Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Tidak Bisa Bicara Sebebas yang Kita Kira

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andika Dwi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.magnific.com/free-photo/dictatorship-oppression-collage-concept_32080079.htm#fromView=search&page=2&position=2&uuid=c0eeb986-c7ac-4af1-94ad-cc25cc43dcb6&track=ais_hybrid&query=power+and+ideology
zoom-in-whitePerbesar
https://www.magnific.com/free-photo/dictatorship-oppression-collage-concept_32080079.htm#fromView=search&page=2&position=2&uuid=c0eeb986-c7ac-4af1-94ad-cc25cc43dcb6&track=ais_hybrid&query=power+and+ideology

Pernahkah terpikir kenapa ada topik yang terasa begitu sulit dibicarakan di ruang publik, sementara topik lain mengalir begitu saja tanpa hambatan? Kenapa pendapat seorang profesor lebih mudah dipercaya dibanding pendapat orang biasa, padahal keduanya membahas hal yang sama?

Michel Foucault, dalam pidato pengukuhannya di Collège de France berjudul L'Ordre du Discours (1970), membongkar mekanisme ini dengan cara yang mengubah cara kita memahami komunikasi, kekuasaan, dan pengetahuan sekaligus. Bagi Foucault, wacana tidak hanya berfungsi sebagai alat menyampaikan pikiran. Wacana adalah medan pertarungan kekuasaan itu sendiri.

Wacana Selalu Dikendalikan

Setiap masyarakat, menurut Foucault, mengendalikan produksi wacana melalui sejumlah prosedur yang berfungsi menjinakkan kekuatan dan bahaya yang melekat di dalamnya. Tiga sistem eksklusi utama diidentifikasi sebagai yang paling berpengaruh: larangan bicara, pemisahan antara akal sehat dan kegilaan, serta kehendak akan kebenaran.

Larangan bicara adalah bentuk paling kentara. Ada topik yang dianggap tabu, ada situasi yang mengharuskan ritual tertentu sebelum seseorang boleh berbicara, dan ada individu yang dianggap tidak berhak bicara tentang hal tertentu. Wilayah seksualitas, agama, dan politik disebut sebagai area yang paling ketat dijaga, karena di sana kekuasaan dan hasrat beririsan secara paling intens.

Foucault berkali-kali menyoroti bagaimana wacana diproduksi dan reproduksi sesuai dengan zamannya. Sejak Abad Pertengahan, ucapan orang yang dianggap gila dianggap tidak bernilai hukum, tidak sah sebagai bukti, bahkan dianggap tidak ada secara sosial meski kata-kata itu terus terucap. Meski praktik psikiatri modern tampak lebih terbuka mendengarkan pasiennya, pembagian lama ini sesungguhnya belum hilang, hanya berpindah bentuk melalui institusi baru seperti rumah sakit jiwa dan sistem diagnosis klinis (Foucault, 1965).

Sistem ketiga, kehendak akan kebenaran, dianggap sebagai yang paling berpengaruh sekaligus paling tersembunyi. Sejak era Yunani, kebenaran mengalami pergeseran makna. Pada masa penyair-penyair seperti Hesiod, wacana yang benar adalah wacana yang diucapkan sesuai ritual oleh mereka yang berhak bicara. Namun sejak Plato, kebenaran mulai dipisahkan dari kekuasaan pengucapnya dan dipindahkan ke isi pernyataan itu sendiri. Pergeseran inilah yang kemudian melahirkan tradisi keilmuan Barat, lengkap dengan lembaga pendukungnya seperti sekolah, perpustakaan, dan laboratorium.

Disiplin Ilmu sebagai Penjaga Gerbang

Selain sistem eksklusi eksternal, ada pula prosedur internal yang membatasi wacana dari dalam dirinya sendiri, salah satunya melalui konsep disiplin ilmu. Sebuah pernyataan tidak otomatis dianggap benar hanya karena faktanya benar. Pernyataan itu harus memenuhi syarat tertentu agar bisa diterima dalam suatu bidang keilmuan.

Kasus Gregor Mendel menjadi contoh yang sering dikutip untuk menjelaskan gagasan ini. Penelitian genetika Mendel tentang sifat keturunan sebenarnya sudah menemukan kebenaran ilmiah jauh sebelum zamannya. Namun karena objek yang ia teliti, yaitu sifat keturunan yang dipisahkan dari spesies dan jenis kelamin, belum sesuai dengan kerangka biologi pada masanya, karyanya sempat diabaikan selama puluhan tahun. Ia disebut berbicara jujur, tetapi belum "berada dalam kebenaran" sesuai aturan main disiplin ilmu yang berlaku saat itu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa validitas sebuah gagasan tidak semata ditentukan oleh kebenarannya, melainkan juga oleh kesesuaiannya dengan aturan wacana yang berlaku pada zaman tertentu. Prinsip pengarang dan komentar juga bekerja dengan logika serupa, di mana otoritas seorang penulis dan tradisi penafsiran teks ikut membatasi ruang gerak makna yang boleh dihasilkan.

Relevansi di Era Digital

Gagasan Foucault ini sangat sinkron ketika dihadapkan pada lanskap komunikasi digital saat ini. Algoritma media sosial, misalnya, bisa dipahami sebagai bentuk baru dari sistem eksklusi yang menentukan konten mana yang layak tersebar luas dan mana yang dibungkam secara diam-diam. Demikian pula sertifikasi akademik dan status "pakar" di platform digital berfungsi mirip dengan prinsip pengarang yang dibahas Foucault, yaitu sebagai penanda otoritas yang menentukan siapa layak didengar.

Analisis wacana ala Foucault juga banyak digunakan dalam kajian kritis terhadap kebijakan publik, pendidikan, dan media, karena kerangka ini membantu mengungkap bagaimana kekuasaan bekerja secara halus melalui bahasa, bukan melalui paksaan yang kasat mata.

Membaca Foucault mengajak kita mempertanyakan hal yang selama ini dianggap wajar, yaitu bagaimana sesuatu bisa dianggap benar, siapa yang berhak menentukannya, dan mengapa aturan itu bisa berubah seiring waktu. Kesadaran ini penting dimiliki siapa pun yang bergelut dengan produksi pengetahuan, baik akademisi, jurnalis, maupun pembuat kebijakan.

Bagi yang tertarik menelusuri lebih jauh bagaimana kekuasaan membentuk wacana dan pengetahuan, membaca langsung karya-karya Foucault seperti The Order of Things atau Discipline and Punish akan memberikan pemahaman yang jauh lebih utuh tentang bagaimana struktur kekuasaan tersembunyi di balik hal-hal yang tampak netral dalam kehidupan sehari-hari.