Gurita "Alien" Bumi dengan Sembilan Otak dan DNA yang Menantang Teori Evolusi

Mahasiswa aktif semester 5 Jurusan Biologi dari Universitas Al-Azhar Indonesia dengan minat yang kuat di bidang penelitian dan pengembangan dunia sains khususnya dalam dunia biomedis dan konservasi satwa.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Andikha Bima Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika Anda mengira manusia adalah puncak kecerdasan di planet ini, mungkin Anda belum berkenalan lebih dekat dengan Gurita (Octopus). Makhluk bertubuh lunak ini bukan sekadar bahan hidangan laut atau penghuni terumbu karang biasa. Bagi para ilmuwan, gurita adalah makhluk yang paling mendekati deskripsi "alien" yang pernah kita temukan di Bumi.
Mengapa demikian? Mari kita bedah keanehan fisiologi dan kecerdasan mereka yang tidak masuk akal.
Sistem Saraf Terdesentralisasi: Sembilan Otak dalam Satu Tubuh
Berbeda dengan manusia yang mengandalkan satu otak pusat, gurita memiliki sistem saraf yang unik. Mereka memiliki satu otak pusat, namun dua pertiga dari sel saraf mereka terletak di lengan-lengannya.
Artinya, setiap lengan gurita bisa "berpikir" sendiri. Lengan mereka bisa mencicipi mangsa, membuka tutup toples, atau menjauh dari bahaya tanpa menunggu instruksi dari otak pusat. Jika kita adalah orkestra dengan satu konduktor, gurita adalah sebuah jazz band di mana setiap instrumen bisa berimprovisasi secara mandiri.
Darah Biru dan Tiga Jantung
Lupakan darah merah. Gurita memiliki darah berwarna biru. Hal ini karena darah mereka menggunakan protein berbasis tembaga yang disebut hemocyanin untuk mengangkut oksigen, yang lebih efisien di lingkungan laut yang dingin dan rendah oksigen.
Tak hanya itu, mereka memiliki tiga jantung:
Dua jantung bertugas memompa darah ke insang.
Satu jantung utama memompa darah ke seluruh tubuh.
Fun fact: Saat gurita berenang, jantung utamanya benar-benar berhenti berdetak. Itulah sebabnya mereka lebih suka merayap daripada berenang, karena berenang sangat melelahkan bagi mereka!
Master Penyamaran: Lebih Canggih dari Layar LED
Gurita bisa mengubah warna dan tekstur kulitnya hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Mereka menggunakan organ kecil berisi pigmen yang disebut chromatophores.
Bukan hanya warna, mereka bisa meniru bentuk karang yang kasar atau rumput laut yang bergoyang. Kemampuan ini bukan sekadar insting, tapi hasil dari pemrosesan visual yang sangat kompleks, meskipun ada bukti kuat bahwa gurita sebenarnya buta warna!
Kemampuan Mengedit Gen
Inilah yang membuat para ilmuwan terperangah. Manusia dan hewan lain biasanya mengikuti instruksi genetik dari DNA secara kaku. Namun, gurita (dan beberapa kerabat sefalopodanya) memiliki kemampuan langka untuk mengedit RNA mereka secara besar-besaran.
Mereka bisa mengubah fungsi protein di tubuh mereka secara instan untuk beradaptasi dengan perubahan suhu air yang ekstrem. Ini adalah cara evolusi yang sangat berbeda dari makhluk hidup lain di Bumi, seolah-olah mereka memiliki "perangkat lunak" yang bisa di-update kapan saja tanpa harus menunggu mutasi genetik selama jutaan tahun.
Kecerdasan yang Luar Biasa
Di berbagai akuarium dunia, gurita dikenal sebagai pelarian ulung. Mereka bisa:
Mengenali wajah manusia (dan menyemprotkan air ke orang yang tidak mereka sukai).
Menggunakan alat, seperti membawa batok kelapa untuk dijadikan tempat persembunyian.
