kumparan
KONTEN PENGGUNA
10 September 2018 14:12

Dolar Naik, Tuhan Sedang Marah!

Cover-Andira Pramanta
Andira Pramanta. Foto: kumparan
“Gila! Dolar bisa tembus 15.000. Gawat, krismon lagi nih”, jerit seorang teman di grup WhatsApp. Kemudian seperti yang biasa terjadi di kesempatan apapun, opini langsung berkembang, melantur, dari yang berbau ekonomi, politik, sampai, dengan mistis.
ADVERTISEMENT
Ada yang bilang ini karena negara terlalu banyak berhutang, ada yang bilang salah pemerintah, sampai ada komentar bahwa rupiah melemah karena Tuhan sedang marah sama Indonesia. Terdengar akrab? Iya, bukan cuma di lingkungan kamu doang.
Kurs Rupiah terhadap Dolar AS
Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Intinya, banyak yang mengeluh. Seakan punya dampak "Langsung" terhadap kehidupannya.
(Sarcastically speaking), jumlah “ahli ekonomi” meningkat sejak dolar naik, kelihatan dari bermunculan cuitan-cuitan tentang naiknya dolar di twitter. Namun ada juga yang tersenyum, biasanya mereka freelancer yang punya client di luar negeri, teman-teman yang bekerja di perusahaan dan biasanya digaji dengan dolar, dan mereka yang investasi dalam mata uang dolar.
“Duh enak ya digaji dolar”. Saya jadi inget ucapan @pinot, bahwa jangan ngomongin dolar melulu, coba cek sebentar, semisalnya kita bekerja dibayar pakai Dinar (1 dinar = hampir 50 ribu).
ADVERTISEMENT
Jadi, haruskah kita serta-merta panik dengan menguatnya dolar ini? Tenang, duduk, nafas, dan minum dulu. Santai sejenak. Seperti yang saya lakukan, melihat keadaan diri sendiri dulu. Introspeksi bahasa canggihnya.
Seberapa besar pengaruh “dolar naik” ini terhadap saya, sebagai seorang freelance graphic designer, content creator, juga penyiar tanpa radio (iya, belum menerima tawaran untuk jadi penyiar tetap lagi, sabar).
Pengaruh langsung saya rasakan ketika menerima tagihan kartu kredit bulanan. Karena ada beberapa transaksi yang menggunakan dolar di dalamnya. Sebagai content creator juga graphic designer saya menggunakan keluarga aplikasi Adobe, dari Illustrator, Photoshop, inDesign, after effect, sampai ke aplikasi video edit Premiere Pro.
Chart Dollar-Rupiah
Dollar-Rupiah (Foto: Dok. Reuters)
Yang mengharuskan saya untuk membayar langganan bulanan, konversi dari mata uang dolar amerika. Ditambah lagi beberapa domain dot com yang saya harus perpanjang setiap tahunnya, baik punya pribadi atau punya client (yang kadang-kadang harganya minta disamain setiap tahunnya), juga hosting server, semuanya dalam mata uang dolar.
ADVERTISEMENT
Pengaruh lain yang cukup signifikan adalah dari kebiasaan berbelanja online. Bukan sekedar belanja dari toko online lokal, melainkan dari portal-portal luar negeri seperti eBay, amazon, dan toko-toko online lainnya. Saya suka sekali mencari sneakers yang tergolong susah didapat di Indonesia, terutama buat anak, karena jarang sekali tersedia model dan ukuran yang pas di Indonesia.
Solusinya? Ya belanja online, dengan harga dolar. Akibatnya kebiasaan belanja tersebut “terpaksa” dikurangi sedikit. Enggak kebayang mereka yang senang sekali mengikuti tren terkini dalam dunia lifestyle, sneakers, dan fashion. Sneakers Air Jordan, Adidas Yeezy, atau Nike x Off-White, susah didapat di Indonesia, jadi harus belanja dari luar negeri. Barang-barang lifestyle Supreme, Champions, Fila dan Off-White misalnya, yang harus didapat dari luar negeri, dalam harga dolar.
ADVERTISEMENT
Jadi jangan heran, kalo rate manggungnya Uya Kuya dan Kahitna melonjak tinggi, setiap kali nongol di tv selalu pake barang Supreme dan Off-White terbaru. Karena tidak mungkin dong, mereka pakai yang kw.
Yang impact-nya paling terasa adalah brand frame sepeda saya. Karena susah sekali mendapatkan pabrik frame sepeda dalam negeri yang mau bekerja sama, demi kualitas yang harus dijaga, kami tetap mempercayakan produksi ke pabrik di Taiwan. Tentunya, harus dibayarkan dengan mata uang dolar. Dari tahun ke tahun sih harga produksinya masih sama, namun konversi dolar terhadap rupiah yang menyebabkan harga jual produk kami diharuskan naik.
Boleh dihubung-hubungkan atau tidak, tapi sebagai keturunan Jawa, Saya diajarkan untuk melihat sisi positifnya. Untung harga makanan favorit saya tidak langsung berubah. Ucapkan kalimat berikut dalam hati, “Menguatnya dolar, tidak berbanding lurus dengan harga nasi padang”, atau boleh ganti dengan menu makan siang favoritmu.
ADVERTISEMENT
Yang saya maksud dengan kalimat di atas adalah, selama mata uang dolar itu tidak terlibat langsung dalam keseharian kita, kecil kemungkinan menguatnya dolar harus bikin kamu panik. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak panik. Karena, “Yang ngomel-ngomel soal dolar naik, belum tentu punya tagihan dolar”.

