Konten dari Pengguna

Sastra Rakyat Minangkabau

Orlin Andini

Orlin Andini

mahasiswa universitas andalas

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Orlin Andini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

canva.com
zoom-in-whitePerbesar
canva.com

Ruang lingkup sastra Minangkabau tentu saja adalah karya sastra yang berada dalam ruang lingkup wilayah Minangkabau. Kesusastraan Minangkabau adalah kesusastraan adat, yaitu gambaran perasaan dan pikiran dalam tataran alur patut yang diungkapkan dengan bahasa Minangkabau yang diwariskan secara oral atau kato-kato atau rundiang bakiah kato bamisa (rundingan berkias kata bermisal) dari suatu generasi kegenarasi (Maryelliwati, 1995:29). Tradisi lisan sebagai kekayaan sastra budaya Minangkabau merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga, bukan saja menyimpan nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat tradisional, melainkan juga bisa menjadi akar budaya dari suatu masyarakat baru. Dalam arti, tradisi lisan bisa menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru (Esten, 1999:105).

Kehidupan sastra tradisional Minangkabau dikatakan cukup subur. Karya sastra Minangkabau cukup banyak jumlahnya, khususnya kaba, pantun, dan pepatah-petitih. Karya sastra Minangkabau tersebar secara lisan dan tertulis. Karya sastra Minangkabau yang tertulis dapat ditemukan berupa naskah dan berupa buku cetakan.

Kesusastraan Minangkabau banyak mengandung ungkapan yang plastis dan penuh dengan kiasan, sindiran, perumpamaan atau ibarat, pepatah, petitih, mamangan, dan sebagainya yang dikategorikan para ahli sebagai peribahasa. Dalam percakapan sehari-hari orang pun lazim menggunakan ungkapan yang plastis itu.

Berikut adalah jenis jenis sastra rakyat Minangkabau.

1.Kaba.

Kaba adalah cerita prosa berirama, berbentuk narasi (kisahan), dan tergolong cerita panjang, sama dengan pantun Sunda. Dari segi isi cerita, kaba ini sama dengan hikayat dalam sastra Indonesia lama atau novel dalam sastra Indonesia modern. Cerita kaba dengan mudah didendangkan karena gaya bahasa yang digunakan dalam kaba adalah bahasa prosa berirama. Dijelaskan oleh Bakar (1979:8-9), gaya prosa berirama ditandai oleh suatu ciri penanda yang khas. Pola kalimatnya terdiri atas gatra-gatra dengan jumlah suku kata yang relatif tetap. Biasanya masing- masing gatra terdiri atas delapan suku kata, kadang-kadang delapan atau sepuluh. Konsistensi jumlah suku kata itulah yang memungkinkan timbulnya irama di dalam bahasa kaba, seperti halnya metrum yang menimbulkan irama pada sebuah lagu. Kaba berfungsi sebagai hiburan, pelipur lara, dan sebagai nasihat, pendidikan moral. Di dalam kaba itu terkandung banyak nilai budaya.

2.Pantun.

Pantun adalah puisi yang terdiri dari kalimat yang berirama a-b a-b. Karena itu, pantun umumnya memiliki baris dengan jumlah genap yang terdiri dari dua, empat, enam, delapan, sepuluh, dan dua belas. Setengah dari baris pantun disebut dengan sampiran dan setengahnya merupakan isi. Namun, pada pantun Minangkabau, sampiran mempunyai makna sejajar dengan isinya. Pantun Minangkabau pekat kiasan dan kental metaforanya. Sampiran dan isinya dihubungkan oleh majas yang jauh lebih halus dan samar dibandingkan pantun Melayu, sehingga “sulitnya menafsirkan pantun Minangkabau terletak pada watak bahasa yang digunakan yang sangat samar dan sulit dipahami” (Chadwick 1994:84). Itulah karakter bahasa sastra Minangkabau yang dipakai dalam tradisi bersilat lidah (lidah fu) seperti pasambahan (Toorn 1879; Hasselt 1883; Eerde 1879), pertunjukan indang (Kartomi 1986, Suryadi 1994; Ediwar 2007), dan berbagai upacara adat lainnya. Contoh pantun sebagai berikut.

O, upiak rambahlah paku,

Nak tarang jalan ka parak.

O, upiak ubalah laku,

Nak sayang urang ka awak.

O, upik rambahlah paku,

Biar terang jalan ke parak.

O, upik ubalah laku,

Biar sayang orang ke awak.

3.Pepatah Petitih.

Pepatah petitih adalah salah satu jenis sastra lisan Minangkabau yang berbentuk puisi, mengandung kalimat dan ungkapan yang mendalam, luas, halus, tepat, dan mengandung makna kiasan. Pepatah petitih terkadang diungkapkan dalam kalimat pendek, dan terkadang dalam bentuk pantun. Kata-kata yang digunakan dalam peribahasa adalah kata-kata yang mempunyai arti kiasan, perumpamaan dan mempunyai arti tertentu.

