikir kritis merupakan prinsip utama bagi pendidikan berbasis liberal arts yang kuat serta menjadi modal penting bagi keberhasilan profesional dan pribadi di masa depan. Meskipun urgensi penguasaan keterampilan ini sangat tinggi dan sering dianggap sebagai prioritas kebijakan institusi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa menyelesaikan tahun pertama mereka tanpa menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis yang signifikan sehingga mereka memulai perjalanan akademis selanjutnya dengan hambatan yang nyata.
Fenomena ini terjadi karena adanya kesenjangan antara harapan fakultas agar mahasiswa berkembang secara alami dan kenyataan bahwa mahasiswa memerlukan intervensi yang jauh lebih agresif untuk mengubah pola pikir mereka. Pemikiran kritis itu sendiri merupakan puncak dari hierarki berpikir yang mencakup seluruh aspek kognitif kesadaran termasuk logika, metode ilmiah, dan pertimbangan atas perilaku manusia yang intuitif serta dampak secara kontekstual. Proses berpikir ini menuntut individu untuk menyadari bias egosentris maupun sosiosentris yang memengaruhi penilaian mereka sehingga kesimpulan yang diambil perlu ada pertimbangan yang matang dan reflektif.
Hal ini kemudian berindikasi bahwa berpikir kritis jauh harus melampaui proses meta-kognisi yang kompleks. Dalam hal ini pemikiran kritis dapat dibentuk melalui kebiasaan pikiran yang kuat, interuptif, yang dipengaruhi oleh konteks kekuasaan dan ketidaksetaraan sosial yang ada di sekitar pemikir tersebut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini memerlukan pendekatan pedagogis yang terstruktur juga dalam lingkungan kampus agar dosen mampu mengetahui kapasitas peluang dan potensi dari kemampuan berpikir kritis dari setiap mahasiswa.
Dalam praktiknya, terdapat pendekatan pasif yang sering diterapkan oleh dosen yang disebut sebagai pendekatan "permitted" di mana dosen berasumsi bahwa mahasiswa akan mengembangkan pemikiran kritis secara bertahap seiring berjalannya waktu. Dosen yang menerapkan metode ini cenderung memberikan kebebasan kepada mahasiswa dengan harapan bahwa kemandirian tersebut akan memicu kedewasaan intelektual tanpa perlu instruksi langsung mengenai bagaimana cara berpikir.
Sayangnya, pendekatan ini sering kali gagal karena mahasiswa tahun pertama banyak yang belum berpengalaman dan cenderung merasa bingung atau justru terlena dengan kebiasaan belajar yang buruk seperti belajar hanya menjelang ujian. Mereka mengakui bahwa ketika mereka dibiarkan sendiri tanpa arahan yang tegas, mereka sering kali menyimpang dari materi yang seharusnya dipelajari atau merasa bahwa tujuan pengembangan pemikiran kritis tersebut tidak pernah dikomunikasikan secara jelas kepada mereka. Akibatnya, banyak mahasiswa yang baru menyadari kekurangan mereka ketika sudah terlambat atau setelah menerima nilai yang mengecewakan di akhir semester.
Pendekatan kedua yang sedikit lebih aktif adalah pendekatan "prompted" di mana dosen memberikan stimulus halus atau dorongan tidak langsung untuk mengajak mahasiswa berpikir di luar kebiasaan menghafal. Strategi ini dapat berupa penggunaan metode bercerita dalam kuliah yang menghubungkan materi dengan dunia nyata atau interaksi tanya jawab yang dirancang untuk memancing rasa ingin tahu mahasiswa. Biasanya dosen juga melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang memuat stimulus di otak agar penasaran akan jawabannya.
Meskipun metode ini lebih efektif daripada sekadar membiarkan mahasiswa belajar sendiri, temuan penelitian menunjukkan bahwa pemicu-pemicu halus ini terkadang masih belum cukup kuat untuk mendobrak pola pikir pasif yang sudah mengakar kuat pada diri mahasiswa. Mahasiswa sering kali membutuhkan instruksi yang jauh lebih eksplisit dan umpan balik yang segera untuk benar-benar memahami bahwa mereka diharapkan untuk melakukan analisis mendalam dan bukan sekadar mengingat materi hanya untuk ujian.
Temuan paling signifikan dari penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan yang paling efektif untuk mengembangkan pemikiran kritis pada mahasiswa sarjana adalah melalui pendekatan "pushed". Mayoritas akademisi sepakat bahwa mahasiswa sering kali harus dipaksa secara konstruktif untuk meninggalkan zona nyaman mereka agar bisa mulai berpikir kritis. Mahasiswa mengakui secara terbuka bahwa tanpa adanya desakan atau guncangan dari luar, mereka cenderung akan tetap menggunakan cara belajar lama yang mengandalkan hafalan.
Tekanan ini berupa sebuah ketegasan akademis yang memaksa mahasiswa untuk beradaptasi dengan tuntutan dialektika yang tinggi dan memahami materi secara konseptual serta kontekstual. Seperti kuis harian atau ujian dengan format soal yang memacu pemahaman yang kritis dalam menangani studi kasus, baik berskala kecil atau besar. Meski biasanya tipe soal seperti ini lebih banyak ditemukan di ranah sosial humaniora yang sejujurnya jadi sarangnya tumbuh pemikiran-pemikiran radikal. Tapi tentu pembahasan ini tidak akan jauh masuk ke situ.
Faktor yang paling sering dialami oleh mahasiswa sebagai titik balik perubahan cara berpikir mereka adalah kejutan akibat nilai ujian pertama yang buruk atau jauh di bawah ekspektasi mereka. Pengalaman mendapatkan nilai rendah pada awal semester berfungsi sebagai dobrakan yang efektif yang memaksa mereka untuk segera mengevaluasi ulang cara belajar mereka dan segera mencari tahu di mana letak kesalahan berpikir mereka. Mereka akan paham dengan sendirinya bahwa di kampus, di dunia yang penuh kompetisi dan kompetensi, setiap individu harus saling beradaptasi agar tidak tereliminasi di kemudian hari. Mirip seperti game Battleground, pemain punya cara tersendiri untuk menang.
Kesimpulannya, pengembangan berpikir kritis pada mahasiswa sarjana tidak dapat diserahkan pada proses alami atau sekadar himbauan halus, karena kebiasaan belajar sewaktu sekolah terlalu sulit untuk diatasi tanpa intervensi yang tegas. Data kualitatif menyimpulkan bahwa mahasiswa justru menghargai dan membutuhkan dorongan eksternal berupa tekanan akademis yang berguna untuk membantu mereka mencapai potensi intelektual tertinggi mereka.
Dosen juga memiliki tanggung jawab untuk merancang kurikulum dan metode pengajaran yang secara aktif memaksa mahasiswa masuk ke dalam fase survival sejak awal perkuliahan. Dengan menerapkan strategi yang memberikan guncangan kognitif awal dan dukungan terstruktur, perguruan tinggi dapat memastikan bahwa lulusan mereka benar-benar memiliki keterampilan berpikir kritis yang komprehensif dan siap menghadapi tantangan industri yang semakin kompleks di masa depan. Sehingga universitas dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya pandai secara teori namun juga bermanfaat dalam fungsi praktis.
Referensi
Halx, M. D., & Reybold, L. E. (2017). Undergraduate Critical-Thinking Development: Permitted, Prompted, or Pushed? The Journal of General Education, 66(3–4), 114–135. https://doi.org/10.5325/jgeneeduc.66.3-4.0114
