Konten dari Pengguna

Denial Syndrome dan Kesehatan Mental

Andita Wahyuning Pramesti

Andita Wahyuning Pramesti

Mahasiswa S1 Gizi Universitas Airlangga

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andita Wahyuning Pramesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dimas Danang dan Rachel Amanda di Lintas Makna. (sumber: youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Dimas Danang dan Rachel Amanda di Lintas Makna. (sumber: youtube)

Kata denial sudahlah tidak asing untuk didengar, secara naluri kita sebagai manusia seringkali memiliki kecenderungan untuk menyangkal terhadap apa yang sedang terjadi. Sebenarnya apa yang dimaksud denial itu sendiri? Secara psikologi denial (penyangkalan) merupakan mekanisme pertahanan yang tidak menyenangkan pada pikiran, perasaan, keinginan, atau kejadian diabaikan atau dikecualikan dari kesadaran sadar. Denial juga sering dijumpai sebagai bentuk penolakan untuk mengakui kenyataan dan melindungi diri dari kecemasan seperti pada penyakit yang diderita, masalah keuangan, kecanduan, atau bahkan perasaan terhadap pasangan.

Pada beberapa kasus yang sering dijumpai, biasanya seseorang yang mengalami hal ini seringkali sedang mengalami hal yang buruk pada kehidupannya. Sehingga denial sering kali digunakan untuk sebagai pelindung agar terhindar dari stress atau emosi yang menyakitkan. Mereka akan mencoba untuk terus mencegah dan menghadapi permasalahan tersebut dengan cara menolak untuk menghadapinya atau bahkan juga mengakui bila ada sesuatu yang salah.

Masuk ke topik pembahasan, sebenarnya apakah denial itu baik untuk kesehatan mental seseorang? Dikutip dari dari akun Instagram @ayankirma, denial dalam jangka waktu yang pendek mampu menghadirkan manfaat, hal ini dikarenakan membuat seseorang memiliki waktu untuk beradaptasi pada kenyataan yang sedang dihadapinya. Tidak hanya itu saja denial juga membantu untuk berpikir lebih logis dan memberi kesempatan untuk menemukan pemecah masalah. Tetapi, bila hal ini terus menerus dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, ini bisa mengakibatkan timbulnya masalah dalam hidup bahkan juga nantinya bisa berdampak terhadap kualitas kesehatan mental karena denial dapat menggerus mental, meningkatkan tingkat depresi, dan dapat membuat seseorang tidak mencintai dirinya sendiri.

Banyak faktor alasan kenapa seseorang sebenarnya sering melakukan penyangkalan dari pada menerima kenyataan, hal ini dikarenakan menyangkal sangatlah lebih mudah daripada mengakui bila ada sesuatu yang salah. Berikut ini beberapa alasan kenapa seseorang sering melakukan penyangkalan diantaranya, seperti ketidakmauan untuk mengambil pusing dengan masalah sulit dalam hidup, untuk terhindar dari berbagai masalah yang sedang terjadi dan, ingin terhindar dari akibat yang timbul dari suatu masalah tanpa harus menghadapi.

Jika kita ataupun seseorang disekitar mengalami atau sedang berada di fase denial berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya diantaranya :

  • Luangkan waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya ditakuti

  • Pikirkan tentang apa yang mungkin terjadi kalau terus hidup dalam penyangkalan

  • Beri ruang untuk memahami perasaan dan ketakutan apa yang sedang dirasakan

  • Tulislah pikiran dan perasaan yang sejujurnya

  • Bicarakan masalah dengan seseorang yang dipercaya atau dicinta

  • Carilah bantuan profesional

Penyangkalan atau denial sebisa mungkin janganlah dijadikan sebagai sebuah kebiasaan. Apabila seseorang disekitar berada dalam fase ini tawarkan diri untuk mendengarkan apa yang sedang dikhawatirkannya. Namun apabila sudah dirasa telah terjebak dalam situasi denial meski telah mencoba keluar tawarkan diri anda untuk menemaninya mencari bantuan profesional untuk lebih membantu.