Konten dari Pengguna

Zul dan Laut Yang Tak Lagi Berpihak

Ilustrasi Pada Saat di Laut Foto oleh Bezalens JGP dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/38065140/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pada Saat di Laut Foto oleh Bezalens JGP dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/38065140/

membaca cerpen zul hanya ingin melaut karya F. Ilham Satrio ini. Sepintas, cerita tersebut hanya mengisahkan Zul, seorang nelayan yang nekat melaut di tengah hujan demi mencari nafkah. Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin tampak bahwa musuh terbesar Zul bukanlah badai, bukan pula ombak. Musuh itu justru datang dari perubahan lingkungan dan sesama manusia yang sama-sama hidup dari laut.

Lalu, apa sebenarnya yang ingin disampaikan F. Ilham Satrio melalui cerpen ini?

Untuk memahaminya, kita dapat menggunakan pendekatan Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi (2018). Menurut Burhan, tema merupakan makna dasar yang menopang keseluruhan cerita. Tema tidak hanya tampak dari persoalan yang diangkat, tetapi dibangun melalui tokoh, konflik, latar, hingga penyelesaian cerita. Oleh karena itu, untuk memahami cerpen ini, pembaca perlu melihat hubungan antarunsur tersebut sebagai satu kesatuan.

Ketika Laut Tak Lagi Menjadi Tempat Pulang

Burhan membedakan tema menjadi tema mayor dan tema minor. Tema mayor merupakan gagasan utama yang menjadi inti cerita, sedangkan tema minor hadir sebagai pendukung yang memperkuat makna tersebut.

Tema mayor cerpen ini adalah perjuangan masyarakat kecil mempertahankan hidup ketika alam yang selama ini menjadi sumber penghidupan perlahan kehilangan kemampuannya memberi kehidupan.

Gagasan itu muncul sejak Zul mulai mempertanyakan hubungan dirinya dengan laut.

"Yang kurasakan kini bukan rumahkulah yang membelakangi laut, melainkan laut yang tengah membelakangi kami. Apa laut bisa menyimpan dendam?"

Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan seorang nelayan yang sedang kecewa. Laut dihadirkan sebagai simbol kehidupan. Ketika laut "membelakangi" mereka, sesungguhnya yang sedang dibicarakan pengarang adalah hilangnya ruang hidup masyarakat pesisir.

Aliung kemudian memberikan jawaban yang memperjelas persoalan sebenarnya.

"Bukan laut yang mendendam," kata Aliung, "kau tengok Tanjung Sauh, macam apa pulau itu sekarang?"

"Macam gurun," kujawab.

"Ah! Macam kuburan saja!"

Percakapan ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan terletak pada laut yang berubah secara alami, melainkan pada kerusakan lingkungan yang telah mengubah wajah kawasan pesisir. Dalam pandangan Burhan, konflik antara tokoh dan lingkungannya seperti ini merupakan salah satu cara pengarang membangun tema secara tidak langsung.

---

Kerusakan Alam yang Menghancurkan Kehidupan

Burhan juga menjelaskan bahwa tema sering kali lahir dari realitas sosial yang melatarbelakangi cerita.

Dalam cerpen ini, F. Ilham Satrio tidak secara gamblang menyebut penyebab rusaknya laut. Namun, melalui dialog tokohnya, pembaca dapat menangkap bahwa ekosistem pesisir telah mengalami kerusakan yang serius.

"Orang-orang kita berjaga di sana."

"Mau bagaimana lagi? Gamat pun tak ada, rusak semua."

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kritik yang kuat. Hilangnya gamat menunjukkan bahwa laut tidak lagi berada dalam kondisi yang sehat. Akibatnya bukan hanya berkurangnya hasil tangkapan, tetapi juga hilangnya mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut.

Kondisi tersebut semakin dipertegas melalui pengakuan Zul.

"Bila cara bekerja laut tak seperti itu, aku sudah menjual perahu kajang ini, menggadai rumah demi uang sagu hati lalu memburuh seperti tetanggaku, membeli motor dan mengojek seperti tetanggaku..."

Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa menjadi nelayan bukan lagi pilihan yang menjanjikan. Banyak warga mulai meninggalkan laut demi pekerjaan lain karena alam yang dulu menghidupi mereka kini tak lagi mampu memberikan hasil yang sama.

Dalam kerangka Burhan, tema seperti ini termasuk tema sosial karena berangkat dari kenyataan hidup masyarakat.

---

Musuh Terbesar Ternyata Bukan Alam

Jika pada awal cerita pembaca mengira konflik terbesar berasal dari badai dan cuaca buruk, pengarang justru menghadirkan kejutan pada bagian klimaks.

Setelah berhasil memperoleh beberapa ekor kakap merah, Zul justru menjadi korban tindakan manusia lain.

"Mampus kau!" teriak seseorang dari kapal, tawanya bercampur dengan deru mesin diesel.

Tidak ada penjelasan siapa orang tersebut. Tidak ada alasan mengapa perahu Zul ditabrak. Justru ketiadaan penjelasan itulah yang membuat adegan ini terasa semakin mengerikan.

Akibat peristiwa tersebut, seluruh hasil kerja Zul lenyap.

"Hilang sudah kakap merahku. Hilang sudah. Semua joran patah, bubu rusak, atap kajangku hancur!"

Dalam teori Burhan, bagian ini merupakan puncak pengembangan tema. Konflik yang sejak awal dibangun akhirnya mencapai titik tertinggi ketika tokoh kehilangan hampir seluruh harapannya. Pengarang seolah ingin menunjukkan bahwa penderitaan masyarakat kecil tidak selalu datang dari alam, tetapi sering kali berasal dari sesama manusia yang memiliki kuasa lebih besar.

---

Harapan yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Tema minor yang paling menonjol dalam cerpen ini adalah keteguhan seorang nelayan untuk tetap bertahan meskipun berkali-kali mengalami kegagalan.

Sepanjang cerita, Zul kehilangan hampir seluruh alat kerjanya. Joran patah, bubu koyak, hasil tangkapan hanyut, bahkan perahunya rusak. Namun, ia tidak pernah mengatakan ingin meninggalkan laut.

Sebaliknya, pada bagian akhir cerita ia justru berkata,

"Baik istriku dan Aliung tahu, yang aku butuhkan hanyalah laut, yang aku butuhkan hanyalah hidup darinya."

Kalimat tersebut menjadi penutup yang sangat kuat. Laut memang tidak lagi seramah dahulu, tetapi bagi Zul, laut tetap menjadi satu-satunya tempat untuk menggantungkan kehidupan.

Menurut Burhan Nurgiyantoro, penyelesaian cerita merupakan bagian penting dalam mempertegas tema. Penutup cerpen ini tidak menawarkan kemenangan ataupun kebahagiaan. Yang ditawarkan justru ketabahan. Zul tetap memilih kembali kepada laut karena hanya itulah yang ia miliki.

Pada akhirnya, cerpen F. Ilham Satrio bukan sekadar kisah tentang seorang nelayan yang pulang membawa peti kosong. Cerpen ini merupakan kritik terhadap kerusakan lingkungan, rapuhnya kehidupan masyarakat pesisir, dan kerasnya realitas sosial yang membuat orang-orang kecil terus berjuang meskipun harapan mereka berkali-kali dihancurkan. Melalui sosok Zul, pengarang mengingatkan bahwa ketika alam rusak dan kemanusiaan ikut kehilangan empati, yang paling pertama menanggung akibatnya adalah mereka yang hidupnya sepenuhnya bergantung pada alam. Itulah tema yang, menurut Burhan Nurgiyantoro, menjadi makna terdalam dari keseluruhan cerita.

Daftar Pustaka

Satrio, F. I. (2026, 4 juli). Zul hanya ingin melaut. Kompas. https://www.kompas.id/

Nurgiyantoro, B. (2018). Teori Pengkajian Fiksi (Cetakan ke-12). Gadjah Mada University Press.