Konten dari Pengguna

Fenomena Pindah Kewarganegaraan: Tren Baru atau Cermin Ketidakpercayaan?

Andini Pitaloka

Andini Pitaloka

Mahasiswa Program Studi Matematika Universitas Negeri Jakarta. Saya yakin bahwa generasi muda punya peran penting membangun Indonesia. Bukan nanti, tapi mulai hari ini, lewat hal-hal sederhana.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andini Pitaloka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, media sosial kerap diramaikan dengan kisah warga negara Indonesia yang memilih berpindah kewarganegaraan. Ada yang terang-terangan menyebut kecewa dengan situasi politik, ekonomi, atau merasa tak dihargai di negeri sendiri. Tak sedikit pula yang memilih diam, lalu muncul dalam berita sebagai atlet, kreator, atau profesional yang kini membawa bendera negara lain.

Pertanyaannya: apakah ini sekadar pilihan individu yang sah, atau ada sesuatu yang lebih besar yang perlu kita cermati bersama?

Di satu sisi, berpindah kewarganegaraan adalah hak. Dunia makin terbuka. Mobilitas global meningkat. Orang mencari peluang terbaik untuk hidup dan berkembang. Tapi di sisi lain, fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan tentang rasa memiliki terhadap tanah air. Jika banyak orang muda, cerdas, dan berbakat merasa lebih dihargai di luar negeri, tidakkah ini tanda ada yang perlu dibenahi dalam rumah kita sendiri?

Apakah negara sudah cukup adil? Apakah ruang partisipasi bagi warga benar-benar terbuka? Apakah meritokrasi berjalan, atau hanya slogan? Sebab mencintai negara bukan sebatas hal-hal seremonial seperti berdiri saat lagu kebangsaan berkumandang atau memasang bendera setiap 17 Agustus. Rasa cinta itu tumbuh ketika warga merasa dihormati, suaranya diperhatikan, dan masa depannya diberi ruang untuk tumbuh.

Kita perlu jujur melihat bahwa nasionalisme generasi hari ini bukan lagi bentuk tunggal. Ada yang menunjukkan lewat kritik di Twitter, lewat karya seni, hingga lewat startup yang menyelesaikan masalah sosial. Tapi ketika suara-suara itu justru diabaikan atau dicurigai, wajar jika sebagian orang mulai lelah dan memilih pergi.

Fenomena ini bukan sekadar soal pindah paspor. Ini soal bagaimana negara membangun rasa memiliki, rasa aman, dan rasa dihargai pada warganya. Kalau tidak, bukan hanya talenta yang pergi tapi juga harapan.

Photo by Porapak Apichodilok: https://www.pexels.com/photo/brown-passport-346798/