Yang ngomel-ngomel soal dolar naik, belum tentu punya tagihan dolar

- -

Cek tagihan kartu kredit.
Apakah ada tagihan dalam mata uang asing? Mungkin minggu lalu baru makan siang di New York, makan siang di Washington, dan beli gorengan di Las Vegas?
Cek transaksi keuangan
Sejak menguatnya dolar, harga nasi padang dan warung kopi favorit kamu melonjak naik. Amit-amit, Saya rasa tidak akan langsung seperti itu. Kecuali rendang daging wagyu yang dibeli dari peternakan di Amerika. Atau, biji kopi eksotis dari gunung Yosemite. Nggak kan? Uang tol, uang parkir, ojek online, tidak terpengaruh langsung dengan menguatnya dolar. Jadi sejauh ini masih santai? Ok lanjut.
ADVERTISEMENT
Lihat situasi kantor
Ilustrasi menerima gaji, Bisnis, gajian
Ilustrasi menerima gaji. (Foto: Shutterstock)
Nah ini yang biasanya agak berpengaruh sedikit. Terutama kalau bekerja di perusahaan ekspor-impor. Perusahaan di mana masih menggunakan langsung, vendor yang dibayar menggunakan dolar.
Coba cek akhir bulan nanti, apakah gaji yang didapatkan masih sama? Yang paling berasa adalah apabila terjadi PHK karena menguatnya dolar. TENANG! Perusahaan tidak akan memecat Anda, seorang karyawan teladan yang selalu kerja tepat waktu, dan membuat impact bagi perusahaan. Anda rajin kan? Tidak usah panik.
Bagaimana? Yang panik sudah agak tenangan? Masih banyak hal lain di keseharian kita yang tidak berubah dengan menguatnya dolar. Saya yakin di grup WhatsApp juga sudah beredar infografis perbedaan inflasi 1998 dan 2018 kan?
Dampak sih pasti ada, tapi sifatnya tidak langsung. Semoga obrolan WhatsApp Anda belum berkembang sampai urusan utang negara. Bilang aja “jangan pusingin dulu utang negara, sementara masih ada cicilan rice cooker. Biar Dilan aja yang pusing”.
ADVERTISEMENT
Sampai tahap ini, besar harapan untuk yang tadinya panik, sudah bisa tenang. Dari tahap ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Yang pertama tentu melanjutkan hidup seperti biasa, nontonin debat kusir di twitter, tertawa geli melihat komen “sampah” di Instagram artis-artis, atau kembali browsing-browsing toko online sampai tertidur pulas. Itupun sebelum mukanya kepentok handphone yang terselip jatuh dari genggaman tangan.
Beli produk lokal, tahan nafsu untuk membeli barang impor, tukar dolar ke rupiah, atau menunda jalan-jalan ke luar negeri. Keempat cara tersebut akan lebih efektif membantu negara untuk kembali menguatkan rupiah. Lebih efektif daripada sekedar mengeluh dolar naik (padahal tidak terlalu kena imbas), atau bersorak “ganti presiden” seolah-olah satu orang bisa membalikkan keadaan.
ADVERTISEMENT
Sekali lagi, saya bukan ahli ekonomi, bukan ahli politik, apalagi calon presiden yang seorang diri bisa kembali menguatkan rupiah. Cuma seorang rakyat Indonesia, yang sedang bertahan hidup. Cuma salah satu orang yang percaya, bahwa dolar naik bukan karena Tuhan sedang marah sama Indonesia.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan