Mengenal Simulacra dan Realitas Semu Media Sosial

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah -Nothing but, stick on curiosity to what we perceive as the most common thing. Like how language construct our mind and perspective in this world
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Andika Dwi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa bahwa kehidupan yang tampil di layar ponsel tampak jauh lebih nyata dan lebih mendesak dibandingkan dunia fisik di sekitar kita? bahkan ironisnya spontanitas ini bermula ketika kita memulai hari yang baru dengan kesadaran yang masih segar. Namun yang akhirnya dirasakan hanya rasa suntuk, kusam, dan sepersekian detik kemudian, sel-sel otak mulai terangsang oleh suatu substansi yang, bahkan tidak berhubungan dengan apa yang akan terjadi disekeliling kita. Sekat pemisah antara yang nyata dan yang fiksi mulai melebur, hidup pun terbagi diantara dua mode, dimana kita menjadi diri sendiri, dan berdisonansi membentuk persona baru di ruang virtual.
Fenomena ini menciptakan sebuah kondisi yang disebut hiperrealitas, yaitu suatu keadaan di mana batas antara kenyataan dan imajinasi menjadi kabur karena model simulasi telah menjadi lebih dominan daripada fakta yang sesungguhnya. Kita sering terjebak dalam keyakinan bahwa teknologi membawa kita makin dekat dengan kebenaran dengan fungsi ala praktis, padahal teknologi justru menjauhkan kita dari realitas material dan menjebak kita dalam permainan tanda-tanda yang tidak lagi memiliki rujukan asli. Kemudian, apa maksud dari tanda-tanda itu?
Bayangkan kamu suatu hari gabut scrolling, tiba-tiba tatapan terhenti pada iklan promosi sepatu trendy yang sedang diskon besar-besaran. Kamu terpikirkan dan merenung sejenak, andaikata jika di checkout sekarang, itu berarti kamu memiliki sebuah 'tanda/citra' yang selama ini impikan untuk dipajang tidak hanya dirak sepatu, tapi juga di rak postingan di sosial media. Dalam situasi itu, untuk sesaat kamu juga menyadari bahwa kondisi sepatu yang dimiliki saat ini masih layak untuk dipakai, sehingga tidak ada urgensi yang sebenarnya untuk membeli yang baru. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya diputuskan untuk checkout.
Kendati demikian, sesaat kemudian muncul postingan dari teman yang memberikan rating pada makanan di restoran A atas dasar saran dari B. Tapi untuk kali ini, kamu tidak penasaran akan rasa dari makanan tersebut karena sudah pernah merasakannya dahulu. Tapi gejolak aneh tersebut muncul kembali secara intuitif, ini karena apa yang disuguhkan di layar tersebut terasa lebih nyata dan lebih menggugah ketimbang waktu dulu kamu pernah mencoba makanan tersebut. Kurang lebih seperti itulah operasi dari 'sistem tanda' yang bekerja dibalik algoritma sosial media. Ini berhubungan dengan konsep Simulacrum dari Jean Baudrillard.
Dalam fase Simulacra ini, segala sesuatu yang kita konsumsi, mulai dari berita, cara pandang dan gaya hidup, diproduksi melalui kode-kode biner dan model algoritma yang mendahului pengalaman nyata kita. Akibatnya, kita hidup dalam sebuah dunia di mana tiruan atau salinan telah membunuh keotentikannya sendiri sehingga kita tidak bisa lagi membedakan mana yang asli dan mana yang palsu karena perbedaan itu sendiri telah musnah, digantikan oleh rantai citra yang tak berujung.
Media sosial mempercepat proses ini dengan mengubah cara kita memandang identitas diri yang kini tampil layaknya sebuah topeng digital yang terus berubah. Katakanlah profil Facebook atau akun media sosial lainnya sebenarnya bukanlah cerminan akurat dari diri kita yang sesungguhnya, melainkan sebuah simulacrum atau topeng yang berdiri sendiri dan terpisah dari penggunanya, dan ironisnya padahal kita membangun akun tersebut untuk merepresentasikan secara utuh diri kita dihadapan teman-teman yang lain yang dikenal.
Kita sering menganggap profil ini sebagai perwakilan diri, padahal profil tersebut sebenarnya adalah entitas yang dibentuk oleh interaksi dengan algoritma dan fitur-fitur platform yang membatasi ekspresi kita. Katakanlah pada narasi diatas, kamu benar-benar jadi membeli sepatu tersebut dan tak lama setelahnya mengupload foto dengan efek bokeh oleh fitur yang tersedia. Pada saat kamu memposting, pernahkah kamu terpikir bahwa esensi tanda yang paling otentik mewakili dirimu benar benar hadir dalam postingan tersebut? Kamu membeli sepatu itu sebagai implementasi reaksi atas arus tanda-tanda yang lain, bukan karena di kehidupan nyata yang benar benar merefleksikan secara utuh proporsi dari hidupmu.
Ledakan informasi yang terjadi di era digital post-truth ini secara mengejutkan justru tidak membuat kita semakin paham akan dunia, melainkan malah menghancurkan makna itu sendiri. Kita hidup dalam asumsi yang keliru bahwa semakin banyak informasi yang kita terima akan menghasilkan komunikasi yang lebih baik, padahal informasi yang berlebihan justru menelan kontennya sendiri dan mematikan proses komunikasi yang bermakna.
Fenomena post-truth dan berita palsu atau fake news tumbuh sangat subur dalam ekosistem ini karena kebenaran objektif telah kehilangan daya tariknya dibandingkan dengan sensasi emosional yang ditawarkan oleh berita bohong. Pengguna media sosial cenderung membagikan informasi dengan tujuan memicu respons perasaan atau memberikan hiburan yang sesuai dengan keyakinan mereka semata (Echo Chamber Effect). Berita palsu yang viral di platform digital sering kali mendapatkan keterlibatan yang jauh lebih tinggi daripada berita faktual karena narasi fiktif tersebut dirancang khusus untuk memenuhi hasrat dan bias pengguna.
Mekanisme politik dan kebijakan publik pun akhirnya terseret ke dalam logika simulacra ini sehingga wacana politik kini beroperasi melalui istilah-istilah kosong yang dapat diisi dengan makna apa saja demi kepentingan penguasa. Kemudian, kita sering terseret dalam skema polarisasi yang memang sengaja diciptakan oleh subjek yang mendapat keuntungan dari tolakan arus ini. Perdebatan di ruang publik akhirnya hanya menjadi pertukaran tanda yang memperkuat posisi identitas kelompok tanpa pernah benar-benar menyentuh solusi atas permasalahan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, apa yang menjadi beban dan tanggung jawab kita sebagai manusia yang hidup di era post-truth ini tidak luput dari perlunya peran kesadaran kolektif, kesadaran yang memacu dan merebut kontrol atas diri kita kembali berbelok ke arah semula realitas yang menjadikan siapa diri kita sesungguhnya.
Referensi
Morris, J. (2021). Simulacra in the age of social media: Baudrillard as the prophet of fake news. Journal of Communication Inquiry, 45(4), 319-336.
Durani, K., & Eckhardt, A. (2024). From Simulation to Hyperreality: A Critical Investigation into the Role of Simulacra in Visual Formats on Social Media.
Kreps, D. (2008). My Facebook profile: Copy, resemblance, or simulacrum?.
Anna Hogan & Greg Thompson (17 Jul 2025): The policy simulacrum: text, discourse and the hyperreal, Journal of Education Policy, DOI:10.1080/02680939.2025.2533842
