Menyontek di Sekolah: Antara Dosa Moral dan Sistem Pendidikan

Mahasiswa prodi ilmu tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Andika Putra Irawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena menyontek di lingkungan sekolah bukanlah hal baru. Dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, praktik ini seolah menjadi “rahasia umum” yang sulit diberantas. Namun pertanyaan penting yang perlu diajukan bukan hanya apakah menyontek itu berdosa, melainkan juga mengapa praktik ini terus berulang? Apakah semata-mata persoalan moral individu, atau ada problem sistem pendidikan yang ikut menyuburkannya?
Menyontek dalam Perspektif Moral dan Agama
Dalam perspektif moral dan agama, menyontek jelas dipandang sebagai perbuatan tercela. Ia mengandung unsur ketidakjujuran, pengkhianatan terhadap amanah, dan pengambilan hak yang bukan miliknya. Dalam Islam, kejujuran (sidq) adalah nilai fundamental, sementara kecurangan termasuk dalam perilaku yang dikecam.
Menyontek bukan sekadar pelanggaran aturan sekolah, tetapi juga bentuk manipulasi yang merusak integritas pribadi. Dari sudut pandang ini, dosa menyontek bukan hanya karena hasil yang diperoleh, melainkan karena proses yang mengingkari nilai kejujuran.
Tekanan Akademik dan Realitas Psikologis Siswa
Namun, realitas di lapangan sering kali lebih kompleks. Banyak siswa menyontek bukan karena ingin curang, melainkan karena tekanan akademik yang berat: tuntutan nilai tinggi, ketakutan akan hukuman, ekspektasi orang tua, hingga sistem ranking yang kaku.
Dalam kondisi seperti ini, menyontek kerap dipilih sebagai “jalan pintas” untuk bertahan. Di sinilah persoalan moral bertemu dengan realitas psikologis. Kesalahan tetap ada, tetapi faktor pendorongnya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sistem Pendidikan: Apakah Turut Bertanggung Jawab?
Sistem pendidikan yang terlalu menekankan hasil akhir nilai, peringkat, dan kelulusan sering kali mengesampingkan proses pembelajaran dan pembentukan karakter. Ketika nilai menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, kejujuran bisa kehilangan maknanya.
Ujian yang tidak proporsional, metode evaluasi yang monoton, serta minimnya ruang dialog antara guru dan siswa dapat menciptakan lingkungan yang permisif terhadap kecurangan. Dalam konteks ini, menyontek bukan hanya kegagalan individu, tetapi juga cermin dari sistem yang belum sepenuhnya mendidik secara utuh.
Antara Dosa Personal dan Tanggung Jawab Kolektif
Menyontek tetap merupakan kesalahan moral yang harus diakui dan diperbaiki. Namun, menyederhanakan masalah ini hanya sebagai dosa personal tanpa melihat akar strukturalnya berisiko melahirkan sikap menghakimi, bukan solusi.
Pendidikan sejatinya tidak hanya mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat. Ini membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi: penilaian yang adil, penguatan nilai kejujuran, serta sistem yang memberi ruang gagal tanpa harus curang.
Mendidik Kejujuran, Bukan Sekadar Menghukum
Menyontek di sekolah berada di persimpangan antara dosa moral dan problem sistem pendidikan. Menegakkan nilai kejujuran tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan perbaikan sistem yang menekan, bukan mendukung, praktik kecurangan.
Dengan memahami persoalan ini secara utuh, pendidikan dapat kembali pada tujuan utamanya: membentuk manusia yang jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas bukan sekadar pemburu nilai.
