UMKM Penggerak Ekonomi Butuh Lebih dari Sekadar Slogan dan Pujian

Mahasiswi Universitas Pamulang Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Andini Lutfi yani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

UMKM penggerak ekonomi adalah kalimat yang sangat sering kita dengar, dari pidato pejabat sampai spanduk acara bazar. Saya tidak membantah kebenarannya. Warung, penjahit, pengrajin, penjual makanan, hingga toko daring kecil memang menopang kehidupan banyak keluarga dan menyerap tenaga kerja di sekitarnya. Namun dari yang saya amati, ada jarak lebar antara pujian dan pertolongan. Menurut saya, UMKM penggerak ekonomi tidak cukup dipuji, melainkan perlu dipermudah jalannya: akses modal yang masuk akal, pasar yang terbuka, dan aturan yang tidak membingungkan.
UMKM penggerak ekonomi tumbuh dari dekat dengan rakyat
Kekuatan usaha kecil ada pada kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Mereka lahir di lingkungan, mempekerjakan tetangga, dan membelanjakan keuntungannya di sekitar. Uang yang berputar di tingkat ini cenderung bertahan di lingkungan setempat, bukan langsung keluar.
Karena itu, saya melihat UMKM sebagai penyangga yang penting ketika ekonomi bergejolak. Ketika pekerjaan formal sulit didapat, banyak orang memilih membuka usaha kecil sebagai jalan bertahan. Peran ini nyata, dan menurut saya pantas dihargai dengan kebijakan, bukan hanya kata-kata.
Akses modal: hambatan klasik bagi UMKM penggerak ekonomi
Masalah yang paling sering saya dengar dari pelaku usaha kecil adalah modal. Bukan karena tidak ada sumber pembiayaan, melainkan karena syaratnya sering terasa berat: agunan, pencatatan keuangan yang rapi, dan proses yang berbelit.
Di sisi lain, ada pelaku usaha yang terjebak pinjaman berbunga tinggi karena tidak tahu pilihan lain. Menurut saya, yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak program, tetapi akses yang mudah dipahami dan sesuai dengan kondisi usaha kecil. Pendampingan sederhana, misalnya cara mencatat keuangan dan memilih jenis pembiayaan, bisa sama berharganya dengan dana itu sendiri.
Digitalisasi UMKM: peluang yang tidak merata
Platform digital membuka pasar yang dulu sulit dijangkau. Usaha rumahan bisa menjual ke kota lain hanya lewat ponsel. Saya melihat ini sebagai peluang besar, tetapi juga perlu jujur bahwa manfaatnya belum merata.
Tidak semua pelaku usaha terbiasa dengan teknologi, punya waktu mengurus akun, atau mampu bersaing dengan penjual besar yang bermodal iklan. Digitalisasi tanpa pendampingan bisa membuat usaha kecil kewalahan atau terjebak persaingan harga. Menurut saya, pelatihan yang praktis dan berkelanjutan lebih berguna daripada sekadar imbauan agar UMKM go digital.
Naik kelas adalah tujuan, bukan sekadar bertahan
Ada hal yang jarang dibahas: banyak usaha kecil bertahan bertahun-tahun di ukuran yang sama. Itu bukan karena pemiliknya malas, tetapi karena jalan untuk naik kelas penuh hambatan, mulai dari perizinan, standar produk, hingga akses ke pasar yang lebih besar.
Saya berpendapat, ukuran keberhasilan kebijakan UMKM sebaiknya bukan seberapa banyak usaha yang tercatat, tetapi seberapa banyak yang berhasil tumbuh, menambah tenaga kerja, dan menembus pasar baru. UMKM penggerak ekonomi seharusnya diberi tangga, bukan hanya diberi tepuk tangan.
Tentu ada pandangan lain yang patut dipertimbangkan. Sebagian pihak berpendapat bahwa tidak semua usaha kecil perlu atau ingin menjadi besar, dan bertahan sebagai usaha keluarga sudah merupakan keberhasilan. Ada pula yang menilai bantuan pemerintah yang terlalu luas berisiko tidak tepat sasaran atau menciptakan ketergantungan. Pandangan itu patut diperhatikan. Menurut saya, dukungan perlu disesuaikan dengan tujuan masing-masing usaha dan diawasi agar sampai kepada yang benar-benar membutuhkan.
Penutup
Pada akhirnya, UMKM penggerak ekonomi bukan sekadar slogan yang enak diucapkan, melainkan kenyataan yang menuntut tindak lanjut. Pelaku usaha kecil sudah bekerja keras dengan sumber daya terbatas. Tugas kita, baik pemerintah, lembaga keuangan, platform, maupun konsumen, adalah memudahkan jalannya. Kita bisa memulai dari hal sederhana: membeli dari usaha kecil di sekitar kita dan memperlakukan mereka sebagai mitra, bukan sekadar objek pujian.
