Konten dari Pengguna

Mengenal Tradisi Becekan Desa Kepuharjo yang Masih Lestari

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andini Anggraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lurah Desa Kepuharjo, Heri Suprapto, mengatakan tradisi Becekan atau Dadan Kali adalah sebuah upacara penyembelihan hingga proses memasak kambing jantan yang wajib dilakukan oleh warga Dusun kepuh, Dusun Manggong, dan Dusun Pagerjurang berjenis kelamin laki-laki.

1,1 Wawancara Lurah Desa Kepuharjo. Sumber: Dokumentasi Pribadi (2026)
zoom-in-whitePerbesar
1,1 Wawancara Lurah Desa Kepuharjo. Sumber: Dokumentasi Pribadi (2026)

Tradisi ini dilaksanakan pada hari jumat kliwon saat mongso ketiga atau masa ketiga dalam kalender jawa, merujuk pada musim kemarau pada bulan Agustus dan September, jika bulan tersebut tidak ada jumat kliwon maka bisa juga pada mongso kepapat atau masa ke empat dalam kalender jawa, merujuk pada musim pancaroba pada bulan september dan oktober.

Tradisi ini bertujuan untuk memohon kepada yang maha kuasa agar diberikan hujan dan air tetap tersedia, terutama pada musim kemarau serta sumber mata air yang sudah ada tidak mengalami penyusutan.

Dukuh Dusun Manggong, Berry Sudarmawan, mengatakan bahwa tradisi Becekan tahun ini akan diselenggarakan pada tanggal 25 September 2026. Di tahun ini setiap dusun yang mengikuti tradisi mengirimkan kambing jantan berjumlah dua ekor.

1.2 Wawancara Dukuh Dusun Manggong. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kambing yang dikirimkan terdapat beberapa kriteria seperti wajib bertanduk dan tidak boleh kambing gimbal serta berkondisi sehat atau tidak cacat, sebelum disembelih kambing akan didoakan oleh pak kaum.

Tokoh masyarakat setempat, Benu Hartoyo juga mengatakan bahwa tahun lalu diadakan kesenian cokekan dan jatilan setelah prosesi tradisi selesai.

1.3 Wawancara Tokoh Masyarakat Dusun Manggong. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Lurah Desa Kepuharjo, Heri Suprapto, juga mengatakan tradisi becekan berasal dari kata “becek” yang berarti basah atau dalam KBBI artinya berair dan berlumpur.

Warga setempat juga memiliki cerita dibalik adanya tradisi becekan ini, yakini sebuah kisah tentang seorang perempuan yang sedang datang bulan dan mandi di sungai. Setelah itu, air sungai perlahan hilang. Masyarakat pada zaman dahulu kemudian melakukan topobroto sebagai bentuk usaha untuk mengembalikan air. Salah satu kegiatannya adalah menyembelih kambing jantan yang dilakukan oleh para warga.