Memecahkan teka-teki rumit untuk mendapatkan makanan.
Anatomi Tanpa Tulang: Fleksibilitas "Cair" yang Mustahil
Jika manusia bergantung pada rangka untuk bergerak, gurita adalah kebalikannya. Mereka adalah mahakarya evolusi dalam kategori hidrostatik.
Gurita hampir tidak memiliki bagian keras dalam tubuhnya, kecuali sebuah paruh (beak) yang kuat seperti paruh burung nuri di pusat lengannya. Karena tidak memiliki tulang, seekor gurita besar dapat merayap melewati celah sekecil koin atau lubang sebesar matanya sendiri. Secara fisiologis, otot-otot mereka bekerja sebagai struktur pendukung sekaligus penggerak, mirip dengan cara kerja lidah manusia tetapi jauh lebih kuat dan kompleks.
Lengan dengan Kemampuan "Mencicipi" Segalanya
Setiap penghisap (sucker) pada lengan gurita bukan sekadar alat tempel. Penghisap tersebut dilengkapi dengan reseptor kemo (chemoreceptors) yang sangat sensitif.
Artinya, gurita tidak hanya menyentuh benda, mereka "mencicipi" apa yang mereka sentuh.
Bayangkan jika tangan Anda bisa merasakan rasa manis, asin, atau pahit hanya dengan menyentuh permukaan meja. Inilah alasan mengapa gurita sangat efisien dalam membedakan mana batu yang tidak berguna dan mana kerang yang berisi daging lezat, bahkan di kegelapan total.
Tinta Gurita: Lebih dari Sekadar "Tabir Asap"
Banyak orang tahu gurita menyemprotkan tinta untuk kabur, namun fisiologi di balik tinta tersebut jauh lebih licik. Tinta gurita mengandung enzim yang disebut tyrosinase.
Enzim ini bukan sekadar membuat air menjadi gelap, tetapi juga berfungsi untuk melumpuhkan indra penciuman dan penglihatan pemangsa.
Jika hiu atau belut moray terkena semprotan ini, mereka akan kehilangan jejak bau gurita tersebut, memberi waktu bagi sang "alien" untuk menghilang di balik terumbu karang.
Kulit yang Bisa "Melihat" Cahaya
Penelitian terbaru menemukan fakta mengejutkan: kulit gurita mengandung protein peka cahaya yang disebut opsin, sejenis protein yang sama seperti ditemukan di mata mereka.
Ini berarti kulit gurita bisa merespons perubahan cahaya dan lingkungan tanpa harus memproses informasi tersebut melalui otak pusat terlebih dahulu. Ini adalah sistem "deteksi dini" yang memungkinkan mereka memulai proses penyamaran dengan kecepatan kilat, bahkan sebelum mereka sadar sepenuhnya bahwa ada bahaya yang mendekat.
Kesimpulan: Si Jenius yang Berumur Pendek
Secara anatomi, gurita menantang hampir semua hukum desain makhluk hidup yang kita kenal. Mereka fleksibel seperti cairan, bisa mencicipi dengan kulit, dan memiliki sistem pertahanan kimiawi yang menyerang saraf lawan. Tak heran jika banyak peneliti menyebut gurita sebagai "Evolusi Alternatif" seolah-olah alam sedang bereksperimen menciptakan kecerdasan tingkat tinggi tanpa menggunakan kerangka tulang belakang.
Satu-satunya hal yang menghalangi gurita untuk menguasai lautan adalah usia mereka yang sangat singkat, biasanya hanya 1 hingga 5 tahun. Mereka mati tak lama setelah bereproduksi, mencegah mereka mewariskan pengetahuan antar generasi.
Mempelajari gurita memberi kita perspektif baru: bahwa kecerdasan tidak harus selalu berbentuk seperti manusia. Di bawah samudera yang gelap, ada pikiran yang sangat canggih, dingin, dan benar-benar berbeda dari kita.
