Konten dari Pengguna

Dari Dasar Laut ke Ruang Koleksi BRIN : Mengungkap Jejak Timun Laut

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andina Ramadhani Putri Pane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi Milik Museum Zoologicum Bogoriense, DPKI - BRIN (Dok. Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Milik Museum Zoologicum Bogoriense, DPKI - BRIN (Dok. Penulis)

Koleksi Milik Museum Zoologicum Bogoriense, DPKI - BRIN (Dok. Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Milik Museum Zoologicum Bogoriense, DPKI - BRIN (Dok. Penulis)

Di antara hamparan pasir laut dan pecahan karang, seekor hewan bergerak perlahan menyusuri dasar perairan tropis Indonesia.

Tubuhnya lunak, memanjang, dan memiliki warna yang beragam, mulai dari hitam pekat, kecokelatan, hingga bercorak unik.

“Timun laut mungkin bergerak perlahan di dasar laut, tetapi jejak ilmiahnya mampu membawa kita memahami perubahan biodiversitas laut dari masa lalu hingga masa depan.”

Bagi sebagian orang, hewan ini mungkin hanya dikenal sebagai teripang yang memiliki nilai ekonomi. Namun bagi ilmuwan, timun laut adalah potongan penting dari cerita besar tentang kekayaan biodiversitas laut Indonesia.

Perjalanan timun laut tidak berhenti ketika ia meninggalkan habitat alaminya. Sebagian spesimen kemudian menjadi bagian dari koleksi ilmiah yang tersimpan rapi di fasilitas penyimpanan biodiversitas. Di ruang koleksi ilmiah Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), spesimen timun laut menjadi arsip kehidupan yang menyimpan informasi tentang keberadaan, persebaran, dan perubahan populasi organisme laut dari waktu ke waktu.

Melalui koleksi tersebut, para peneliti dapat mempelajari identitas spesies, membandingkan variasi bentuk tubuh, hingga memahami bagaimana kondisi ekosistem laut Indonesia berubah.

Koleksi Ilmiah, Perpustakaan Kehidupan Laut

Koleksi ilmiah bukan sekadar tempat menyimpan organisme yang telah diawetkan. Koleksi ini merupakan arsip biologis yang menjadi rujukan penting dalam penelitian biodiversitas.

Spesimen yang dikumpulkan melalui ekspedisi, survei lapangan, maupun penelitian kemudian melalui proses preservasi, identifikasi, dan dokumentasi. Timun laut umumnya disimpan sebagai spesimen awetan basah menggunakan larutan pengawet tertentu agar struktur tubuhnya tetap terjaga.

Setiap spesimen memiliki informasi penting yang melekat bersamanya, seperti:

  • nomor koleksi spesimen;

  • lokasi pengambilan;

  • tanggal koleksi;

  • nama kolektor;

  • habitat asal;

  • hasil identifikasi taksonomi.

Data tersebut membuat sebuah spesimen memiliki nilai ilmiah yang jauh melampaui bentuk fisiknya. Seekor timun laut yang dikoleksi puluhan tahun lalu dapat menjadi bukti mengenai keberadaan suatu spesies pada masa tertentu.

Dalam penelitian biodiversitas modern, koleksi ilmiah juga semakin penting karena banyak organisme laut memiliki kemiripan bentuk sehingga identifikasi hanya berdasarkan tampilan luar sering kali tidak cukup. Pendekatan morfologi yang dikombinasikan dengan analisis molekuler kini menjadi metode penting dalam memastikan ketepatan identifikasi spesies (Khatulistiani et al., 2024).

Timun Laut, Bagian dari Kekayaan Echinodermata Indonesia

Timun laut termasuk dalam kelas Holothuroidea, salah satu kelompok dalam filum Echinodermata yang juga mencakup bintang laut, bulu babi, dan lili laut.

Hewan ini hidup di dasar laut dengan habitat yang sangat beragam, mulai dari kawasan lamun, terumbu karang, hingga laut dalam.

Indonesia memiliki posisi istimewa karena berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia.

Salah satu kelompok timun laut yang banyak ditemukan di wilayah tropis adalah famili Holothuriidae. Beberapa spesies yang dikenal di perairan Indonesia antara lain:

  • Holothuria scabra atau teripang pasir, salah satu jenis dengan nilai ekonomi tinggi;

  • Holothuria atra atau teripang hitam yang sering ditemukan di perairan dangkal;

  • Holothuria leucospilota yang banyak ditemukan di sekitar kawasan karang;

  • Holothuria edulis dengan warna tubuh khas merah keunguan;

  • Actinopyga echinites dan Actinopyga miliaris yang berasosiasi dengan habitat terumbu karang;

Spesimen dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Laut Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, memberikan gambaran mengenai luasnya persebaran kelompok hewan ini.

Kotak Fakta: Mengenal Timun Laut Lebih Dekat

Apa itu timun laut?

Timun laut adalah hewan laut dari kelas Holothuroidea yang masih berkerabat dengan bintang laut dan bulu babi.

Berapa banyak spesies timun laut di dunia?

Lebih dari 1.700 spesies timun laut telah dideskripsikan secara global.

Mengapa disebut teripang?

Istilah teripang umumnya digunakan untuk menyebut timun laut yang dimanfaatkan sebagai komoditas pangan.

Apakah timun laut memiliki tulang?

Tidak. Tubuhnya lunak, tetapi memiliki struktur mikroskopis kecil bernama ossicles yang membantu memberikan dukungan tubuh.

Di mana timun laut hidup?

Sebagian besar hidup di dasar laut, terutama kawasan pasir, lamun, dan terumbu karang.

Sang “Pembersih Alami” Dasar Laut

Meski bergerak lambat, timun laut memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan ekosistem.

Timun laut dikenal sebagai bioturbator, yaitu organisme yang membantu mengaduk dan mengolah sedimen dasar laut.

Saat mencari makan, hewan ini menelan pasir atau lumpur yang mengandung bahan organik. Material tersebut diproses dalam tubuh dan dikeluarkan kembali ke lingkungan.

Aktivitas tersebut membantu:

  • mendaur ulang nutrien;

  • menjaga kualitas sedimen;

  • mendukung kehidupan organisme kecil di dasar laut;

  • menjaga keseimbangan ekosistem lamun dan terumbu karang.

Karena perannya tersebut, keberadaan timun laut menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kestabilan ekosistem bentik.

Kotak Fakta: Cara Timun Laut Membantu Laut Tetap Sehat

1. Mengolah sedimen

Timun laut menyaring material organik dari pasir dan lumpur.

2. Mengembalikan nutrien

Sisa proses pencernaan membantu menyediakan kembali nutrien bagi lingkungan.

3. Menjaga habitat laut

Aktivitasnya membantu menciptakan kondisi dasar laut yang lebih sehat bagi organisme lain.

Ketika Nilai Ekonomi Bertemu Ancaman Eksploitasi

Selain memiliki fungsi ekologis, beberapa jenis timun laut juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Holothuria scabra atau teripang pasir, misalnya, telah lama dimanfaatkan sebagai komoditas perikanan dan banyak diperdagangkan dalam bentuk produk kering.

Namun, tingginya permintaan pasar juga membawa ancaman. Penangkapan berlebihan menyebabkan penurunan populasi beberapa jenis teripang di berbagai wilayah.

Kondisi tersebut menjadikan data koleksi ilmiah semakin penting. Melalui perbandingan antara spesimen lama dan data terbaru, peneliti dapat melihat perubahan distribusi spesies serta memperkirakan tekanan terhadap populasi alami.

Koleksi ilmiah berperan sebagai “rekaman sejarah” yang membantu ilmuwan memahami apa yang pernah ada dan bagaimana kondisi biodiversitas saat ini.

Dari Spesimen Menjadi Pengetahuan untuk Masa Depan

Sebuah spesimen yang tersimpan dalam koleksi ilmiah melewati proses panjang sebelum menjadi sumber penelitian.

Mulai dari pengumpulan di lapangan, proses preservasi, verifikasi, validasi, hingga digitalisasi data, setiap tahap dilakukan untuk memastikan informasi biologis tetap dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Selain penyimpanan fisik, BRIN juga mengembangkan digitalisasi koleksi ilmiah agar informasi biodiversitas dapat diakses lebih luas oleh peneliti nasional maupun internasional.

Pada akhirnya, perjalanan timun laut bukan hanya tentang kehidupan seekor hewan di dasar laut. Ia adalah perjalanan pengetahuan dari alam menuju ruang koleksi, dari spesimen menjadi data, dan dari data menjadi dasar bagi upaya konservasi.

Timun laut mungkin bergerak perlahan di dasar laut, tetapi kisah ilmiahnya terus bergerak jauh melampaui habitatnya.

Referensi

Hamel, J. F., & Mercier, A. (2022). The biology, ecology, fisheries and aquaculture of Holothuria scabra. Advances in Marine Biology.

Helmiyani, N. A., Suryanti, & Purwanti, F. (2024). Community structure of sea cucumber (Echinodermata: Holothuroidea) resources in the Kepulauan Seribu National Park, Indonesia. Biodiversitas, 25, 344–354.

Khatulistiani, T. S., Wirawati, I., Patantis, G., Yasman, & Dewi, A. S. (2024). Sea cucumber biodiversity: A first report of morphological observations of sea cucumbers from Lampung and Gorontalo, Indonesia. Biodiversity, 25(1), 65–77.

Kalidi, N. S., Muskananfola, M. R., & Suryanti, S. (2023). Diversity and abundance of sea cucumber resources in Indonesian waters. Biodiversitas, 24, 6002–6009.

Penulis Andina Ramadhani Putri Pane & Siti Mardlijah, Peneliti pada Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI), BRIN