Kalimat pepatah dan petitih sangat elastis. la dapat diolah ke berbagai bentuk kalimat dengan cara menyisipi beberapa kata atau merombaknya dari kalimat positif menjadi kalimat negatif. Kalimat yang telah diolah itu tidak lagi disebut pepatah atau petitih. la telah menjadi kalimat peribahasa dengan susunan kalimat sebagaimana bentuk dan gaya kesusastraan. Contohnya:

Kareh ditakiak, lunak disudu. (Keras ditakik, lunak disudu).

dapat diolah menjadi berbagai macam kalimat, di antaranya ialah:

Kok kareh ditakiak, kok lunak disudu. (Kalau keras ditakik, kalau lunak disudu).

Ma nan kareh ditakiak, ma nan lunak disudu. (Mana yang keras ditakik, mana yang lunak disudu).

Inyolah nan ka manakiak nan kareh, inyolah nan ka manyudu. (Yang lunak Dialah yang akan menakik yang keras, dialah yang akan menyudu yang lunak.

4.Mamangan.

Mamangan yaitu kiasan yang mengandung arti sebagai pegangan hidup yang berisi suruhan, anjuran, dan larangan. Istilah mamangan dibedakan dengan kiasan yang lainnya karena penekanannya terhadap isi yaitu berisi nasehat. Mamangan itu sangat berarti bagi orang Minang. Ia mampu mendorong orang untuk melakukan sesuatu dan juga mampu mencegah orang berbuat sesuatu. Mamangan menjadi pedoman orang dalam bertingkah laku. Ia dapat membentuk perilaku hubungan sosial dalam masyarakat. Mamangan merupakan kristalisasi pengalaman batin masyarakat Minangkabau. Insprirasinya bersumber dari alam. Hal itu dalam mamangandisebut Alam Takambang Jadi Guru. Mamangan ini sendiri berarti bahwa orang harus belajar dari alam, gelagat alam, sifat alam, dan jangan menyimpang darinya. Jika menyimpang berarti menuju kehancuran dan kekecewaan. Contohnya sebagai berikut.

Anak dipangku, kamanakan dibimbing.

Anak dipangku, kemenakan dibimbing.

Maksudnya, seorang laki-laki berkewajiban memangku, yang artinya memberi kehidupan, anaknya, di samping itu ia berkewajiban memberi bimbingan ilmu kepada kemenakannya.

Gadang jan malendo, cadiak jan manjua.

Besar jangan melanda, cerdik jangan menjual.

Maksudnya, seorang pembesar atau pemimpin jangan menggilas orang kecil dan orang pintar jangan menipu orang bodoh.

5.Pituah.

Pituah merupakan kalimat yang bermakna sebagai kata berhikmah atau kata mutiara yang diucapkan orang bijaksana atau orang tua. Dalam kesu- sastraan selalu ditemui sebagai kata orangtua dengan ungkapan Bak pituah urang tuo-tuo (bagai petuah orang tua-tua). Bentuknya merupakan dua bagian kalimat yang masing-masing terdiri dari dua sampai empat buah kata. Isinya merupakan ajaran etik yang nilainya universal. Contohnya ialah sebagai berikut.

Bakato marandah-randah, mandi di ilia-ilia.

Berkata merendah-rendah, mandi di hilir-hilir.

Maksudnya, berbicara jangan sombong, kalau mandi di sungai sebaiknya di sebelah hilir, agar air orang tidak sampai keruh kalau mandi sebelah mudik.

Lamak dek awak, hatuju deh urang.

Enak bagi kita, senang bagi orang.

Maksudnya, apa yang ingin kita lakukan hendaknya disukai orang lain.

6.Kias.

Dalam sastra Minangkabau banyak sekali sinonim istilah kias ini, seperti: sindia (sindir), hereanggendeang (hereng-gendeng).dan kato malereang (kata mele reng kata tidak langsung). Sindir lebih cenderung merupakan kata-kata yang ditujukan unt untuk merendahkan sasaran yang dibicarakan. Sedangkan kias merupakan kata-kata yang ditujukan secara tidak langsung kepada sasaran dan dinilai sebagai suatu bahasa yang sopan tanpa merendahkan siapa pun. Pemahaman kata kiasan sangat penting, terutama karena diperlukan untuk komunikasi dalam hubungan kekerabatan yang rumit yang menuntut sopan santun, saling menghormati, tanpa kehilangan harga diri antara sesamanya. Contohnya sebagai berikut.

Bodoh ndak namuah diaja, cadiak ndak dapek ditompang.

Artinya: Orang yang dalam keseharian berlagak , mengaku pandai akan tetapi sesungguhnhya banyak kebodohan dan kesalahan yang dilakukannya, enggan menerima nasehat. Ketika diyakini dirinya sebagai orang hebat ternyata ndak pula bisa memberikan kontribusi , memecahkan masalah dirinya dan orang lain.